HEBOH HERCULES di INDO POS 2005 (2) Ah…Layu Sebelum Berkembang


Seri yang ini agak teknis, memaparkan dapur media. Tapi, gak rumit, kok. Gampang. Sueeer… Jangan lupa, saya ‘kan konsultan media. Bisa mengurai hal yang rumit. Awas… Hercules datang….
-----------------------


Tidak pakai lama. Tiba di kantor, saya koordinasi dengan beberapa Reporter dan memberi mereka penugasan. Liputannya ya itu tadi, pedagang kaki lima Pasar Minggu yang sudah saya laporkan ke pak Mg.

Saya memilih dua Reporter yang kelihatannya bisa diandalkan untuk liputan investigasi. Ciri-2nya: Cerdas, berani, militan, dan kelihatan menyukai profesinya. Berdasar pengalaman saya, biasanya wartawan jenis ini berpenampilan agak kumuh, bandel (suka protes), sering gak mandi (sebab gerak cepat), sok akrab (punya fleksibilitas sosial), kulit gelap (sering kepanasan),

Kriteria itu ada pada dua Reporter yang saya pilih. Mereka juga menyatakan, siap. Nama mereka tak perlu disebut, sebab saya punya alasan tersendiri. Dan, rincian tugas langsung saya jelaskan pada mereka.

Saya:“Sekarang anda berangkat kesana untuk melihat suasana malam dan pasokan listrik. Besok anda (Reporter lain) wawancara ke berbagai pihak, sesuai planning. Beritanya bentuk bersambung, akan dimuat mulai lusa.”

Malam itu juga, Reporter 1 yang tugas pengamatan sekaligus wawancara pedagang, begerak ke lokasi. Besok, Reporter 2 wawancara dengan berbagai pihak terkait. “Selamat bertugas… Masyarakat menungu karya anda berdua,” kata saya, jelang mereka berangkat.

Saya amati, wajah para Reporter kami ini bangga menerima perintah tugas. Memang harus begitu. Wartawan harus bangga menerima tugas-tugas menantang. Masyarakat berharap mereka mengungkap sesuatu. Profesi ini tergolong profesi anggun.

Ternyata, hasil liputan Reporter sesuai TOR (Term of Reference). Melegakan sekali. Tak salah lagi, mereka memang wartawan investigasi. Hasil liputan langsung muat. Seri pertama, esoknya seri kedua.

Pada hari kedua pemuatan (seri kedua) Margiono menelepon saya di kantor. Dia memang tidak selalu di kantor. Toh, hasil kerja jurnalistik itu terpantau siapa saja dan dimana saja.

Margiono di telepon mengatakan singkat: “Mantap. Sudah kuduga, mantap… Pertahankan kualitas berita ini, dan terus ditingkatkan, Dwo.” Sungguh-sungguh melegakan.

Tapi, esoknya dua Reporter yang dikhususkan rubrik ini datang ke saya, mengeluh semuanya. Mereka merasa terlalu berat.

“Kalau begini terus kami tidak kuat, pak.”

“Wartawan yang bener kerjanya memang begini.”

“Teman-teman lain enak-enakan, pak.”

“Ada evaluasi. Karir dan gaji anda berdua masuk jalur cepat.”

“Mending saya balik ke pos sebelumnya aja,” ujarnya. Yang satu lagi mengangguk, tanda sepakat dengan temannya.

Saya coba nego: “Wartawan itu profesi, bukan pekerja yang bersifat mekanis. Profesi ini anggun dan mulia. Yang sudah anda hasilkan inilah karya jurnalistik.”

Mereka diam.

Lalu, Reporter 1: “Saya balik ke pos lama aja, pak.” Reporter 2 pun idem. Dan, mereka berdua menghindari pembicaraan lebih lanjut. Pergi ke Redaktur mereka yang lama. Mereka keukeuh.

Sejatinya, mereka berdua saya pilih karena kelihatan benar-benar bangga jadi wartawan. Usia mereka masih sekitar 25 – 27. Generasi baru. Bak matahari baru terbit. Kini mereka bagai layu sebelum berkembang. Aduh…

Tapi, saya mengalami, liputan investigasi memang berat. Bukan saja berat karena mereka pasti diancam-ancam pedagang kaki lima yang merasa terusik posisinya. Atau, ngeri pada preman yang diwawancarai secara terselubung. Kamuflase. Atau, menemukan kenyataan tidak sinkron antara hasil pengamatan bahwa ada pungutan liar, sedangkan pejabat berwenang tidak mengakui. Padahal, wajib konfrontir. Pun, tidak enak berhadapan dengan aparat, sebab wartawan jenis ini dinilai tidak bersahabat.

Bukan. Bukan karena itu semua. Melainkan, saya dulu juga mengalami, betapa gampangnya liputan non investigasi. Duduk manis di suatu pos tertentu, misalnya, Pemprov DKI.

Ada ruang Humas yang disediakan komputer untuk mengetik.

Ada press release yang dikeluarkan berkala, terus menerus. Tinggal diketik ulang, ubah dikit disana-sini, jadilah berita.

Jika ketemu pejabatnya (misal gubernur) bisa ngobrol kayak temannya sendiri.

Wawacara tinggal sodorkan recorder di dekat mulutnya, tak perlu banyak tanya.

Apalagi jika wawancara diliput TV dan wajah saya (dulu) tak sengaja masuk dalam frame kamera. Alamaaak… Bisa ditonton keluarga, kerabat, teman, tetangga, siapa pun yang sedang nonton TV. Prestise. Serba glamour, serba menyenangkan.

Belum lagi ada pembagian amplop (berisi uang) secara berkala, tanpa kita minta. Andai ditolak pun dipaksa menerima. Dapat pula pembagian jatah beras, gula, sembako, yang kalau tidak suka bisa juga dijual.

Sebaliknya, wartawan investigasi serba pahit. Inilah bentuk liputan yang mengendap-endap. Jongkok mojok di gelap malam, menggambar skema situasi (Contoh: liputan di Pasar Minggu itu). Sama sekali tidak merasakan gemerlapnya sebuah profesi yang– sudah saya katakan sendiri - anggun.

Sementara, gaji wartawan investigasi dengan wartawan ngepos: Sama saja.

Jika saya katakan kepada Reporter tadi bahwa karir wartawan investigasi masuk jalur cepat, itu hanya trik saya membujuk mereka. Tujuannya: Produk koran bagus, masyarakat pembaca senang, dan profesi ini memang benar anggun.

Sayang, Reporternya sudah mengerti, tidak ada keadilan di dua jenis tugas wartawan ini. Mungkin, dalam benak mereka begini: “Enak di die (wartawan non investigasi), goblok di gue, dong…”

Ilustrasi: Jawa Pos dulu berjaya, sebab Reporter yang menolak penugasan, berarti karirnya tamat. Dikondisikan sedemikian rupa, sehingga dia tidak nyaman lalu mengundurkan diri. Alhasil, muncul Reporter investigator, mungkin karena terpaksa. Mungkin pula, memang disitulah dia menemukan kesenangan berkarya.

Komparasi antara Jawa Pos (saat berjuang tumbuh) dengan Indo Pos (kini) adalah a-simetris, tak bisa diperbandingkan. Kedua media ini hidup di zaman berbeda.

Dulu, tidak banyak media massa, sebab dibatasi rezim Orde Baru. Reporter tidak punya banyak pilihan pindah media. Jika wartawan mendapat tekanan tugas, kebanyakan menurut, melaksanakan tugas, ikhlas-tidak ikhlas.

Kini jumlah media massa terus tumbuh. Wartawan sulit ditekan penugasan. Terbukti, sudah banyak wartawan Indo Pos yang - sedikit saja - diberi tekanan tugas, langsung pindah media. Repotnya, jika wartawan resign, atasannya dicurigai melakukan sesuatu yang tidak fair oleh atasannya lagi.

Dan, saya tak berdaya mengubah sistem. Bukan kapasitas saya mengubahnya.

Ditemukan: Reporter Slonong Boy

Kendati begitu, saya tidak boleh menyerah. Beruntung saya temukan Reporter yang agak ugal-ugalan. Usianya 25 tinggi sekitar 175 Cm, gagah, suka bercanda, berlogat Betawi.

Dia semula Reporter di rubrik lain. Tulisannya kurang bagus, tapi militansinya tinggi. Dia saya ajak ngobrol dulu sebelum saya rayu masuk rubrik Buah Bibir. Akhirnya dia mau. Inisialnya Der.

Sedangkan, hasil liputan sebelumnya (serial PK-5 Pasar Minggu) agak saya olor pemuatannya sampai saya menemukan Reporter Der. Supaya tidak kosong berita di masa transisi. Pembaca tidak mau tahu problem internal media. Mereka beli koran, mereka bayar.

Kini bersama Reporter Der. Liputan berseri berikutnya adalah liputan tentang pengamanan tidak resmi (premanisme) Tanah Abang.

Pengamanan/perlindungan masyarakat yang mestinya mutlak wewenang Polri, sudah puluhan tahun diambil sedikit oleh preman. Ketua pemuda pengamanan disana: Hercules. Konon kabarnya, wilayah pengamanan Hercules diminta paksa oleh kelompok FBR. Benarkah? Jika benar, betapa bisa wewenang tidak resmi diperebutkan? Investigasi… investigasi…

Mendengar uraian tugas, Der merenung, manggut-manggut. Lantas dia bicara pelan: “Saya usahakan deh, pak.”

Saya minta kepastian: “Jawabanmu mestinya: Bisa. Saya menunggu hasil liputanmu, Der. Hasil kerja kita ditunggu Pak Margiono,”

Dia manggut-manggut tanda setuju. Esok hari mulai liputan.

Esoknya, jelang petang Der masuk kantor dengan wajah gembira. “Dapat semuanya pak,” katanya, begitu dia melihat saya di kantor. Sudah kuduga, pemuda ini punya potensi jadi wartawan investigator. Gayanya ‘slonong boy’. Suka nyelonong, sok akrab, gaul, Memudahkan dia beradaptasi di medan liputan yang tidak mapan.

“Siapa narasumbermu, Der?”

“Hercules sendiri pak.”

“Anda temui dia dimana?”

“Saya cari tahu, akhirnya saya temukan di acara. Ini ada fotonya, pak,” ujarnya menyodorkan foto di layar kamera dia. Luar biasa.

Sebelum dia mengetik beritanya, dia saya ajak ngobrol dulu tentang hasil liputan itu. Saya tahu, tulisan Der kurang bagus. Sebagai antisipasi, saya harus paham sepenuhnya hasil liputan dia. Andai dia menuliskannya dengan tidak elok, maka saya akan mengubah total (re-write) naskahnya. Tidak sekadar editing.

Dia ceritakan dengan penuh semangat, Hercules orangnya dermawan. Membantu uang ke beberapa yayasan sosial dan orang-orang yang membutuhkan. Siapa pun yang butuh bantuan, pasti Hercules membantu. Ditanya tentang kekuasaan dia dan anak buahnya di Tanah Abang, dia menghindar. “Jangan sebut saya preman-lah,” ujar Der menirukan Hercules.

Sebaliknya, belum lama ini Hercules masuk Islam, dibaiat kiai di Cirebon. Juga, dia laksanakan syariat agama dengan baik. “Pokoknya dia sudah tobat, pak. Maklum, dia sudah cukup tua untuk ukuran preman,” ujar Der. Saya tahu, ucapan dia yang terakhir itu opini Der dari hasil interaksi dia dengan narasumber. Soal masuknya FBR di wilayah Tanah Abang, Hercules tidak hiraukan. “Silakan saja,” ujar Der menirukan narasumber.

Dari hasil obrolan saya dan Der, saya sudah punya frame beritanya. Data sangat minim. Belum ada pengamatan kondisi di Tanah Abang. Belum wawancara dengan pihak FBR. Belum wawancara dengan para pedagang wilayah itu soal Hercules dan FBR. 

Belum tergambar, bagaimana pembatasan wilayah pengamanan mereka? Juga, bentuk pengamanan itu seperti apa? Menangkal ancaman pengacau keamanan dari siapa? Berapa sih besar uang pengamanan masing-masing pedagang?

Tapi, sudahlah… kalau Der ditekan, dia bakal kabur juga. Hasil ini saja sudah maksimal bagi dia. (bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.