Masa Awal Jadi Wartawan (1)


Diposting di Group Facebook M Jawa Pos (JP)
Sebagai Obituari di hari wafatnya wartawan senior JP,
Sugeng Irianto, 2 Mei 2011.
------------------------           
            “Kami mau melamar jadi wartawan, Pak,” kata Sugeng Irianto, 29 Juli 1984, di lantai 1 sebuah gedung tua di Jalan Kembang Jepun 171, Surabaya. Di hadapannya, seorang pemuda berpakaian rapi mengamati tamunya dari rambut sampai kaki. Di sebelah Sugeng ada saya, sama-sama berdiri membawa map karton warna biru. Kami berdua diamati pemuda itu.

“Nanti saja kalau sudah lulus melamar lagi, ya,” ujar pemuda itu sambil bangkit dari duduk. Segera, Sugeng memotong, “Tapi kami sudah pengalaman, Pak.” Kalimat ini menarik perhatian dia. “Dari mana?” tanyanya. “Kami berdua dulu sama-sama wartawan Radar Kota,” jawab Sugeng. “Silakan duduk,” ujar tuan rumah. “Lulusan mana?” tanyanya. “Saya sudah tingkat akhir di AWS (Akademi Wartawan Surabaya). Sebentar lagi lulus,” jawab Sugeng. Saya menimpali, “Saya tingkat akhir FISIP Universitas Wijaya Kusuma, Pak.”
            
“Wah, mantan Rako. Payah tuh Rako,” ujarnya. Rako koran kriminal sudah tutup 7 bulan berselang. Dia kembali duduk. “Berapa lama di Rako?” Sugeng: Saya dua tahun, kawan saya ini setahun setengah.
            
“Sering terima amplop narasumber, ya?” tanyanya. Kami terdiam. Tak menduga pertanyaan itu. Kaki sugeng menyenggol-nyenggol kaki saya, tanda dia anjurkan saya bicara. Saya: Kami profesional, Pak. Profesional menolak sogokan. Mendadak dia tertawa. Sugeng ikut tertawa. Hanya saya yang diam. (jiancuk. Sugeng laopo melok ngguyu).
            
“Amplop tidak selalu sogokan, lho. Bisa ucapan terima kasih. Bagaimana?” tanyanya. Sugeng tidak membantu, malah ikut memandangi saya. “Amplop terima kasih harus ditolak. Kami, kalau diterima disini, pasti sudah digaji,” jawab saya. “Masak ikhlas nolak amplop? Yang bener saja,” desaknya. Saya jawab: Kami belum berkeluarga, Pak. Kebutuhan kami hanya untuk membayar kuliah. Dari gaji saja pasti berlebih.
            
“Kalau Anda sudah berkeluarga, berarti menerima amplop? Begitu?,” desaknya. Jawaban saya masih saja menimbulkan celah untuk didesak. Tapi saya sudah siap jawaban: Amplop tetap saya tolak, Pak. Kalau sudah berkeluarga, gaji saya pasti sudah lebih tinggi dari saat awal bekerja.
            
“Mengapa sih anda bersikukuh menolak amplop? Bukankah semua orang tertarik uang?” tanyanya. Saya: “Amplop melemahkan obyektivitas wartawan. Kalau wartawan tidak obyektif, dia sudah tidak lagi berfungsi sebagai social control,” jawab saya menyitir teori dari kampus.
            
Akhirnya, kami dicoba. “Mulai tangal 1 Anda berdua silakan liputan. Kalau dalam sebulan saya nilai tidak memenuhi syarat, Anda langsung keluar,” katanya. Mendadak Sugeng nyeletuk, “Mengapa tunggu tanggal 1, Pak? Sekarang saja kami siap.” Segera ditanggapi,”O, bagus. Siang ini Anda berdua langsung jalan.” Pemuda itu bernama Cholili Ilyas. Jabatan: Koordinator Liputan.
            
Keluar dari gedung tua (kantor pusat Jawa Pos - JP) badan rasanya segar. Debu dan asap knalpot antrean kendaraan di Jalan Kembang Jepun, rasanya wangi. Jadi wartawan Jawa Pos ternyata gampang. Sugeng merentangkan kedua tangan, menarik-nariknya ke belakang seperti gerakan senam. Saya lihat, dia seperti ayam jago yang baru menang sabung. Lihat saja kumisnya begitu tebal.
            
Dia lalu melirik saya. ”Gayamu nolak amplop. Paling, amplop ditolak kecuali isinya,” katanya. Kami tertawa terbahak-bahak. Saya menimpali: “Koen enak, Geng. Gak janji nolak amplop.” Dia menyahut: “Dadi, nek awakmu oleh amplop iso mbok kek’no aku.” Saya tambahi, “Amplop’e gawe awakmu, isine aku.” Kami terpingkal-pingkal.
            
Tapi, setelah sadar bahwa kami masih di halaman parkir kantor JP, yang memungkinkan pembicaraan kami didengar orang dalam kantor, maka kami cepat-cepat kabur memacu motor masing-masing. Saya menuju pengadilan, Sugeng ke UGD RSUD Dr Soetomo. Sorenya kami ke kantor baru itu dengan membawa masing-masing dua berita. Semua berita hasil wawancara, bukan melulu sidang atau kejadian.

Semua berita dipuji Mas Cholili. Saya pakai kode dwo, Sugeng pakai si (Sugeng Irianto). Tapi Mas Cholili tak setuju dengan kode itu. Sebab, “si” bisa dikira mengutip koran Suara Indonesia. Akhirnya Sugeng mengubahnya jadi ir, dan Mas Cholili ok. Itulah hari pertama saya dan ir jadi wartawan JP.

                                                            ***
            Saya kenal ir 1979, sama-sama sering menghadiri seminar di LIA (Lembaga Indonesia Amerika) Jalan Dr Soetomo, Surabaya. Dulu LIA aktif menggelar aneka seminar. Minimal seminggu dua kali dipandu Pelukis Khrisna Mustadjab (alm). Kebanyakan seminar sastra dan musik.
            
Tiap seminar dibuka diskusi bebas. Boleh berdebat total, asal bukan debat kusir. Dari perdebatan, saya kenal ir dan Mujiono (saat itu wartawan Surabaya Post dengan kode – kalau tak salah - mj). Persahabatan kami berlanjut main teater sampai mabok-mabokan segala.
            
1982 Ir memamerkan tulisannya di Rako ke saya. “Iki tulisanku, lho,” ujarnya manggut-manggut, dagu dimajukan. Lalu menghisap rokok dalam-dalam, disemburkan ke angkasa, tangan dibentangkan lebar-lebar. Saya baca, dan saya kagum pada ir.
            
Kini teman saya wartawan semua. Mj dan ir sama-sama kuliah di AWS (kini namanya STIKOSA), hanya mj sudah lulus. “Saiki cuma koen sing dudu wartawan. Padahal, koen mestine iso. Sering juara menulis Cerpen, mosok gak iso dadi wartawan?” ujarnya seperti dia tahu saya gelisah.
            
Ir sahabat yang baik. Dia nyombong dengan tujuan memanas-manasi kawan supaya maju. Saya sudah dipanas-panasi, tapi saya ragu, apa bisa seperti dia? Bayangan saya, wartawan tak hanya menulis. Ada penyelidikan, wawancara, menemui pejabat. Sedangkan menulis Cerpen hanya mengandalkan imajinasi.
            
Tapi, betul ir, mosok gak iso? “Mbok aku dilebokno nang nggonmu, Geng,” ujar saya. Ternyata ir malah senang. “Ayo, sesuk melok aku,” katanya.
            
Pukul 06.00 saya ke rumah ir. Ditemui ibunya, ir masih tidur. Karena saya menunggu, ibunya membangunkan ir. Bangun tidur ir marah ke saya, “Waduh, iki jam piro? Engkok ae jam 10. Muliho dhisik.” Saya balik lagi pukul 09.00 ir sudah siap berangkat. Kami meluncur ke kantor Rako di kawasan makelar mobil, dekat tugu bambu runcing.
            
Tiba di kantor, saya diajak ir masuk ruang Pemimpin Redaksi Zawawi Lematang. Ir membuka bicara, “Pak, ini teman saya berniat jadi wartawan disini,” katanya. Pak Zawawi sangar, suaranya keras. “Pernah jadi wartawan?” tanyanya. “Belum, Pak. Tapi saya siap jadi wartawan,” suara saya keraskan, sebab orang seperti ini biasanya butuh ketegasan. “Apa kamu bisa?” tanyanya. “Saya sering juara menulis Cerpen, Pak. Saya bisa jadi wartawan.”

Siap Fight.
            
Zawawi tertawa keras. “Cerpen yang cinta-cintaan itu? Wartawan tidak cengeng seperti itu. Wartawan harus siap fight,” katanya. Badan Zawawi tinggi besar membuat suaranya ulem. Tidak berteriak tapi keras seperti anak-anak teater yang biasa latihan vokal. “Saya siap fight, Pak. Saya dulu karateka pemegang sabuk hijau,” kata saya, berharap diterima.
            
Zawawi berdiri dari duduknya. Kedua tangannya bersedekap di dada. Saya dan ir sejak tadi berdiri, belum disuruh duduk “Coba, kamu hormat karateka ke saya,” ujarnya.
            
Segera saya membuat gerakan tangan menyilang, lantas hormat membungkuk, “Ossh…” Zawawi kelihatan puas. “Ya, boleh. Kamu minta diajari Pak Yousri (Yousri Nur Raja Agam, saat itu Redaktur Pelaksana) jadi wartawan, ya,” katanya.
            
Kami keluar dari ruang Pak Zawawi. Saya sudah jadi wartawan Rako. Tanpa test, tanpa penjajagan sama sekali. Ternyata Rako memang sangat membutuhkan wartawan.
            
Rako ditutup awal 1984, Pak Zawawi kemudian ditahan karena penipuan dan pemerasan (cocok dengan gaya kepemimpinannya yang ke-preman-premanan). Saya dan ir luntang-lantung (selain kuliah, tentumya).
            
Tapi ir banyak temannya. Dia mengajak saya menemui Kabiro Majalah Detik Surabaya, Andi Rattang. Lagi-lagi ir menolong saya. Dia juga mengajak Agus (alm) mantan wartawan Rako. Kami ber-3 menghadap Andi. Mujur, ketiganya sama-sama diterima, langsung hunting berita. Kami memang sudah pengalaman.
            
Sekitar 7 bulan di Detik, kami ber-3 keluar bersamaan. Kami memang digaji. Tapi, setiap berita kami yang bernilai tinggi, kodenya (inisial di akhir naskah) Andi yang berarti karya Andi. Lalu saya dan ir masuk JP, Agus masuk koran Memorandum. Dia meninggal 1994 saat aktif di Memorandum biro Malang.
            
Ir dan saya pisah tugas, 4 Oktober 1987, karena saya dibuang ke JP Biro Jakarta. Dibuang, sebab dua hari sebelumnya, saya ketiban sial. Saat ngetik berita, Pak Dahlan Iskan (Pemimpin Redaksi JP) berdiri di belakang saya. Ia seperti sedang mengendus. “Kamu mabok, dwo?” tanyanya. ”Tidak, Pak,” saya tegas.
            
“Kamu mabok ini. Wah, sangat bahaya ini,” katanya. Saya berdiri, saya tegaskan lagi, “Saya tidak minum alkohol, Pak.”
            
Pak Dahlan tak menggubris. “Tinggalkan pekerjaanmu. Kamu pulang sekarang,” bentaknya. “Wartawan mabok nulis berita. Koran bisa ditutup, ribuan orang menganggur,” katanya keras. Semua wartawan, termasuk ir, melihat saya meninggalkan kantor dengan lemas.
            
Sejak beberapa waktu sebelumnya, memang sudah diisukan bahwa saya pemabok bersama ir dan Dicky (fotografer). Tapi, tak pernah saya mabok saat tugas.
            
Esoknya, saya diajak bicara Mas Dirman, redaktur saya. “Keputusan JP, kamu harus mundur. Kamu diberi kesempatan memperbaiki diri dengan pindah ke Jakarta, tapi percobaan 3 bulan,” katanya.
            
Saya jawab, “Tapi saya kan sudah diangkat karyawan, Mas.” Dia balas, “Ini keputusan JP. Titik.”
            
Sebenarnya saat itu karir saya sudah habis. Tapi, saya baru dua bulan menikah. Saya baru saja punya tanggungan. Kalau mundur, belum tentu langsung mendapat ganti pekerjaan. Akhirnya, saya memilih dibuang ke Jakarta. Saya obrolkan ini dengan ir. Dia mendukung pilihan saya. Maka, saya ke Jakarta.
            
Sepekan kemudian ir telepon saya di Jakarta. “Dwo, kebenaran terungkap. Bau alkohol itu dari meja Pak Sukur (layouter). Aku wis lapor Pak Dahlan. Aku ngomong: dwo nggak salah, Pak. Ini penyebabnya,” kata ir di telepon.
            
Saya baru ingat, saya pernah melihat botol alkohol 90 % di pojok dekat meja Pak Sukur. Alkohol digunakan layouter untuk menghapus bekas plester yang menempel di plastik bahan dasar layout. Itu pangkal persoalannya. Tapi, ya sudah. Keputusan JP sudah jatuh, dan saya sudah menjalani pilihan. Saat itu saya tentu kecewa. Tapi kemudian saya renungkan, dan berpendapat, keputusan Pak Dahlan tidak salah. Dalam kasus itu pemimpin harus tegas. Catatan yang tak pernah saya lupakan: Ir menolong saya berkali-kali. Dia menolong saya dengan tulus ikhlas.
            
Saya ketemu ir terakhir 2007 saat saya tugas ke Surabaya. Dia mengajak saya menginap di rumahnya. Tapi, karena acara tugasnya pagi dan saya diinapkan di mess IAIN depan kantor supaya tidak telat, saya terpaksa memilih tidur di mess. Kalau tidur di rumah ir, bisa telat karena pasti banyak ngobrol.
            
Setelah kami sama-sama pensiun usia 50, kami masih berkomunikasi. Sekitar 6 bulan lalu dia sms saya. Isinya: Dwo, kawan-kawan mantan, berencana membentuk yayasan eks JP. Tujuannya untuk kesejahteraan bersama. Di sms, humornya masih 'hidup'.
            
Dalam balas-balasan sms kami masih bercanda tentang masa ugal-ugalan dulu. Saya ketawa ngakak membaca sms guyonannya. Tak puas sms, saya telepon dia. Kami lalu bercanda, sehingga bisa ngakak bersama.
            
Beberapa tahun lalu ir berpulang ke Rahmatullah. Tak ada kawan saya seperti dia. Kawan yang ‘memel’ bercanda. Kawan yang mau membantu dengan tulus ikhlas. Malah saya belum sempat membalas semua kebaikannya. "Allah SWT pasti membalas kebaikanmu, Ir. Kamu sudah menyusul kawan kita Agus. Pada saatnya nanti giliran saya."

            Selamat jalan, kawan… Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik untukmu. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.