FRAGMEN NOVEL 728 HARI : Siapa Belum Tau Lupus? Begini, lho...


Berikut fragmen novel kisah nyata 728 Hari. Memaparkan penyakit lupus versi novel. Penulis novel ini takjub terhadap lupus. Bukan karena penularan, bukan virus, bukan keturunan, ilmu kedokteran pun belum bisa menjawab akurat. Trus... karena apa?
-------------------
“Eva kena Lupus, Bu.”
Hanya kalimat begitu pendek. Sudah. Selesai.
Sugiarti tak menduga sedemikian singkat. Tidak ada kejutan. Tidak ada arti apa-apa baginya. Malah membingungkan.
“Penyakit apa itu, dok?” dahinya mengernyit.
“Bagi masyarakat kita, penyakit ini memang belum dikenal.”
“Semacam apa? Apakah itu berat? Adakah obatnya?”
Pertanyaan beruntun meluncur deras. Muntah bagai lahar gunung api, meluber kemana-mana.
Dokter berdiri, jalan mendekati patung manusia di sudut ruangan. Pandangan Sugiarti mengikuti. Rasa penasaran, sedih, kecewa, khawatir, takut, menyergap bersamaan.
“Tubuh semua manusia memiliki zat imunitas. Disebut juga anti-bodi. Beredar di seluruh tubuh bersama darah,” jelasnya, sambil menunjuk bagian-bagian organ dalam patung.
Gunanya untuk menangkal semua benda asing atau racun yang masuk ke tubuh melalui berbagai jalan.
Racun masuk melalui makanan, melalui pori-pori kulit, atau udara yang kita hirup, bahkan saat mata kita klilipan, juga saat gigi kita slilitan. Racun adalah virus, bakteri, kuman, hanya bisa dilihat melalui mikroskop.
Zat imunitas secara kodrati, diciptakan Allah yang langsung dan otomatis mengenali racun bagi tubuh sebagai musuh dia. Begitu dia tahu ada racun masuk, langsung dilakukan penangkalan, dilakukan serangan. Sehingga tubuh kita terlindungi.
Zat ini juga mendeteksi tumor sebagai musuh. Karena, sel tumor punya antigen yang berbeda dengan sel normal, sehingga zat imunitas mengenali sebagai musuh. Maka, sel tumor dihancurkan zat ini.
Zat ini tidak pernah istirahat meskipun kita sedang tidur, sejak kita lahir sampai mati. Zat ini berperang dahsyat demi kita setiap detik, tanpa memberitahu kita. Sehingga kita lupa berterima kasih kepada pemberinya. Padahal, tanpa zat ini manusia langsung mati.
Contoh: kalau kita kena flu. Saat itu ada virus bernama Rinovirus masuk ke tubuh. Zat imunitas segera bertempur menghambat kerusakan tubuh. Itu sebab flu bisa sembuh sendiri tanpa diobati. Zat imunitas pahlawannya.
Tapi jika flu berat, berarti volume atau kualitas racunnya melebihi kemampuan daya tangkal zat imunitas, barulah kita butuh bantuan obat.
“Penderita Lupus, memiliki kelainan pada zat imunitasnya,” katanya.
Zat itu terlalu banyak gerakan sehingga serangannya berlebihan. Over-acting. Atau dia bingung mendeteksi zat-zat di sekitar.
Gerakannya jadi membabi-buta menyerang apa saja, baik musuh atau bukan. Dia tidak mampu mengenali kawan atau lawan. Semua dihajar sebagai musuh.
“Akibatnya, jaringan-jaringan tubuh yang mestinya kawan, diserbu zat ini. Arah serangan tidak beraturan,” tutur dokter, mengambil napas.
Kepada sahabat Odapus... tetap semangat... Kalian orang kesayangan Tuhan. Karena, lupus langsung dari Tuhan.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.