Terbenam di Hiruk-pikuk Tokyo (3)


Jangankan bertugas sebagai wartawan, penyeberang jalan saja berisiko tertabrak mobil. Tak ada kegiatan manusia tak berisiko. Hanya saja, dalam episode ini risikonya, aduh…. Baca sendiri, deh.
-------------------


Kalau saya larut terganggu keuangan, bisa stress sendiri. Bisa gila. Padahal, perjalanan di Shinkansen ini indah. Saya harus tenang, ikhlas, tapi lurus ke tujuan (Ini nasihat Pak Dahlan, lho...). Supaya bisa menikmati keindahannya, sekaligus tugas sukses. Yang penting, kantong sudah saya gembok. Gak beli-beli.

KA ini luar biasa bersih (untuk ukuran saya). Kabin harum semerbak, interior mirip pesawat yang terawat. Lantainya karpet merah, kayaknya berbahan karet, mantap di tapak sepatu. Deret kursi dua-dua, lega untuk selonjor, bahkan bagi tubuh orang Barat dewasa. Kursi juga empuk.

Goncangan nyaris tak ada. Dengan kecepatan 225 km/jam (1989) tidak terasa naik KA(ukuran KA kita). Saya mengeluarkan sebutir telur rebus dari tas (sssst... ngambil beberapa dari breakfast hotel Sheraton Nagoya, tadi) saya letakkan di meja kecil. Apakah telur ini bakal jatuh? Ternyata tidak. Hanya goyang-goyang sedikit.

Toilet, wah... jangan tanya. Bersih mewah,mirip di pesawat. Dilengkapi sensor penyiram, kaca rias, dan harum. Dengan jumlah penumpang 3 miliar orang per tahun (saat itu) sesuai brosur, bisa dibayangkan betapa rajin petugas kebersihan toilet. Kalau petugasnya orang kita, mungkin sudah merasa terbongkok-bongkok. Mestinya pegawai PT KA melihat semua ini, dan meniru.

Di luar, hamparan kebon sangat luas, sejak meninggalkan kota Nagoya tadi. Di kejauhan tampak Gunung Fuji (tertinggi di Jepang) yang puncaknya tertutup awan putih. Pemandangan jadi terasa indah, mungkin karena KA-nya nyaman.

Di KA ini kebencian saya ke Pak Dahlan memudar, mengingat pesannya: “Saya beberapa kali naik Shinkansen. Kamu rasakan nanti, lalu tulis versi kamu sendiri,” ujarnya. Allah menggerakkan hati Pak Dahlan agar memerintah saya, menikmati keindahan ini. Alhamdulillah…

GAYA KINGFISHER TERKAM IKAN

Nagoya-Tokyo (442 km) ditempuh 1 jam 50 menit. Tiba di Stasiun Shinjuku, Tokyo, jelang tengah hari. Saya menuju telepon umum, menghubungi Seichi Okawa. Kami sudah janjian lewat telepon sejak saya di Jakarta.

Okawa wartawan Yomiuri Shimbun, koran terbesar kedua Jepang di bawah Asahi Shimbun. Okawa merangkap wartawan Majalah Tempo yang sesekali mengirimkan tulisan ke JP. Dia doktor anthropologi budaya yang mengambil tesis Suku Asmat, Papua. Jadi, dia lancar berbahasa Indonesia.

Saat saya telepon, dia sedang di kantornya di Shinjuku, tak jauh dari stasiun. Saya sampaikan niat saya menulis tentang Shinkansen. dia lalu memberi petunjuk menemui kepala penerangan Japanese National Railways, pengelola Shinkansen.

Kantornya di Distrik Shibuya, Tokyo. Lengkap diberi petunjuk arah naik bus dari stasiun. “Setelah itu, Djono San datang ke kantor saya,” katanya. Ok. (kata San di belakang nama artinya saudara atau mas)

Saya ketemu narasumber. Pemuda 35 tahun (saat itu Mei 1989) yang saya sudah lupa namanya. Jabatan dia kepala humas, sarjana aerodinamika dari Universitas Tokyo. Bandannya tinggi ramping, mengenakan dasi yang ikatannya dikendorkan, tanpa jas. Penampilannya trendy, dan kelihatan cerdas.

Shinkansen (sejak 1964) pasti sudah ditulis dari berbagai angle oleh banyak media massa dunia. Saya mengambil angle: Mengapa KA ini tidak menimbulkan berisik saat masuk terowongan?

Itu saya rasakan saat masuk terowongan, menembus bukit selama sekitar 5 menit lebih. Bandingkan KA Depok-Jakarta (kecepatan 50 km/jam) jelang masuk Stasiun Cawang, melewati terowongan kecil di bawah jalan MT Haryono. Berisik sekali.

Penjelasannya ternyata menarik (bagi saya). Bentuk lokomotif Shinkansen yang berujung lancip seperti peluru itu rahasianya. Pencipta (saya lupa namanya) mendapat ilham dari paruh burung Kingfisher, burung pemakan ikan. Nama Indonesianya kalau tak salah, Raja Udang, sebab paruhnya lancip warna merah seperti udang.

Dijelaskan, saat KA masuk terowongan dengan kecepatan 225 km/jam, maka udara di dalam terowongan bagai dihantam benda besar yang bergerak super cepat. Semestinya, memang berisik luar biasa.

Dia paparkan teknis ilmiah perhitungan gaya tekan pemampatan udara. Saat menjelaskan, dia membuka beberapa buku tebal. Intinya, menghasilkan ledakan berkelanjutan.

“Untuk menghilangkan berisik, kami menggunakan dua cara. Pertama, bangunan peredam suara yang ada di dua ujung terowongan. Kedua, lokomotif paruh burung itu,” tuturnya.

Pencipta Shinkansen mengamati burung Kingfisher saat memangsa ikan. Ketika dia melihat ikan di permukaan air, segera menukik. Lalu… cleeep. Ikan tertangkap paruh. Perburuan ini nyaris tak pernah lolos. Padahal, saat burung sudah dekat air, ikan selalu lebih dulu masuk ke dalam.

Mengapa ikan kena? “Karena paruh Kingfisher lancip, hampir tidak menimbulkan bunyi saat menusuk air,” katanya. Andai paruhnya tumpul, bukan saja berisik, tapi menimbulkan kecopak air, mengagetkan ikan. Subhanallah… alam menyimpan teknologi canggih sejak jutaan tahun lalu.

Penjelasan lancar dan gamblang. Saya duga, pasti ini sudah banyak ditulis berbagai media massa. Namun, media massa kita saat itu belum. Jadi, saya tulis digabung deskripsi naik Shinkansen.


HOTEL 18.000 YEN, TERPAKSA OK

Saya tiba di kantor Okawa sore, disambut senyum pemuda berambut gondrong itu. Usianya hamper 40, kulitnya putih, tinggi sekitar 170 cm, berbadan gemuk. Baru kali ini saya ketemu dia, tapi saya sok akrab, begitu juga dia. Kami salaman berpelukan seperti sahabat lama tak jumpa. Lalu saya mengeluarkan sesuatu dari tas.

“Ini dari Indonesia untuk Okawa San,” kata saya sambil menyodorkan satu slop rokok Gudang Garam kretek merah. Melihat itu wajah dia binar merona. “Wow…..” teriaknya sambil mengatakan bahasa Jepang yang saya tidak mengerti. “Ini buat saya?” tanyanya. Saya mengangguk. Dia kembali memeluk saya.

Soal rokok kegemaran Okawa ini saya diberitahu Redpel JP, Nani Wijaya. “Rokok merek itu bagi Okawa lebih berharga dari emas,” ujarnya. Sebab, Okawa selama tiga tahun meneliti suku Asmat di Papua, telanjur kecanduan itu. Sedangkan di Tokyo, tidak ada yang jual.

Selama kami ngobrol, saya heran. Kantor ini hanya ada Okawa dan seorang gadis yang selalu mengetik. Mana wartawan lain? “Ini kantor saya pribadi,” jawabnya.

Wartawan Jepang beda dengan di kita. Mereka menyewa ruang kantor sendiri, memiliki sekretaris sendiri. Penugasan dari surat kabarnya melalui telepon, lalu berita diketik dan dikirim via faksimil ke kantor surat kabar. Tentu saja mereka mampu menyewa kantor, tiras surat kabarnya hampir 19 juta eksemplar per hari.

Okawa menjamu saya dengan makanan Jepang. Namun, sebenarnya saya ingin tidur di kantor ini selama dua hari di Tokyo. Cuma, tidak enak menyampaikannya.

“Menginap dimana?” tanya Okawa. Saya jawab belum jelas, karena keuangan saya terbatas. “Sebentar, saya carikan hotel murah,” ujarnya sambil beranjak menuju meja telepon. Dia menghubungi beberapa orang.

Lalu, “Ada ini hotel 25.000 Yen, Ok?” tanyanya, mengagetkan saya. Tanpa pikir, saya jawab, carikan yang lebih rendah dari itu. Hati saya dag dig dug. Saya memperkirakan, berapa sisa uang. Mungkin tidak sampai 30 ribu. Dia telepon ke beberapa nomor lagi.

Akhirnya, “Ini yang terendah 18 ribu. Semua hotel penuh, sebab hari ini awal musim libur panjang sekolah,” katanya. Terpaksa saya mengangguk. Saat Okawa kembali menelepon, saya ke toilet, menghitung sisa uang. Aduh…. Tinggal 32 ribu dan beberapa recehan. Matilah aku….


Saat saya keluar dari toilet, Okawa berkemas-kemas. Hari memang menjelang gelap. “Djono San akan diantar driver saya ke hotel. Tenang saja, nikmatilah Tokyo,” ujarnya. “Ini saya juga siap pulang. Bila lewat pukul enam, kena biaya over-time,” tambahnya. Wuiiih… berarti memang saya tidak mungkin tidur di kantor ini.

Sekretaris menelepon sopir yang segera datang, lantas siap mengantar saya. Kami berpisah. Saya menyalami Okawa. Dia membungkuk, saya ikut juga.

Ternyata hotel pilihan Okawa berbentuk pencakar langit, entah daerah mana itu. Check ini saya katakan untuk sehari, bayar 18 ribu. Diberi kamar di lantai 49. Sisa uang 14 ribu dan recehan. Sungguh saya melangkah lemas menuju lift.

Di kamar, saya membongkar isi tas. Dua hari lalu saya sempat menyimpan uang di tas. Barangkali masih ada sisanya. Kosong. Baru ingat, saya membayar makan di McD dengan uang dari tas. Berarti, asli tinggal 14 ribu plus receh. Keberangkatan lusa 17.30.

Saya memandang keluar jendela kaca. Kamar ini menghadap ke barat. Tampak jelas matahari hampir terbenam di ufuk barat. Lalu lintas di bawah begitu meriah. Aneka lampu menyala dimana-mana. Tokyo begitu meriahnya. Saya terbenam di kemeriahannya.

O… AKU TERBENAM KIAN DALAM

Saya terbangun 08.00 lewat, tak ada yang saya lakukan. Saya sudah tidak bisa berpikir liputan. Di kepala saya hanya ada ini: Tidur dimana nanti malam?

Saat galau, saya ingat bahwa hotel di Osaka dan Nagoya menutup waktu breakfast 09.00. Maka, bagai disengat lebah saya meloncat ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian saya di lift, turun mencari tempat breakfast. Kalau sampai ketinggalan, artinya sarapan harus bayar. Tambah ancur ini.

Benar kata Okawa, hotel ini mungkin penuh. Tempat breakfast ada belasan ruang. Semuanya penuh manusia. Tapi, dengan ramainya pengunjung, saya bisa dengan mudah memasukkan makanan ke tas pinggang. Telor rebus, roti, kentang, minuman, apa saja saya, membuat tas penuh. Fokus saya kini: Survive.

Saat makan, ingat ucapan Okawa: “Hari ini (kemarin) awal musim libur panjang.” Jangan-jangan…. Aduh, kemarin saya diminta konfirm ke Garuda, tapi belum sempat saya lakukan.

Makanan belum habis, saya lari ke telepon umum hotel, menghubungi konter Garuda di Bandara Narita. Hasilnya: “O, bapak terlambat konfirm. Tidak bisa berangkat besok. Tempat diisi penumpang lain,” kata wanita di seberang sana.

Trus… bagaimana? “Bapak bisa berangkat tanggal… (saya lupa tanggalnya, tapi 10 hari kemudian). Apakah bapak ok?” jawabnya balik bertanya.

Kepala saya mendadak pening. “Saya wartawan rombongan Garuda yang mestinya berangkat dari Nagoya kemarin. Tolonglah beri satu seat untuk besok,” desak saya. Wanita itu tahu semuanya.

Dia sudah menerima pesan dari kepala rombongan (orang Garuda, saya sudah lupa namanya) kemarin pagi. Tapi, kesalahan saya tidak confirm sore harinya. Sedangkan kini peak season, saatnya orang bepergian.

Sialnya, saya tidak mencatat nomor telepon rumah kepala rombongan di Surabaya (saat itu hanya beberapa orang saja yang punya HP). Akhirnya, saya minta tolong petugas konter Garuda untuk menghubungi kepala rombongan yang kini sudah tiba di rumahnya.

Setiap lima menit saya telepon petugas konter. Pada telepon keempat dapat kepastian: “Saya sudah hubungi Bapak Kepala Rombongan. Keputusan tanggal… (saya lupa, tapi seminggu kemudian),” wanita itu.

“Tolonglah, saya berangkat besok,” suara saya mulai lemah. Dia jawab: “Tidak bisa pak. Ini peak season. Jadwal tadi sudah maksimal.” (terpaksa bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.