Cintaku Tercecer di Perjalanan


Lusa ke Wonosobo. Entah mengapa, saya tak bosan-2nya bepergian. Sejak kecil, setiap kali akan berangkat ke suatu tempat, apalagi jauh, senang bukan kepalang. Sampai kini pun perasaan itu tak berkurang. Apalagi bakal ketemu puluhan teman lama. Hati ini berbunga bunga.

 ---------------------------


Catatan MAS IWAN SAMS diposting Selasa lalu, jumlah peserta: Rombongan Jatim 34, Jateng/DIY 15, DKI/Jabar 11. Total 59 kawan saya (minus saya) berkumpul. Itu belum termasuk yang daftar hari ini dan besok. Inilah bepergian dengan jumlah peserta terbesar kedua sepanjang sejarah Jawa Pos (JP). Subhannallah…

Terbesar pertama, 15 Agustus 1986, seluruh pekerja JP Surabaya bersama keluarga tour ke Jakarta. (memanfaatkan libur 17 Agt). Saat itu, sebelum berangkat, setelah Satpam menggembok pintu kantor Kembang Jepun, Pemred Pak Dahlan ‘halo-halo’: Jumlah peserta lebih 200 orang.

Saya senang luar biasa. Malam sblm berangkat, saya sampai tak bisa tidur, saking senangnya. Hunting pagi-pagi setengah ngantuk. Siang ngetik berita semangat lagi. Deadline ditutup 13.00 teman-teman bersorak.
 
Berebut naik bus, kami bercanda riang. Saya mengincar, duduk di sebelah cewek cantik (ssst… orangnya ada di Surabaya) tapi gagal. Dia keburu ditempel seorang kawan. Mungkin mereka sudah janjian. Saat itu saya lajang, dia gadis, kawan yang menempel juga bujang.

Tempat duduk yang kosong di sebelah Jamrozi, layouter andalan Pak Dahlan. Ogah-2an saya duduk disitu. Jamrozi orangnya ramah, gaul, suka bercanda. Tapi karena hati saya sedang ‘bures’, di mata saya dia banyak cing-cong.

Suara Jamrozi berteriak-teriak memanggil teman dalam bus, membuat saya tambah tak suka. Muncrat… muncrat… muncrat… Tercium bau tak sedap, kayaknya bersumber dari mulut dia (mohon maaf, Bro….. itu kan 25 tahun lalu).

Turun dari bus, kemeja saya berkibar-kibar. Halaman Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya yang luas, membuat hati ini lapang. Tampak kapal besar bertulisan “KM Kambuna”. Ratusan keluarga besar JP rasanya berjalan merambat di areal pelabuhan.

Si dia saya lirik, aduh… terpesona. Rambutnya melilit-lilit dipermainkan angin laut. Senyumnya segar, sesegar biru langit. Kulitnya yang coklat begitu eksotik disiram matahari. Saat berlari kecil, dia segesit burung Camar yang terbang di atasnya. Sayang, dia ditempel terus oleh cecunguk itu.

Masih ada kesempatan di atas kapal, Bung. Langkah naik tangga kapal saya percepat. Berharap sampai duluan, sehingga bisa mempelajari situasi pembagian tempat.

Ternyata tempat berupa kamar-kamar yang sudah diatur panitia. Kamar blok cewek dipisahkan jauh dari cowok, kecuali keluarga.

Satu kamar ukuran 2,5 X 2,5 meter diisi 4 orang. Tersedia 2 bed susun. Panitia sudah mengatur, penghuni 2 : 2 dari divisi berbeda. Misal, 2 dari redaksi, 2 dari iklan. Katanya, biar makin akrab antar divisi.

Saya duluan tempati bed bawah. Di atas saya, Dicky (fotografer). Bed satunya dua kawan dari divisi cetak. Saya lupa namanya. Yang jelas bukan si cecunguk.

Setelah meletakkan tas, saya ambil jaket dan keluar kamar. Jaket ini kebanggaan saya. Pembagian dari kantor warna abu-abu. Di dada kanan ada bordir “Jawa Pos”. Dada kiri bordir nama saya. Meskipun bentuknya ndeso, tapi selain bagian redaksi tak diberi jaket ini.

Saya berdiri di anjungan memandang laut. Kapal mulai bergerak perlahan, meninggalkan pelabuhan. Laut lepas, kita pergi…

Sudah saya lupakan si cantik. Kalau saya mikiri dia terus, bisa musnah seluruh kesenangan bepergian. Padahal, ombak laut berkilau-kilau. Begitu luas, menyatu di ujung cakrawala. Saya selalu suka menikmati di kesendirian.

Tapi, jelang senja si doi muncul di anjungan. Bersama dua kawan ceweknya, mereka bergurau. Dari jarak sekitar 20 meter saya lihat senyumnya, menyatu dengan silhouette langit jingga.

Serius Dibalut Guyon

Saya mendekat. Dada saya kok berdebar-debar. Segera saya atasi dengan jalan sesantai-2nya. Saat dekat, tiga cewek menoleh. Saya bergaya seperti memotret mereka. Telunjuk dan ibu jari dua tangan, saya satukan, membentuk bingkai segi empat. Sasaran saya arahkan ke wajah paling kiri, seolah ingin mengambil close up.

“Wah, kamu dipotret dwo. Awas, besok masuk koran, lho,” ujar cewek yg tak disasar.


Saya berpantomim seolah mengibas-2kan kertas di tangan kanan. Zaman itu cetak foto dicuci dulu, baru dikibaskan. ”Aduh… hasilnya kamu cantik sekali,” ujar saya nekat pol. Reaksi dia ternyata datar. Hampir bersamaan dengan pujian saya, eee… muncul si cecunguk.

Cecunguk dengan nada bergurau mengepalkan tangan ke atas. “Sing iku ojo diganggu, lho. Aku wis entek akeh, iki,” ujarnya sambil tertawa. (Yang itu jangan diganggu, lho. Aku sudah habis banyak, nih.) Saya balas dengan gaya bergurau pula. “Lha nek arek’e gelem karo aku, yok opo?” (Kalau anaknya mau sama aku, bagaimana?) Lalu dengan sigap dia menyahut. “Gak iso. Pokok’e gak iso.” (Tak bisa, pokoknya tak bisa)

Kelihatannya bergurau, sebenarnya serius. Atau serius dibungkus gurauan. Yang saya amati reaksi mimik si cantik. Ternyata pandangan dia simpati ke cecunguk. Itu menandakan bahwa dia sudah memberikan sinyal, menegaskan pilihannya.

Suasana kaku dipecahkan gurau dua cewek teman si doi. “Ayo, kita nyingkir. Engkok mundak kecipratan getih,” ujarnya tertawa, sambil menarik kawannya. (Ayo kita menyingkir. Ntar bisa kecipratan darah). Si doi ikutan pergi. Cecunguk menyusul mereka. Saya diam.

Wajah cecunguk ini memang ganteng. Pakaian apa saja kelihatan keren. Saya kalah ganteng. Dan (ini yg berat) saya selalu tampak kumus-kumus (dekil). Yo wis, pek-2en. (Ya, sudah... ambil saja)

Supaya tak kelihatan nelangsa, saya jalan ke belakang anjungan. Disana teman-2 wartawan berdiri bergerombol mendengarkan Pak Dahlan bicara. Saya ikut nimbrung. Daripada kecut. Itu obrolan santai. Pak Dahlan cerita, prediksi masa depan JP.

Sebenarnya sebel. Rekreasi kok bicara kerja. Tapi, karena kehadiran saya telanjur dilihat Pak Dahlan, saya manggut-manggut koyok yes-2o. Padahal gak yes, blas…

Usai makan malam, Pak Dahlan meninggalkan kami. Dia pesan, “Ayo, cepat tidur. Besok acaranya padat, lho.” Anjuran dia tak saya hiraukan. Sebab, di bar ada live music. Tapi, untuk menghormati Pak Dahlan, saya jalan ke kamar. Sambil ngecek Dicky, yang dari tadi tak kelihatan.

Dicky ternyata tidur. Malah sudah mendengkur. Di bed yang mestinya milik saya, ada yang tidur juga. Kurang ajar. Saya amati, anak bagian cetak, saya tak tahu namanya. Di bed satunya, masih di kamar itu, kosong atas-bawah. Gampang, nanti saya tidur disitu. Sekarang ke bar dulu, ah….

Hampir masuk pintu bar, berpapasan dengan Pak Dahlan (rasanya dia juga mau masuk). Dia negur: “Lho, kamu belum tidur, dwo?” Saya jawab asal saja,”Mencari Dicky, Pak,” sambil celingukan ke arah dalam bar, seolah enggan masuk.

Saat saya berbalik, Pak Dahlan sudah pergi. Ya, lanjutkan saja masuk bar. Pilih duduk pojok, khawatir Pak Dahlan mendadak juga masuk bar.

Sampai band bubar 01.00, Pak Dahlan gak muncul lagi. Saya tinggalkan bar bersama penumpang kapal yang bukan rombongan kami. Jadi, hanya saya anggota rombongan JP yang di bar sampai tutup.

Saya masuk kamar, kondisi parah. Dua bed terisi penuh atas-bawah. Pemuda yang menempati bed saya sudah ngorok. Saya panggil-2 dia tak terusik. Saya amati lebih dekat, wadoh… wadoh… Mbok De…. Di bantal sudah tergambar ‘Pulau Jawa’. Dia ngiler, Rek….

Mau tidur di lantai, khawatir keinjak kawan yang turun dari bed. Sebab celahnya sangat sempit, lampunya remang. Saya ke anjungan lagi. Berbatang-2 rokok habis disitu. Diterpa angin laut saya tambah ngantuk. Mau rebahan di lantai, khawatir nggelundung kecebur laut. Pagar besi itu renggang-2.

Pk 04.00 saya tak tahan lagi. Saya buka pintu kamar di sekitar kamar saya, satu demi satu. Semua dikunci. Frustrasi, saya jalan-jalan naik turun tangga. Ternyata di bawah ada kelas masal. Orang tidur berjejer kayak iwak (ikan) pindang. Saya baru kali ini naik kapal, sehingga baru tahu ada kelas masal. Akhirnya saya tidur menyusup di celah kosong.

Dapat Lagi di Taman Mini

Pagi yang cerah, kapal merapat di Tanjung Priok, Jakarta. Dari atas kapal saya lihat kerumunan orang di bawah, di dermaga. Saat siap-siap turun Pak Haji Anas (redaktur) memberitahu, “Itu para wartawan kita yang di Jakarta sudah siap menjemput,” sambil menunjuk sekumpulan pemuda di dermaga.

Wah, kawan-kawan Jakarta mengenakan jaket seragam sama dengan saya. Yang saya kenal Mas ROS, Zarmansyah, Eddy Aruman, Kanzul Fikri (alm), dan Wahyudi (alm). Mereka yang menyiapkan kendaraan untuk kami keliling Jakarta.

Tiba di Taman Mini, saya baru tahu jika diantara rombongan penyambut, ada dua cewek cantik. Namanya Diani dan Lala. Mereka bagian keuangan dan administrasi. Selama ini saya hanya tahu nama, belum lihat orangnya. Kulitnya putih-putih, mulus-mulus. Dan, belum menikah. Tapi tidak eksotik seperti yang dari Surabaya tadi.

Saya mendekat ke Lala. Di Taman Mini kami foto berdua. Bertukar alamat, tukar cerita ke-khasan Jakarta dan Surabaya. Dia ngajak makan Ketoprak. “Makanan begini apa ada di Surabaya?” tanyanya. Saya jawab, baru kali ini saya lihat Ketoprak.

Saat kami makan sambil ngobrol, kawan saya, wartawan IR (alm) melirik. Lantas, ia seperti sengaja lewat di depan saya. Sambil ‘berdehem’ (pura-pura batuk) ia nggojloki, tapi tak menghadap ke saya: “Cik cepet’e oleh.” (Cepat amat, sudah dapat). Saya pura-pura tak tahu, tenang saja makan. Sebab, IR bicara sambil memandang teman-teman yang menyebar di sekitarnya.

Ir menyerang lagi: “Ndusel, teruuuss.... Kali ini saya tak bisa menahan tawa, hingga tersedak. Lala yang tak ngerti bahasa Jawa, memandang heran ke arah saya. “Mas ketawa, ya?” tanyanya. “O, maaf. Saya tersedak,” jawab saya cepat.

Tapi pandangan Lala sudah tak seperti semula. Dia menyimpan keheranan. Jiangkrik, gara-2 IR suasana jadi rusak.

Saat saya membayar Ketoprak yang berarti menjauh dari Lala, IR mendekati saya. Dia ketawa cengingisan. “Tak delok teko adoh, koen koyok pitek jago sing nguber babon,” ujarnya. “Nguber karo nyirek-2 ngene,” tambahnya. (Aku perhatikan dari jauh, kamu kayak ayam jago yang sedang birahi mengejar betina. Mengejar bergaya miring-miring.)

Ia berkata begitu sambil memperagakan gaya ayam jago sedang birahi: Jalan miring srentengan, sambil membentangkan sayap.

Kami tertawa terpingkal-2. Saya lirik Lala tambah heran. Ia memicingkan mata, memandangi kami tertawa. Ini benar-benar suasana sudah rusak.

Dengan start seperti itu, saya tidak lanjut ke Lala. Untuk menjelaskan ke dia, selain butuh kronologis detil, juga belum tentu dia paham. Karena idiom-idiom bahasa Surabaya yang lucu, belum tentu lucu bagi orang dari daerah lain. Beberapa tahun kemudian Lala menikah dengan wartawan JP juga, Wahyudi (alm). Banyak alm, ya...

Hari sudah gelap, rombongan balik ke Surabaya dengan bus. Kelap-kelip lampu rumah-rumah di pedesaan Cikarang sebenarnya sangat indah. Hamparan sawah tampak remang ditimpa sinar purnama. Bentangan kabel listrik mengkilat, naik-turun dari sisi pandang kaca bus.

Tapi, saya sudah sangat mengantuk. Tak kuasa lagi menikmati indahnya perjalanan ini.

Ketika saya tarik handel agar kursi rebah ke belakang, ternyata macet. Kawan-kawan di bus itu sudah tidur di jok yang miring. Saya coba tarik handel lagi, memang macet-cet.

Akhirnya saya tertidur, posisi duduk tegak. Sementara mulut saya dekat dengan rambut kawan yang duduk di depan. (didedikasikan kepada peserta reuni: Jangan ada cinta lokasi, bahaya.)

Note:
Si Cantik dan Cecunguk akhirnya menikah saat saya sudah pindah tugas di Jakarta, 1989. Pernikahan mereka langgeng sampai saya menulis ini. Subhannallah...
 
Diposting di Facebook M-Jawa Pos, 21 Mei 2011
Jelang Acara Reuni M-Jawa Pos ke Wonosobo yang Diprakarsai Bupati Wonosobo M Kholiq, Mantan Wartawan JP.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.