HEBOH HERCULES di INDO POS 2005 (4-Habis) Akhirnya, Tragedi itu Meletus


Tulisan ini pesanan kawan saya wartawan koran Kompas, akan dijadikan bagian dari buku yang dia tulis. Buku tersebut pesanan Polri. Semoga ada bagian yang bermanfaat bagi kita semua.
---------------------

Hercules mengangkat tangan: “Matikan semua komputer…  matikan semuanya…,” teriaknya lantang. Di belakang dia, ada belasan pemuda, mereka berjalan cepat ke arah kami. Seketika kami terkesiap.

Hercules: “Di bawah sana ada 200 anak buah saya, siap membakar gedung ini.” 

Dia mengatakan itu sambil berjalan ke arah kami. Jarak antara pintu lift dengan tempat kerja kami sekitar 30 meter tanpa dinding penyekat. Seluruh lantai 10 seluas 600 meter persegi tanpa dinding penyekat. Terbagi kelompok Indo Pos dan Jawa Pos. Antar kami bisa saling melihat.

Posisi kami, di meja-meja bundar besar. Satu lingkaran diisi 6 komputer, masing-masing diisi Redaktur, Reporter, saya, dan Pemred. Ada 8 meja bundar. Jika penuh 48 orang. Saat ini kira-kira 30 orang, termasuk 5 wanita Redaktur dan Reporter.

Di seberang sana, sisi kiri lift, kelompok Jawa Pos juga duduk melingkar di meja-meja besar. Jumlah mereka sekitar 30 orang juga. Total di lantai 10 sekitar 60 orang.

Rombongan pemuda mendekat, saya hitung ada 12 orang termasuk Hercules. Rata-rata berbadan tegap, usia sekitar 20 - 30 tahun. Paling tua Hercules sekitar 45.

Mereka berpencar menyebar mendekati kami. Mendadak, Hercules berteriak keras menunjuk seorang Reporter: “Kamu… matikan komputer. Cepat...”

Beberapa detik kemudian, plak…. Bogem Hercules mendarat ke pipi Reporter yang duduk menghadap komputer. Dua orang menambahi beberapa pukulan. 

Teriakan histeris Reporter wanita menyobek suasana. Mampu menghentikan pemukulan itu. Namun, korban sudah terkulai di mejanya. Hercules berbalik, menghardik wanita yang berteriak: “Diam kamu…”

Gebrakan awal Hercules cs ini benar-benar mencekam. Semua diam. Hercules mengenakan jaket hitam dengan resluiting terbuka. Saat jarak saya dan dia sekitar 2 meter, saya lihat di balik jaketnya terselip sebentuk pistol lengkap dengan sarungnya coklat, menempel di rusuk kanan.

Mulailah dia pidato: “Kalian ini orang brengsek semua. Membuat berita seenaknya tanpa wawancara. Anjing semua kalian…”

Dia berkeliling, memandangi mata semua orang satu per satu. Berhenti pada seorang Reporter. “Mana Der? Mana Pemred?” bentaknya. Yang ditanya menjawab: 

“Tidak ada bang.”

“Ngumpet dimana?”

“Mereka tidak masuk, bang.”

“Jangan bohong kamu...”

Plok… tamparan Hercules menerpa pipi Reporter muda itu. Yang ditampar segera menunduk, menutup menyembunyikan wajahnya di meja.

Di arah sana, ada dua korban lain sedang dipukuli. Mereka menggebrak meja, menjatuhkan monitor komputer, memukul siapa pun dari kami secara acak.

Hercules terus keliling, meneliti wajah-wajah kami, termasuk saya. Kemungkinan dia sudah kenal wajah Der. Juga sudah menyebut nama Der. Berarti mereka wawancara. Kini dia mencari wajah itu.

Tragedi berdarah dimulai, ketika Reporter Jawa Pos Suyunus, berjalan menuju toilet. Dia langsung dikeroyok tiga orang. Pukulan bertubi-tubi menghajar wajah. 

Kejadian begitu cepat. Darah muncrat mungkin dari hidung. Mengucur deras. Suyunus beringsut menjauh, namun tetap dikejar, dikeroyok. Darah tercecer dimana-mana. 

Para wanita teriak-teriak histeris. Disusul kami semua berteriak, berdiri. Tapi, Yunus tetap digebuk. Sampai dia jongkok terkulai, lalu menggeletak di lantai.

Munculnya Api Perlawanan

Dari arah Jawa Pos bangkit keberanian. Tiga Reporter muda berdiri bersama-sama, lalu jalan mendekati Hercules pada jarak masih sekitar 10 meter.

Dada saya berdegup. Kami semua menunggu. Jika api perlawanan ada yang memulai, pastilah kami semua bergerak. Baku tempur… Baku tempur....

Namun, Hercules cepat tahu. Saat jarak antar mereka sekitar 5 meter, refleks Hercules merogoh bagian dalam jaketnya. Benar-benar tegang. Saya berdiri memberi kode agar tiga kawan itu balik kanan. 

Untung, teman-teman berbalik, kembali ke kursi masing-masing. Posisi berubah, Hercules kini mendatangi mereka. Berjalan cepat. Berteriak-teriak kesetanan. Tapi….

Kejutan baru datang dari lift. Dua polisi muda berseragam, keluar dari sana. Berjalan tegap mengarah ke Hercules. Inilah, barangkali, akhir dari teror.

Tak tahunya, Hercules menyongsong mereka dengan sangat galak. Pada jarak 15 meter dia menyalak: 

“Mau apa kau? Keluar…” teriaknya sangat keras. 

Hebatnya, para polisi ini tak gentar. Mereka tetap jalan tegap mendekati Hercules. Wajah-wajah mereka memancarkan keyakinan. Cuma suara mereka bersahabat: 

“Sudahlah bang… ayolah kita bicara.”

“Bicara apa? Keluar kau.”

“Kita bicara baik-baik di bawah.”

“Keluar kau,” sambil menunjuk wajah-wajah polisi. 

Jarak antar mereka kini 2 meter. Berdiri berhadapan. Mereka sekitar 5 meter dari saya duduk. Dua polisi ini pasti sudah kebal gertakan. Atas nama hukum, mereka tampak begitu percaya diri. 

Sedetik kemudian, salah satu polisi lebih mendekat lagi ke Hercules, seperti hendak meringkus. Hercules pun berkelit, mundur selangkah, pasang kuda-kuda. Siap menyerang.

Bentrok…. Bentok… dalam beberapa detik lagi.

Cepat kilat, beberapa anak buah Hercules menyeruak. Bersamaan merangsek maju. Merangkul para polisi. 

Dua polisi berusaha berontak, tapi jumlah perangkul terlalu banyak. Tidak terjadi pergulatan. Karena, itu rangkulan melerai. 

Mereka berhasil menggiring polisi mundur sampai masuk lift. Pintu lift ditutup, setelah kelompok Hercules dengan cepat keluar dari lift. Mereka kembali ke arah kami. Memukul beberapa orang lagi.

Akhirnya, ketegangan ini berakhir juga. 

Belasan polisi keluar dari lift. Belasan lagi keluar dari lift satunya. Sekitar 30 polisi mengepung Hercules. Muncul belasan polisi lagi dari lift yang terus naik-turun. Saat jumlah polisi sudah puluhan, Hercules masih teriak-teriak. Tapi sudah dengan gampang mereka digiring masuk lift.

Polisi menggiring mereka tidak bersamaan, sebab kapasitas lift hanya 15 orang. Kelompok itu dipecah tiga-tiga. Masing-masing diapit belasan polisi masuk lift. 

Belasan Truk Polisi Datang

Suasana kembali sepi. Sesama kami saling berpandangan. Sudah sekitar setengah jam kami didera teror. Rasanya seperti berjam-jam lamanya. Terhitung 9 kawan dipukuli. Saya tidak termasuk korban. Paling parah Suyunus, yang sudah sejak tadi beringsut keluar ruangan. Katanya, Yunus sudah dilarikan ke rumah sakit bersama Reporter Indo Pos bernama Dili.

Saya lunglai merebahkan badan ke meja. Saya merasa bersalah. Kawan-kawan bercanda, “Yang dicari Hercules, Pemred, pak… bukan Redpel,” kata seorang teman. Maksudnya, Pemred (Pemimpin Redaksi) Irwan. Redpel (Redaktur Pelaksana) saya.

Beberapa saat kemudian teman-teman turun ke bawah, penasaran ingin melihat suasana. Dari dinding kaca di lantai 10, saya melihat jalanan penuh manusia. Juga, berderet truk-truk polisi, dan masih terus berdatangan. Saya lantas ikut turun juga.

Ternyata Hercules dan sekitar seratus anak buahnya masih di basement. Jumlah polisi sekitar dua kali lipat. Kini Hercules bicara di depan banyak kamera wartawan TV. Saya sempat melihat Hercules menunjuk kamera TV: “Sutanto itu teman saya. Jangan main-main dengan saya,” katanya. Maksud dia, Kapolri (saat itu) Jenderal Sutanto. 

Terbayang, andai bagian ini ditayangkan TV, ditonton rakyat, bisa membuat Jenderal Sutanto terusik. 

Pemred Irwan ketemu saya di basement. Dia terus ditempel beberapa polisi. Saya yakin, Hercules dan anak buahnya tak tahu, bahwa itulah Pemred yang mereka cari. 

Irwan mendekati saya, “Pak, ayo bantu saya melapor ke Polsek,” katanya. Saya menyatakan siap. Tapi, “Saya masih ada kerjaan sedikit. Saya selesaikan dulu, pak,” jawab saya. Pasti, Irwan perintahkan saya mendahulukan pekerjaan.

Pekerjaan saya selesai, Irwan ternyata sudah pulang dari Polsek, bersama teman-teman. Dia menggerutu, karena tak ada yang ditahan. Saya penasaran ingin melihat berkas laporan polisi. Ternyata benar, nama: Hercules Rosario pada kolom agama tertera: Islam.

Kelompok Hercules Ditangkap 

Hari demi hari berlalu. Semua TV nasional menyiarkan terus-menerus berita ini. Pagi, siang, malam. Slot pernyataan Hercules: “Saya teman Sutanto” selalu muncul.

23 Desember 2005 Hercules serta 12 anak buahnya ditahan di Polda Metro. Proses mengangkut mereka ke Polda melalui liku-liku yang benar-benar ulet. Saya duga, ucapan “Saya teman Sutanto” itulah blunder Hercules. 

Pengacara Hercules menyatakan, segera menggugat berita Indo Pos. Katanya, berita itu mencemarkan nama baik kliennya. Saya cermati gugatan itu lemah. Sebab, “Hercules Kini Kian Santun” adalah berita positif bagi narasumber. Hercules dermawan, masuk Islam, menjalankan syariat agama. Semua positif.

Esoknya, pernyataan pengacara Hercules berubah, membatalkan rencana gugatan, karena sudah ada kesepakatan damai kedua pihak. Dia minta penangguhan penahanan kliennya, tapi Polri tak mengizinkan.

Saya heran, mengapa berita tersebut membuat Hercules marah? Jawabnya saya dapatkan sekitar 3 bulan kemudian. Wartawan kami melapor ke saya: “Hercules marah, sebab akibat berita itu dia kehilangan proyek pengamanan di Pantura yang semula akan dipercayakan ke kelompok dia.”

“Apa korelasinya?”

“Dalam berita itu, ‘kan Hercules sudah santun, beragama dengan baik, tidak galak lagi.”

Saya tidak tahu kebenaran info itu. Tapi rasional juga. Yang jelas, rubrik Buah Bibir langsung ditiadakan. Der diungsikan ke kantor pusat Jawa Pos di Surabaya. Selama 6 bulan dia bekerja disana, kemudian dipindahkan lagi ke Jakarta.

Sidang Tanpa Saksi

Dalam BAP ditetapkan 9 saksi korban. Pemred, saya, dan Der tidak termasuk saksi. Saat sidang, kami semua mengantar 9 saksi ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Disana suasananya tak terduga. 

Gedung pengadilan dipenuhi pemuda kelompok Hercules. Jumlah mereka seratusan orang. Mereka terang-terangan, berkeliling mencari kami, bertanya ke semua orang: “Apa kakak saksi dari Indo Pos?” 

Melihat itu, kami langsung pulang bersama. Akhirnya, sidang tetap jalan tanpa saksi korban. Vonis pun dijatuhkan juga, dengan hukuman bervariasi (beberapa bulan) kepada para terdakwa.

Simpul Budaya Taramiti Tominuku

Ada peristiwa human interest di sela kejadian itu. Sehari setelah heboh Indo Pos, adik wanita Hercules didampingi keluarganya mendatangi kantor Indo Pos. Mereka bukan mengamuk, justru minta maaf. 

Kami yang menerima kedatangan mereka, jadi kagum pada wanita ini. Sudah pasti, kami semua memaafkan dengan hati lapang.

Selain minta maaf, dia juga berterima-kasih atas peristiwa ini yang ujungnya membuat Hercules ditahan polisi. “Biar ini jadi pelajaran hidup buat kakak saya,” katanya. 

Dia jelaskan, “Sewaktu kakak saya berniat datang kesini kemarin, saya sudah cegah. Berusaha saya sekuatnya mencegah. Tapi begitulah akhirnya.”

Irwan mengatakan, pihak Indo Pos sudah berdamai dengan Hercules, dan meminta Polda menangguhkan penahanan Hercules dan kawan-kawan. Tapi pihak Polda tidak mengabulkan permintaan Indo Pos.

Dia menimpali, “Sudah,,, kaka. Jangan menyesal. Biar saja kakak saya menerima pelajaran hidupnya,” katanya tersenyum, tegar.

Sungguh kami semua terharu mendengar ucapan tulus adinda Hercules itu. Kami merasakan ada kelembutan di balik sikap keras wanita asal NTT ini. 

Saya yang beberapa tahun kemudian hidup di Kalabahi, Kabupaten Alor, NTT, menemukan karakter serupa wanita ini pada kebanyakan warga Alor. Keras, tapi lembut. 

Simpul budayanya adalah semboyan: “Taramiti Tominuku”. Artinya semua konflik pasti bisa diselesaikan dengan semangat kebersamaan dan kelembutan hati. Torang samua basudara. (Jakarta, 25 September 2014)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.