Terbenam di Hiruk-pikuk Tokyo (4-Habis)


“Syukuri kondisimu apa pun adanya.” Kalimat ini sering diucapkan orang, namun tidak gampang dijalani ikhlas. Saat terombang-ambing masalah, kadang saya mengumpat, walau kemudian diralat. Itu ada di episode terakhir ini. Ayo… ayo…
-------------------------


Check out dari hotel, tujuan saya tidak jelas. Asal jalan saja, menyusuri pedestrian di bawah terik matahari.  Tas di punggung membuat cepat lelah. Satu-satunya teman bicara hanya Seichi Okawa. Tapi, saya enggan ke kantornya lagi. Dia terlalu formal, juga - percuma -saya tak bisa tidur disitu.

Mau utang ke Okawa, sulit ngomongnya. Dia bukan wartawan JP. Hanya sesekali mengirim tulisan. Setahun kadang satu naskah. Malah sudah hampir dua tahun ini saya tidak baca tulisan dia. Tapi, siapa tahu dia bisa mengusahakan saya pulang besok.

Dari telepon umum, saya hubungi kantor Okawa. Diterima sekretaris. “Seichi San sedang hunting berita. O… anda Djono San yang kesini kemarin?” katanya ramah.

Saya lihat kemarin, Okawa punya HP. Besar, seperti Handy Talky Satpam. Tapi, sekretaris keberatan memberi nomornya. Itu aturan Okawa, dia tak berani melanggar. Dia minta saya telepon sekitar sejam lagi. Bagus, sekretaris yang patuh.

Jelang 13.00 saya tenggelam di ratusan orang di pedestrian. Tidak ada gelandangan atau pengemis. Hampir semua pria berdasi, wanitanya stelan seperti safari. Gaya jalan mereka sangat cepat. Mungkin mereka pegawai, kembali ke kantor setelah rehat siang. Mereka masuk gedung-gedung tinggi yang semua papan namanya huruf Jepang.

Nasionalisme mereka, huruf mereka. Semua tulisan kanji, kecuali merek internasional seperti Hilton, Sheraton, McD huruf latin. Orang asing dipaksa menyesuaikan, meski Tokyo kota besar dunia. Presiden Soeharto pernah melarang istilah asing di tempat umum. Akibatnya, “Setia Budi Building” di Kuningan, Jkt, diganti “Gedung Setia Budi”. Setelah Pak Harto lengser, balik lagi.

BEDA WARTAWAN REPUBLIK INDONESIA dengan JEPANG

Sejam berselang, telepon kantor Okawa lagi. Diterima Okawa sendiri. Saya ceritakan soal terlambat confirm, sekaligus minta saran.

“Memang, sekarang peak season,” kata Okawa. Dia jelaskan, ekonomi Jepang sudah bagus (1989). Tiap musim libur, sekitar 90 persen warga bepergian. Separonya keluar negeri, hanya sebagian kecil ke Indonesia. Itu pun jumlahnya ribuan.

“Saya coba hubungi Garuda,” ujar Okawa. Pembicaraan stop, beberapa menit berselang saya telepon lagi. Hasilnya:

“Nama Djono San terdaftar penerbangan minggu depan, tidak bisa lebih awal,” katanya

“Bagaimana cara saya berangkat lebih cepat?”

“Bagaimana kalau ganti Japan Airlines?”

“O… saya tak ada uang lagi,” kata saya, siapa tahu ditawari utang.

“Tiket Garuda batalkan, lost 25 persen. Beli JA.”

Saya tidak tahu harga tiket. Di tiket rombongan Garuda ini tidak tercantum harganya. Sehingga, tidak bisa dihitung, apakah 14.000 Yen cukup. Tapi, spekulasi saya ok. “Kalau bisa hari ini Seichi San, atau besok.” Pembicaraan stop.

Dua kali saya telepon, on-line. Okawa sedang memperjuangkan saya segera pulang. Tampaknya dia suka menolong. Tapi saya tidak bisa mengatakan utang. Di telepon ketiga, tersambung.

“Ah…. JA ke semua kota Indonesia penuh sampai 2 minggu.”

“Penerbangan lain?”

“Hanya ada JA dan Garuda.”

“Arigato gozaimatsu, Seichi San…”

Wartawan Jepang tidak memiliki daya tekan seperti Indonesia. Barangkali, negara yang tidak korup memang begitu. Aturan berlaku bagi siapa pun. Sebaliknya, di negara korup pejabat takut pada wartawan, pers memiliki daya tekan kuat. Efeknya, banyak wartawan palsu. Di negara tidak korup, 90 persen warga bepergian memenuhi hotel dan penerbangan dalam dan luar negeri. Di negara korup, makan pun sulit.

Bahwa saya mengurus paspor hanya 2 jam, sedangkan umumnya masyarakat 3 bulan, apakah diduga ada korupsi? Masyarakat tahu jawabnya.

PENGEMBARA MULAI EKSPLORASI

Dari cerita Okawa, tarif taksi memang mahal. Dibanding bus, bisa 20 : 1 untuk jarak yang sama. Saya harus berani eksplorasi naik bus. Mencari kantong-kantong kumuh, misalnya, seperti Terminal Pasar Minggu. Siapa tahu disana ada gelandangan.

Kini saya mulai naik bus. Sekali naik untuk terusan 350 Yen. Tidak terusan, variatif 40 – 150 Yen. Uang saya 14.000, jika pulang seminggu lagi, rata-rata pengeluaran per hari maksimal 2.000. Andai tanpa hotel (tersisa tarif minimal 18.000) sebenarnya cukup.

Sampai hari jelang gelap, tidak ketemu tempat kumuh. Semua tempat bersih. Tapi, ada temuan menarik. Makanan ternyata murah dan ada di setiap toko dekat terminal. Roti sekepal orang dewasa harga 200. Minumnya susu murni sebotol 750 CC harga 150. Jika sehari tiga kali 1.050 rokok Mild 7 harga 200. Jatah 2.000 per hari masih sisa sebenarnya.

Saat menghitung-hitung uang, terlintas Bandara Kansai, Osaka (awal tiba di Jepang) yang tak pernah tidur. Pukul 02.00 saat itu masih ratusan orang hilir-mudik, baik di terminal kedatangan juga keberangkatan.

Segera saya ganti bus khusus menuju Bandara Narita, di pinggiran Tokyo. Pasti disana ada tempat bersandar.  Go… go… go…

Jarak pusat kota Tokyo ke Narita kurang lebih sama dengan Bandara Soekarno-Hatta. Bedanya, jalanan disana tidak macet meskipun jumlah kendaraan lebih banyak dibanding Jakarta. Narita ternyata tiga lantai. Masing-masing lantai terhubung langsung dengan jalan yang juga tiga susun.

Tiba di terminal keberangkatan 20.00 ramainya luar biasa. Sekalian saya konfirmasi keberangkatan yang masih tujuh hari mendatang. Daripada terlambat lagi. Tiket distempel tanggal keberangkatan.

Ruang tunggu yang begitu luas dengan jumlah tempak duduk ratusan, mungkin ribuan, penuh manusia. Inilah hotelku. Pura-pura ketiduran di bangku, bisa melewatkan malam.

Sejam mondar-mandir disana, baru dapat bangku. Mata tak bisa terpejam, meski badan lelah. Masih malu-malu. Apalagi sekitar 23.00 jumlah manusia menyusut. Bangku-bangku di sekitar saya mulai kosong. Saya pindah ke lokasi yang ramai. Pukul 01.00 pindah lagi ke arah pojok karena keramaian bubar. Akhirnya ketiduran juga.

Saya terbangun oleh senggolan pemuda brewok berwajah India. “Whre you come from?” tanyanya. Kami berkenalan (namanya saya lupa, tapi dia dari Bangladesh). Dia sengaja membangunkan saya supaya tidak ditangkap petugas, sebab kini sudah 05.00. Saya juga diajari menyimpan tas di loker. Bayar 100 per hari. Dia tunjukkan arah tempatnya. Dia tak bawa tas. Kayaknya dia gelandangan seperti saya, dan mungkin dia tahu saya seperti dia.

Saat kami ngobrol, dua petugas berseragam berjalan ke arah kami. Pada jarak sekitar 20 meter, pandangan mereka lurus ke kami. Pemuda Bangladesh berdiri. Setengah berbisik dia katakan: “Run…” Kami berdua bubar berpencar. Saya menuju pintu keluar. Kebetulan, bus tujuan kota siap berangkat, saya naik.

Syukur saya menemukan ‘hotel’ Narita. Saya juga dapat pelajaran dari si Bangladesh. Pagi ini saya sudah tidak kalut lagi. Bisa menikmati Tokyo. Sayangnya, sejak pisah dari rombongan, saya tak pernah shalat.

MASJID TOKYO BUKAN TEMPAT TIDUR

Turun di terminal, saya tanya lokasi masjid ke seorang pemuda Jepang. “Tokyo mosque in Shibuyaku,” jawabnya, sambil memberi petunjuk nomor bus yang menuju kesana. Alhamdulillah saya shalat Dzuhur berjamaah disana. Imamnya seperti orang Arab, juga para makmumnya. Ternyata mereka orang Turki.

Kepada pemuda pengepel lantai, saya tanya, “Bolehkan saya tidur di masjid malam ini?” Dia keheranan memandang saya. Lantas wajahnya mengkerut, menggoyangkan tangan, “No… no…” Ya sudah, saya sudah punya hotel. Cuma butuh hotel yang tidak ada petugas security mengincar.

Usai shalat semua orang meninggalkan masjid. Tinggal saya sendiri duduk di terasnya dan pemuda yang terus ngepel itu. Maksud saya akan disini sampai Isya. Tapi, pengepel itu terus memandang curiga ke saya. Akhirnya saya tinggalkan masjid. Lagi pula disini tak ada penjual roti dan susu.

Kembali berkelana naik bus kota. Tanpa tujuan, ngawur saja. Jelang senja, turun di taman kota yang luas. Bersih sekali disini (dibanding Monas). Saya duduk di salah satu bangku.

Pohon-pohon bunga Sakura hanya berdaun, tak ada bunganya. Kata Okawa, musim semi telah lewat. Di musim semi bunganya mekar indah. Tapi ada ratusan merpati disini, mungkin juga ribuan. Terbang dan hinggap dimana-mana dengan bebasnya. Saya menikmati senja diantara ribuan burung. Jelang gelap, sebagian burung naik ke pohon Sakura sekitar taman, sebagian terbang menjauh.

ADUH… AKU TERTANGKAP JUGA

Lokasi loker saya temukan di Narita. Bayar 100, tas masuk, kunci saya pegang. Wah… bener juga saran si Bangladesh. Kini saya tak terlihat seperti pengembara lagi. Pindah-pindah tempat duduk pun enak. Bisa lebih gesit.

Terlintas ingin menemui orang kita di KBRI. Namun keinginan saya batalkan. Betapa pun saya membawa nama Jawa Pos. tidak boleh ada orang Indonesia tahu bahwa wartawan menggelandang.

Belum sempat tidur, mendadak muncul dua petugas security di hadapan saya. “Your passport, please…” kata salah satunya. Wah, ketangkap, nih. Saya keluarkan paspor, mereka meneliti. “Ah… you are journalist.” Ya, di paspor ada kolom pekerjaan.

Seketika mereka lebih ramah. Lalu dengan sopan meminta tiket. Kali ini wajah pemeriksa merengut. Petugas pemeriksa tiket diskusi dengan temannya. Lalu mereka mengajak saya jalan mengikuti mereka. Paspor dan tiket masih mereka pegang. Aduh… bener-bener ketangkep.

Saya disilakan masuk ruangan besar. Ada puluhan security disitu. Mungkin ini kantor mereka. Sebagian mereka menghadapi komputer, sebagian mondar-mandir. Saya diajak masuk ke sebuah ruangan di bagian dalam.

Ruang ukuran 5 X 5 ini lebih nyaman: Harum dan dingin. Banyak monitor CCTV berderet di dinding. Seorang lelaki setengah baya duduk di meja kerja. Dua petugas yang membawa saya menghadap, lalu hormat padanya. Itu komandan. Lantas petugas melapor ke komandan, sambil menyerahkan paspor dan tiket saya.

Setelah meneliti, komandan berjalan mendati saya. Dia buka suara, “Keberangkatan anda masih enam hari lagi, tapi kemarin malam anda sudah tidur disini,” katanya. Dia memencet-mencet tombol remote dan diarahkan ke CCTV.

Ya, ampuuun…. Gambar saya tidur kemarin ada di layar. Komandan memencet remote. Kini, beberapa layar yang berderet itu menampilkan gambar saya semua. Mulai dari kedatangan, duduk, pindah, lalu pindah lagi, lalu pindah lagi, sampai tertidur. Komandan menunjuk data waktu di sudut kanan bawah layar. Sialan, ini sih ketangkap basah.

Komandan lantas menyarankan saya menginap di hotel dekat bandara. Dia tahu masih ada kamar kosong sekarang. Tarif 23.000. Saya langsung menolak, saya katakan tidak punya uang. Saya jelaskan, mestinya saya berangkat kemarin, tapi terlambat konfirmasi.

Sang komandan membalikkan badan, jalan ke mejanya. Mengetuk-ngetuk meja. Beberapa saat kemudian dia bicara kepada dua anak buahnya yang sejak tadi menonton. Lantas, para anak buahnya memberi hormat, “Haik…” teriak mereka serempak. Hati saya dag dig dug, menunggu apa lagi yang terjadi.

Dua petugas lalu mendekati saya. Salah satunya membungkuk dan berkata, “Djono San, mari ikut saya.” Wah, bakal ditahan.

Sebelum meninggalkan ruangan, saya pamit, membungkuk pada komandan. Ternyata komandan membalasnya dengan membungkuk juga. Lalu saya berjalan di tengah diiringi dua petugas. Kok saya tidak diborgol? Ini semua gara-gara Pak Dahlan: “Semakin kesasar, semakin baik.”

UNTUNG, ADA BANGLADESH

Anehnya, dua petugas ini bersikap lebih sopan dibanding saat awal tadi. Kami jalan sejajar. Ketika akan belok kiri, petugas di kiri memberi arah tangan agar saya ke kiri. Jika akan ke kanan, petugas di kanan memberi arah. Malah saya kayak pejabat (maaf), bukan tahanan.

Kami berhenti di ujung ruang tunggu bandara. Dua petugas menghentikan langkahnya. Lho… ada si Bangladesh duduk di bangku. Petugas mengatakan: “Djono San, boleh tidur disini,” ujarnya sambil menunjuk sebuah bangku. Plaaas… hati saya senang luar biasa. Saya membungkuk pada petugas, “Haiiiik…”

Mungkin suara saya terdengar aneh bagi petugas Jepang. Mereka ketawa sambil membungkuk, membalas hormat saya. Lantas mereka pamit, meninggalkan saya.

Setelah petugas menghilang di keramaian pengunjung bandara, si Bangladesh tertawa ngakak sambil menuding saya. Penasaran, saya tanya: “Do you also journalist?” Ketawanya malah semakin kencang, sambil teriak, “Of course….” “Dasar… wedhus gibas,” teriak saya. Dia tidak mengerti, tapi tetap saja terbahak-bahak.

Kasus si Bangladesh tidak sama dengan saya. Dia datang beli tiket dua hari lalu, minta langsung berangkat. Tidak bisa. Akhirnya diundur 10 hari kedepan. Sejak malam itu saya tidur bersebelahan dengan dia.

Begitulah, siang sampai jelang malam saya keliling Tokyo naik bus kota. Malamnya merapat ke Narita Hotel. Gaya ini ternyata juga dilakukan Bangladesh. Hanya saja, saya tidak pernah mau jalan bareng dia. Bukan apa-2, dia sering minta uang receh dan rokok. Beberapa kali saya beri. Lama-lama saya khawatir kehabisan juga.

Akhirnya tiba juga saat pulang. Bangladesh yang biasanya suka ketawa cekakakan jadi pendiam saat saya pamitan. Tak terduga, dia terus terang minta uang.

Saya keluarkan semua recehan logam dari kantong. Jumlahnya masih 650 Yen dan Rp 20.000. Semua Yen saya serahkan ke dia. Saya yang melarat ternyata ada yang lebih melarat lagi. Lantas kami berpisah. End

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.