FRAGMEN NOVEL 728 HARI : Ketika Cinta Memanggilmu


Fragmen novel kisah nyata 728 Hari. Menggambarkan asmara Eva dan Nanan. Kejadian saat Nanan ditanya Mamanya tentang gebetan barunya. Ini model percintaan tahun 1998.
---------------
Ketika cinta memanggilmu, dekatilah dia walau jalannya terjal berliku. Jika cinta memelukmu, maka dekaplah dia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu. (Kahlil Gibran, Libanon, 6 Januari 1883 – New York City, 10 April 1931)
Puisi di dinding kamar Nanan itu menarik perhatian Maimunah, suatu pagi yang cerah di bulan April 1998. Wanita setengah baya itu tersenyum. Ini pasti baru ditempel semalam, karena kemarin belum ada.
Nanan mandi sambil menyanyi lagu jadul milik Yuni Shara. Nyanyian berhenti setelah dia keluar dari kamar mandi, berpapasan dengan ibunya.
“Kamu punya pacar lagi, Nan?” tanya Maimunah.
“Hmmm...” gumamnya, sambil jalan masuk kamar, menutup pintu.
Maimunah paham, anaknya menghindar. Sejak kecil Nanan pemalu, tak banyak bicara, tapi serius jika mengerjakan sesuatu. Begitu Nanan keluar kamar, interview dimulai:
“Puisimu sedih amat, Nan. Ngejar cewek sampe kena pedang segala.”
“Ah... Mama ini mau tau aja,” kata Nanan tertawa.
“Pengen tau ceweknya gimana sih, sampe segitu amat.”
“Aku mau sarapan cepat, nih Ma... biar gak telat.”
“Halaaah... Mama cuma pengen tau namanya doang.”
“Namanya, Eva Meliana Santi.”
“Woow... nama bagus. Pasti cantik. Seimbang dengan kamu yang ganteng gagah.”
Nanan mempercepat makan. Dilahap dadar telur dan sambal buatan Mama. Dia tahu, Mama akan bertanya detil. Maka, harus cepat-cepat kabur...
“Kalo anaknya baik, kamu serius, cepat saja dibungkus,” ujar Maimunah.
“Emang pepes ikan, dibungkus.”
Mereka ketawa bersama.
Nanan tahu, Mama cuma bercanda. Dulu terhadap kakaknya, Warman, Mama juga suka ngecengin begitu. Warman menikah, lima tahun lalu di usia 28. Sampai kini belum punya anak.
Selesai makan, Nanan mencuci piring-sendok sendiri. Lalu dia mengambil tas, salim ke Mama, siap berangkat.
Sebelum Nanan keluar di pintu depan, Mama di ruang tengah bertanya:
“Emang cewekmu galak? Kok puisimu sedih amat.”
Nanan membalikkan badan. Menjawab enteng:
“Nggak Ma. Dia lemah gemulai,” katanya menirukan bahasa jadul Mama.
Nanan tertawa, dan segera cabut sebelum ditanya lain-lain. Dia starter motor, melaju meninggalkan rumah.
Di jalan, pikiran menganalisis, Mama yang kelihatan tidak suka seni bisa merasakan kegetiran puisi Kahlil Gibran. Suatu saat dia akan cerita semua ke Mama.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.