BEDAH BUKU : NOVEL 728 HARI DI ELSHINTA TV


“Apakah donasi Rp 5.000 per buku laku kepada Odapus bertujuan agar novel ini laku?” tanya Host Fitriani Dewi kepada Penulis 728 Hari. Pertanyaan cerdas, dan sangat tajam. Dilontarkan di acara “Book Talk” Elshinta TV, ketika shooting, Kamis (19/11) siang.
-------------------
Jawaban Penulis... simak saja di tayangannya pada Minggu, 29 Nov 2015 pukul 21.00.
Namun, sebagai ilustrasi, begini:
Donasi Rp 5.000 per buku 728 Hari kepada Odapus, yang disalurkan melalui Yayasan Lupus Indonesia (YLI) murni sedekah. Sedangkan laku, terserah pasar.
Soal laku, tergantung minat baca. Disini minat baca masyarakat sangat rendah, dibanding tetangga Malaysia dan Singapura.
Di Indonesia, ada tanda “Dilarang Merokok” pun masih saja ada orang merokok di dekat tanda itu. Sebab, mungkin dia malas baca.
Di pintu masuk toko Alfa, ada tulisan “Tarik”. Eee... ada saja orang yang mendorong.
Padahal tulisan itu sudah dilihatnya. Tapi, otaknya tidak memberikan instruksi kepada syaraf motorik, sesuai dengan bacaan. Barangkali itu akibat terlalu malasnya kita membaca.
Novel “To Kill A Mockingbird” karya Harper Lee (1960) sampai kini dijual di Gramedia. Cover novel distempel “Laku 40 Juta Copy”. Harper Lee adalah wartawan Amerika, dan itulah novel pertamanya (sekaligus satu-satunya).
Novel Indonesia paling laku adalah Laskar Pelangi, konon (tidak ada data terpublikasi yg akurat) laku sekitar 500.000 copy. Atau 1 : 80 dengan karya Harper Lee.
Di Amerika pada 1960 (saat To Kill A Mockingbird terbit) data buta huruf disana sudah nol. Di Indonesia, berdasar data Majalah Tempo, November 2013, ada 3.600.000 orang buta huruf. Sekarang pun masih di atas 3,5 juta.
Nah, para sarjana saja jarang baca buku. Apalagi yg buta huruf...
Selain minat baca, pasar buku ditentukan daya beli masyarakat.
Di saat jutaan masyarakat kita sekarang masih kesulitan membeli beras, maka jangan coba-coba anjurkan mereka beli novel. Anda bisa disumpahin digigit anjing.
Bener... asli...
Jadi, laku-tidaknya 728 Hari biarkan saja diuji pasar, dan minat baca.
Pertanyaan Host: “Mengapa novel anda berdonasi? Bagaimana, sih ceritanya?”
Penulis jelaskan, selama sekitar lima bulan menulis 728 Hari, Penulis merasa ‘masuk’ ke jiwa Odapus. Ikut merasakan sakitnya, terombang-ambing jiwanya, pontang-panting keluarganya, bahkan bangkrut ekonomi keluarganya. Sebab, kehabisan uang untuk berobat.
Maka, pantas-lah masyarakat pembeli novel ini menyumbang ke Odapus. Toh hanya Rp 5.000 per buku laku.
Yang menarik, pernyataan Penulis ini ‘disambar’ oleh narasumber “Book Talk” Elshinta TV, Herawati Chandra. Dia arsitek. Wanita karir yang sibuk. Juga Odapus.
“Saya dukung pernyataan pak DWO,” katanya.
Odapus itu berbiaya sangat mahal untuk berobat, kata Herawati, yg berobat sampai ke Singapura pada 2004.
“Sekarang pun, ada Odapus yg keluarganya collapse (bangkrut total). Akhirnya, setiap dia kambuh, keluarganya tidak bisa membawa ke dokter lagi. Pasrah,” katanya. Hera tidak menyebut nama Odapus-nya.
Herawati juga tahu, sangat banyak Odapus yang meninggal di rumah, karena keluarganya sudah tidak punya uang lagi untuk membeli obat. Padahal, hampir semua Odapus harus menelan obat rutin, terus-menerus, seumur hidupnya.
“Itu, antara lain, saya mendukung novel ini. Selain karena novel ini memang bagus,” kata Herawati.
Alhasil, “Book Talk” Elshinta TV kemarin, sebenarnya milik Odapus. Herawati dengan lantang mewakili suara Odapus. Luar biasa...
Kepada Odapus... tetap-lah semangat...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.