HEBOH HERCULES di INDO POS 2005 (3) Maka, datanglah Hercules dan 100 Orangnya


Semua profesi pasti punya resiko. Semua profesional pasti pernah dilanda galau. Nah, proses kedatangan Hercules ke Indo Pos yang saya saksikan dan alami, seperti berikut ini.
---------------------------------

Ternyata, tulisan Der pendek saja. Hanya 4 paragraf. Tidak ada deskripsi. Tidak ada pertanyaan menyangkut FBR. Tidak ada Hercules masuk Islam. Tidak ada semua yang dia ceritakan kepada saya tadi. Tulisan kering-kerontang. Apalagi, Der sudah pulang ketika saya sibuk mengedit berita lain tadi. Mati aku.

Tapi, kondisi ini ‘kan sudah saya antisipasi sebelumnya. Saya tulis ulang berdasarkan data dari cerita Der. Ini namanya re-write. Membuat naskah baru, bukan sekadar editing.

Format beritanya positif dalam perspektif narasumber. Artinya, narasumber pasti senang, karena disebut dermawan, beragama dengan baik, dst-dst. Saya berijudul: “Hercules Kini Kian Santun”. Hampir 20 paragraf, berdasar data hasil liputan Der.

Terpaksa,kali ini beritanya tidak serial. Terpaksa berita tunggal. Jelas, tidak sesuai karakter Buah Bibir yang sudah dikumandangkan: Selalu berseri. Tapi, apa mau dikata? Datanya memang minim. Tidak mungkin dipanjang-panjangkan. Andai bermain kata-kata, tanpa dukungan data, kualitas berita jadi hancur.

Juga tidak mungkin saya berbohong (ngarang). Berbohong pasti, seratus persen, ketahuan nantinya. Berbohong berarti menghancurkan bisnis Indo Pos yang investasinya sekitar Rp 300 miliar, dengan jumlah tenaga kerja inti ratusan orang, jumlah agen koran dan loper ribuan orang. Koran bakal bangkrut ditinggalkan pembacanya. Ribuan orang kehilangan pekerjaannya. Saya pasti digantung. Ini bukan sekadar soal moral.

Saya galau total. Merokok-ngopi, merokok-ngopi, perut jadi terasa mual. Disinilah tidak enaknya profesi ini. Stress… stress…stress…

Saat menentukan judul, saya tidak berani mencantumkan seri pertama (1) pada judul. Lalu berharap, besok Der dapat hasil liputan sambungannya (2). Ini namanya spekulasi konyol. Umpama saya tulis seri 1, ternyata besok Der gagal, padahal jelas tidak ada back-up Reporter untuk hunting di medan liputan. Trus apa jadinya? Habis-lah reputasi koran ini. Tamat-lah karir saya.

Malam jadi terasa sangat singkat. Detik-detik bergerak terlalu cepat. Deadline terus mendekat, bagai memanggil-manggil nama saya agar segera kirim naskah untuk dicetak. Pembaca menunggu. Pembaca gak mau tau.

Esoknya, Senin, 19 Desember 2005 berita diterbitkan. Lengkap dengan foto. Jelas, saya kecewa. Tapi mau apa lagi? Memang cuma segini kemampuan saya.

Terbayang, wajah Margiono pasti kecewa. Dia tidak telepon saya, atau belum telepon. Saya hanya berpikir, Margiono adalah wartawan senior, lebih senior dari saya. Semua senior pasti pernah mengalami kegetiran profesi. Kemuraman prestasi.

Saya juga paham, Margiono sedang galau, dihantui telepon damprat dari Bos Besar Dahlan Iskan. Sedangkan, Dahlan juga stress membayangkan reaksi pembaca yang pasti kecewa terhadap berita Hercules tidak bersambung, di rubrik yang seharusnya bersambung.

Dahlan ditekan pembaca, dia menekan Margiono, dilanjut Margiono menekan saya, dan saya mestinya menekan Redaktur (sesuai jenjang). Tapi sejak awal (khusus di rubrik ini) belum ada Redakturnya. Saya Redaktur Pelaksana sekaligus Redaktur, langsung menekan Der. Begitulah tekanan berjenjang-jenjang. Begitulah aliran stress bergulir-gulir.

Hari itu, 19 Desember 2005 senja sudah masuk. Reporter Der masuk kantor dengan gaya lemas. Hasil liputan nihil. Katanya, seharian dia hunting tanpa hasil. Sedangkan sepanjang siang, HP dia tak bisa kuhubungi untuk cek status liputan. Sudah kuduga. Ya… ya… ya… sudah kuperhitungkan.

Andaikan Der dapat lanjutannya, masih mending. Tanpa mencantumkan judul serial (1) pun, kalau konteks berita bisa berlanjut untuk terbitan esok, masih agak lumayan.Tapi sekarang, apa? Sedangkan hari jelang malam, sebentar lagi deadline. Tidak mungkin kerahkan Reporter lain. Tidak cukup waktu, misalnya, saya turun lapangan.

Dari pengalaman, saya pastikan hari ini Der tidak ke lapangan. Mungkin dia takut, mungkin ketiduran. Jika ke lapangan dia pasti dapat wawancara pedagang. Kalau ke lapangan dia dapat deskripsi wilayah kekuasaan Hercules. Di lapangan bisa digali: Benarkah FBR masuk wilayah itu? Kapan? Wilayah yang mana? Pernahkah terjadi ketegangan? Bagaimana kelanjutannya?

Anda bebas bertanya, sepenting itukah berita ini diburu?

Jawabnya, berita ini menyangkut kepastian hukum terkait bisnis. “Kepastian hukum” adalah barang yang “kadang ada – kadang tidak” di Indonesia. Kadang pasti, kadang tidak. Di suatu perkara, pasti. Di perkara lain, tidak. Tergantung…

Sementara, dalam perspektif global “kepastian hukum” bersifat mutlak. Investor dunia akan ragu menginvestasikan dananya ke Indonesia, jika tidak ada kepastian hukum. Sebab bagi mereka, kepastian hukum melekat dengan biaya produksi. Kalkulasinya, biaya pengamanan yang berlapis-lapis akan dibebankan ke biaya produksi. Akibatnya harga jual produk jadi tinggi. Dijual di pasar dunia jadi tidak kompetitif (kemahalan) dibanding produk China, Korea Selatan, bahkan Thailand yang mestinya di bawah Indonesia.

Kalau begitu, investor lokal saja. Ya, apa bedanya? Tetap kena pengamanan berlapis-lapis, biaya tak terprediksi, dibebankan ke biaya produksi, harga jual produk kemahalan, tidak laku di pasar global, devisa tidak masuk.

Terpuruk-lah Indonesia. Termehek-lah kita. Sejak Indonesia merdeka hingga sekarang. Sejak sekarang sampai, entah, berapa puluh tahun lagi.

Apakah ini kesalahan Der? Tidak juga. Sarjana FISIP UI itu sudah berkarya. Berbekal lolos seleksi dari ratusan sarjana calon wartawan Indo Pos  (saya ikut menyeleksi, awal Februari 2003) dia sudah berjuang. Berbekal gaji Rp 1,2 juta (saat itu) dia sudah memberani-beranikan diri menantang tugas maut.

Pemuda ini sudah berbuat baik untuk bangsanya. Otomatis berarti baik pula untuk akhirat-nya.

Saya ajak Der ngobrol soal-soal lain. Kami merokok di tangga darurat  lantai 10 Graha Pena. Saya kecewa, dia pun sama. Berkali-kali dia minta maaf. Suasana serba tidak enak. Kaku. Saya tidak perlu marah, sebab tidak akan membantu.

Dia janji besok akan berusaha keras wawancara dengan pihak FBR. Minimal, wawancara dengan pedagang Tanah Abang. Saya, iya-iya saja.

Tragedi…Oh, Tragedi

Tak dinyana, esoknya (20 Desember 2005) jelang Maghrib di kantor menyebar kasak-kusuk. Konon, ada telepon dari Hercules marah-marah.  Karyawati front desk yang bertugas menerima telepon, sudah pulang, sesuai jam kantor.

Akibatnya, telepon Hercules marah ditutup begitu saja oleh siapa pun pengangkat telepon.Terjadi berkali-kali. Dering… gagang diangkat, Hercules marah, ditutup. Begitu lagi-begitu lagi. Penerima telepon berganti-ganti, karena saluran sistem hunting, sehingga bisa diangkat dari meja mana saja, oleh siapa saja.

Akhirnya, kawan penerima telepon berikutnya tengok kiri-kanan dan melihat saya: “Pak Dwo, ini ada telepon soal berita, pak. Orangnya marah-marah.”

Saya pun meminta dia memindahkan saluran ke meja saya.

“Selamat malam… bisa saya bantu?”

“Siapa ini?”

“Maaf, dengan bapak siapa ini?”

“Siapa kamu, apa jabatanmu?”

“Ini dengan Djono, Redaktur Pelaksana.”

“Mana Pemred? Saya Hercules.”

“Bapak Pemred sedang keluar kantor. Ada yang bisa saya bantu, bapak?”

“Saya tidak bicara dengan kamu. Mana Pemred?”

Sementara, di latar belakang telepon terdengar teriakan-teriakan: “Kita bakar saja. Kita bakar kantornya…” Kemudian hubungan terputus sendiri.

Segera saya dekati Pemred Irwan Setiawan, melaporkan bahwa Hercules protes. Saya menyarankan, sebaiknya segera telepon minta bantuan polisi. Firasat saya, Hercules bersama kelompoknya bakal datang.

Irwan kaget, memandang tajam ke saya: “Apakah berita Der benar, hasil wawancara?” Saya yakinkan: Benar, hasil wawancara. Ada fotonya pun dimuat.

“Kalau begitu tenang saja, pak. Tidak perlu panik.”

“Baik, kita harus tenang.”

Tapi, saya tetap telepon ke HP Der. Diangkat. Memastikan: “Benarkah anda wawancara Hercules, Der? Dan isinya seperti yang anda ceritakan ke saya?” Jawabnya, dia pastikan semuanya benar.

“Ya sudah, anda jangan ke kantor. Juga jangan pulang ke rumah. Menginap-lah di rumah kawanmu.”

“Emang kenapa, pak?”

“Hercules baru telepon marah-marah. Kayaknya mereka akan datangi kantor kita.”

Sepi sejenak, lalu… suara Der berubah serak: “Pak Dwo, sih… sebut dia masuk Islam. Saya kan tidak tulis itu, pak. Waktu wawancara, dia bilang soal agama tidak perlu…”

Plaaas… jantung saya berdebar cepat. Ternyata ada bagian off the record. Tidak diceritakan Der ke saya kemarin. Mungkin dia tidak tahu, yang begini masuk pelanggaran etik off the record. Saya pun lupa menanyakan ke dia soal kemungkinan ada ini. Saya anggap dia sudah paham.

“Sudahlah Der… jangan ngantor dulu beberapa hari, sampai saya telepon lagi.”

“Baik, pak.”

Ketika saya telepon, sekilas saya lihat Irwan masuk lift, meninggalkan kantor. Bagus, semoga dia menghubungi polisi sebagai antisipasi.

Akhirnya, datanglah rombongan Hercules.

Saat pintu lift terbuka, menghambur banyak pemuda, langsung bergerak ke arah kanan (Indo Pos, sedangkan ke kiri Jawa Pos). Mereka tahu arah, sebab ternyata petugas security kami (dari lantai dasar) mereka seret. Kerah kemeja security dicengkeram, ditarik seorang pemuda. Benar-benar pemandangan mengejutkan. Menyedihkan. Menakutkan. (bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.