Heboh Hercules di Indo Pos 2005 (1)


Tak diduga, rapat akbar koran Indo Pos, 15 Desember 2005, berujung petaka. Rapatnya biasa saja. Malah cenderung membosankan. Tapi efeknya, sekitar seratus pemuda pimpinan Hercules, penguasa Tanah Abang, Jakarta Pusat, mengamuk. Menyerbu,memporak-porandakan kantor koran itu.

---------------------------


Tak kurang, sembilan wartawan Indo Pos dan Jawa Pos (satu grup) dihajar pukulan dan tendangan. Dua wartawan menggelepar, dilarikan ke rumah sakit. Salah satunya,tulang hidung remuk serta bermandi darah. Jadilah heboh nasional di semua televisi sebagai: Premanisme terhadap pers.

Padahal,rapatnya monoton. Semua peserta ngantuk, dihembus AC di meeting room Hotel Ibis, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Terpekur, sebab semua merasa sepertidiadili oleh ketua rapat, Direktur Indo Pos Margiono (kini Ketua Persatuan Wartawan Indonesia - PWI).

Maklum,sejak Indo Pos berdiri 25 Februari 2003 (hampir 3 tahun sampai saat itu) tirasnya tidak pernah naik.  Cetak awal 50 ribu eksemplar, laku tak sampai separonya. Waktu bergulir, tingkat laku terus turun bertahap. Terpaksa volume cetak dikurangi bertahap pula. Iklan pun sepi. Bahwa rapat digelar mewah di hotel, itu hasil barter iklan, bukan sewa tempat.

Ketua rapat Margiono: “Kunci pendapatan iklan ada di besarnya tiras. Dan,satu-satunya tumpuan tiras adalah berita berkualitas.” Suara Margiono lantang memenuhi ruang. Semua diam, semua membisu.

Dilanjutkan:“Kalau dibalik: Berita jelek, koran gak laku, tiras merosot, otomatis iklan jadi sepi. Pendapatan mengecil. Sebaliknya biaya naik karena harga kertas terus naik,dan anda semua harus naik gaji akibat inflasi. Akhirnya Indo Pos ditutup. Bangkrut.”

Sepi lagi. Hening lagi. Sebab kata-kata itu tak terbantahkan.

Pemimpin Redaksi, Irwan Setiawan, menunduk memandangi koran di meja. Redaktur Pelaksana,Djono W. Oesman (saya) pura-pura sibuk mencatat. Belasan Redaktur takzim terpekur. Puluhan Reporter tampak khusyuk, entah apa yang mereka pikirkan. Belasan tim marketing iklan, malah memandangi para Reporter, mungkin sebab ucapan Margionotadi: “Tumpuannya di berita berkualitas.”

Diungkap, Detil Kelemahan Redaksi

Sebenarnya, manajemen redaksi sudah ditata rapi oleh Bos Besar Jawa Pos, Dahlan Iskan (mantan Menteri BUMN). Indo Pos anak perusahaan koran Jawa Pos (berpusat di Surabaya).Jawa Pos adalah koran tidak laku pada awal 1980-an, lantas dibeli Majalah Tempo pada 1982. Dahlan yang semula wartawan Tempo dengan jabatan Kepala Biro Jatim, ditugaskan jadi Pemimpin Redaksi Jawa Pos.

Jawa Pos, bermula dari tiras sebecak (koran keluar dari percetakan cukup diangkut becak) pada awal 1980-an. Kemudian berkembang. Di pertengahan dekade 1990-an Jawa Pos bukan saja untung besar, tapi sudah mengambil-alih puluhan media cetak di berbagai daerah.

Lantas Jawa Pos membangun puluhan gedung tinggi (semua diberi nama Graha Pena) di kota-kota dimana media cetak anak Jawa Pos berada. Membangun juga puluhan percetakan dikota-kota itu. Mendirikan pabrik kertas di Jatim. Dan, pada saat peristiwa ini (2005) media cetak anak Jawa Pos berjumlah 163 perusahaan, termasuk Indo Pos.

Ada perjuangan besar di Jawa Pos. Ada pergulatan manajemen redaksi yang luar biasa ulet disana.

Sementara,Margiono adalah wartawan andalan Jawa Pos yang memulai karir jurnalistiknya disana sejak 1982. Saat peristiwa ini (2005), dia merangkap Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka, koran anak Jawa Pos juga di Jakarta.

Pemimpin Redaksi Indo Pos, Irwan Setiawan, semula wartawan andalan Jawa Pos di JawaTengah. Sedangkan saya, wartawan Jawa Pos yang memulai karir jurnalistik disana sejak 1984.

IndoPos juga dikawal sangat ketat oleh jurnalis andalan Jawa Pos, Slamet Oerip Prihadi. Dia wartawan Majalah Tempo pada 1980-an, lantas ditugaskan Tempo mendampingi Dahlan memimpin Jawa Pos pada 1982 yang akhirnya sukses. Di IndoPos, dia berperan sebagai konsultan redaksi, sekaligus mendidik Redaktur dan Reporter Indo Pos.

Dilevel tengah jajaran redaksi (belasan Redaktur) memang bukan jurnalis Jawa Pos. Tapi mereka jurnalis pilihan dari koran anak-anak perusahaan Jawa Pos dari berbagai provinsi. Kami menyebut penarikan mereka ke Jakarta sebagai BKO (Bantuan Kendali Operasi, meniru istilah di militer, bertujuan memacu semangat militansi jurnalistik mereka). Sedangkan para Reporter semuanya direkrut dari Jakarta.

Jadi, peserta rapat yang ngantuk itu tadi, adalah para ahli di bidang redaksi. Ironisnya,kelemahan Indo Pos justru di produk redaksi: Berita. Itu membuat Bos Dahlan marah setiap hari. Sampailah puncaknya pada rapat ini. Tapi Dahlan tidak ikut dalam rapat.

Margiono,barangkali merasa percuma marah berkepanjangan, lantas mulai membuka dialog.“Ayo… siapa punya pendapat, bagaimana caranya kita bangkit?”

Tak ada yang menyambut. Suasana tetap beku. Satu per satu saling memandang, seolah menunggu temannya bicara. Kok malah seperti siswa SD ketika ditanya gurunya. Tengok kiri, tengok kanan.

Saya menduga, justru karena mereka ahli jurnalistik membuat mereka grogi berpendapat. Sebab, problemnya rumit. Jika bicara asal, lalu salah, bisa memalukan.

Margiono meminta para Reporter bicara. Merekalah ujung tombak produksi berita.

Saya merasa, Margiono masih menghormati level atas redaksi, dengan tidak‘memaksa’-nya bicara. Mestinya level atas dulu yang ‘dipaksa’ bicara. Sebab ada pameo: Tidak pernah ada bawahan salah. Jika kinerja suatu tim hasilnya jelek, maka yang salah adalah komandannya.

Ataukah, Margiono sengaja memancing level atas berpendapat dengan cara menggelitik level bawah bicara? Atau, mungkin sebenarnya dia sudah punya solusi, tapi masih ingin mendengar pendapat lain? Kita lihat saja.

Ternyata, para Reporter gampang saja buka mulut. Mereka menyampaikan aneka pendapat yang intinya: Mereka selalu siap, dan merasa sudah berjuang maksimal di lapangan. Jika masih jelek, mohon diarahkan (atasan mereka adalah Redaktur).

Pemred Irwan berpendapat, rubrikasi yang ada sudah rapi, karena merupakan hasil perumusan tim ahli yang dipimpin Dahlan Iskan. “Tapi, memang dalam aplikasinya ada kelemahan disana-sini yang harus kita perbaiki,” katanya.

Pernyataan Irwan, persis sama seperti yang dipikirkan Margiono. Sebab, pendapat itu disambut Margiono begini: “Karakter berita di beberapa rubrik kurang tajam dan labil. Ada yang kurang jelas, ada yang suka berubah-ubah, ada yang kualitas beritanya jelek sekali.”

Margiono menilai, rubrik-rubrik untuk konsumsi pembaca wanita dan remaja sudah berkualitas lumayan bagus. Juga, rubrik yang memancing masuknya iklan seperti rubrik bernama Society, penataan disainnya bagus. “Hanya materi berita masih kurang tajam,” ujarnya.

Kelemahan utama pada rubrik-rubrik konsumsi pria. Misal: Politik, ekonomi, kriminal, perkotaan. “Jadinya, koran kita ini terlalu kewanita-wanitaan, terlalu lifestyle, berkesan lembek, kurang greget,” tuturnya. Diskusi mulai marak bersahut-sahutan. Semua memperbaiki rubrik. Semua berupaya keras agar koran ini tidak ditutup.

FormulasiObat Buah Bibir

Mendadak, Margiono menyebut nama saya. “Harusnya ada rubrik unggulan yang tidak ada di koran lain, tapi terkesan galak. Saya tahu, mas Dwo (inisial saya) bisa membuat formulanya,” kata Margiono.

Saya bereaksi: “Siap, pak Mg (inisial Margiono). Segera saya buatkan formulanya.”

“Bagaimana kira-kira gambarannya?”

“Tentu, bentuk liputan investigasi.”

“Nah…investigasi pasti menarik. Tapi yang galak lho, ya.”

“Siap, pak.  Mungkin space rubrik tidak sebesar se-halaman. Kecil saja, isi satu-dua berita, tapi bersambung.”

“Itu cocok, sebab tugas investigasi sangat berat. Beri nama rubrik: Mbeling atau apalah yang galak gitu.”

Dari beberapa kali dia menyebut kata “galak”, saya paham, maksudnya berani mengungkap suatu persoalan di masyarakat yang semula kurang terungkap. Mirip berita-berita Rakyat Merdeka yang dia pimpin: Agak menyerempet bahaya, tapi tetap pada koridor etik jurnalistik. Sungguh, tugas yang tidak gampang.

“Namanya apa Dwo?” desaknya.

“Nama Mbeling bagus, pak. Cuma itu bahasa Jawa, sedangkan kita di Jakarta,” jawab saya basa-basi.

“Yasudah, pokoknya terserah anda-lah… yang penting koran ini jangan terlalu lifestyle begini.”

Usai rapat, jelang senja, saya sudah menemukan bentuknya. Rapat formal selesai, kami ngobrol berdua. Saya jelaskan ke Margiono: Isinya adalah berita tentang aneka persoalan di masyarakat yang selama ini kurang dibuka ke publik.

Contoh: Pedagang kaki lima di sekitar Terminal Pasar Minggu, sudah puluhan tahun berdagang di badan jalan. Jelas, itu melanggar aturan. Tapi kok bisa bertahan puluhan tahun? Mereka bayar berapa? Kepada siapa saja? Bagaimana cara bayarnya? Bagaimana mereka bisa dapat pasokan listrik di malam hari? Konon, titik lokasi berdagang (badan jalan) yang sudah dikuasai seorang pedagang, bisa dijual-belikan.

Wawancara dengan pedagang, lurah, camat, walikota, preman, Satpol PP, polisi, TNI, Dan, yang penting, wartawan selain wawancara juga nongkrong di lokasi agar bisa menggambarkan segala sesuatu yang terjadi. Deskripsi semua kejadian disana.“Rubriknya saya beri nama Buah Bibir, pak. Artinya, aneka persoalan yang jadi buah bibir masyarakat ,” lapor saya. “Semoga ini jadi obat redaksi.”

Margiono mengangkat tangan kanan, berniat tos. “Mantap. Kita tos,” ujarnya. Tangan kamipun beradu, plok…

Dia: “Bagus itu. Tapi, pertahankan agar kontinyu dan kualitasnya tidak turun,”katanya.  Saya mengangguk. Kami semua bubar, meninggalkan hotel, kembali ke kantor di Jalan Kebayoran Lama 12, Jakarta Selatan. (bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.