Terbenam di Hiruk-pikuk Tokyo (2)



“Jangan seperti katak dalam tempurung,” titah guru SD saya, dulu. Dalam benak saya waktu itu: Saya harus jadi katak liar, jangan sampai dikurung tempurung. Tapi, kebebasan itu tidak murah.
-----------------------


Perjalanan Bogor - rumah terlalu lama, sebab motor saya pakai bensin campur. Maksudnya, campur dorong, kehabisan bensin di tengah jalan. Saya dorong sampai ketemu SPBU, lalu tanya ke petugasnya, “Mas, saya kehabisan uang. Bolehkah saya beli, ninggal KTP?”

Untungnya dia mau. KTP saya dia teliti, memastikan tidak kadaluarsa. Dia memandang heran ke saya, “Mas wartawan, ya?” tanyanya. Aduh… biyung. Secara tidak sengaja saya sudah memalukan korps. Apa boleh buat, saya mengangguk.

Ketika dia mengisi bensin, mendadak saja saya ingat Pak Dahlan yang (zaman itu) kemana-mana sering tidak membawa uang. Apakah begini, ya cara Pak Dahlan mengatasi, jika ada problem di tengah jalan? (Mohon paragraf ini diabaikan, sebab saya hanya mereka-reka).

Tiba di rumah ba’da Isya. Saya telepon ke kantor, melapor ke Kabiro Edhi Aruman, paspor sudah saya pegang. “Trus… apa yang harus saya lakukan, Mas?” tanya saya. Edhi: “Ya sudah. Malam begini tak ada yang bisa kau lakukan. Saya kira kamu sudah sekalian pegang visa.”

 Inilah virus kerja Pak Dahlan, jika diserap secara berlebihan. Jadinya tidak logis. Dia abaikan hitungan jarak dan waktu. Emangnya ngurus paspor bisa dalam beberapa menit? Apalagi di Bogor, sedangkan visa di Kedutaan Besar Jepang, Jalan Thamrin, Jakarta. Logika kerja begini berkembang subur di JP waktu itu.

Pagi-pagi ngantor, mengambil surat pengantar, langsung mengurus visa. Ternyata pengurus visa antre puluhan orang. Berkas ditumpuk urut sesuai antrean. Saya gelisah. Kepada local staff, saya katakan, saya wartawan yang harus berangkat ke Osaka di penerbangan pukul 16.00 sore ini. Dia menjawab, “Maaf, siapa pun harus antre.” Menggelisahkan.

Gaya kerja disini beda dibanding di Imigrasi. Meskipun berkas menggunung, panggilan sangat cepat. Saat ngobrol dengan pengantre, hati jadi was-was. Dia, “Pelayanan disini sangat cepat. Saya sering ke Jepang. Paling lama visa keluar tiga hari,” katanya. Paling cepat? tanya saya. “Ya… ada yang sehari.” Aduh…

Untung, sebelum rehat siang saya sudah dipanggil. Hanya konfirmasi data. Namun, saat petugas mengamati data, dia kaget. Dia baru tahu saya anggota rombongan penerbangan perdana Garuda Indonesia rute Surabaya – Osaka.

Mestinya saya tidak antre di pemohon visa umum, tapi di counter khusus. Mungkin ada kepentingan pariwisata Indonesia-Jepang disitu. “Anda harus cepat. Tiga jam lagi rombongan dari Surabaya sudah berangkat, transit Jakarta, lalu ke Osaka,” katanya.

Visa di tangan, saya ke kantor mengambil tas. Di kantor ketemu Pak Dahlan yang kebetulan ke Jakarta. Dia menyapa, “Anda berangkat kapan?” Saya sebutkan. Dia kaget, “Lho, anda harus cepat. Kalau ketinggalan, saya nggak mau tahu,” katanya. Siaaap, pak.

Sebelum berangkat, dia menugaskan saya membuat laporan KA Shinkanzen, tercepat di dunia saat itu. “Disana kamu jalan saja kemana-mana, lalu buat laporan. Wartawan itu kalau kesasar, semakin baik,” wejangannya.

Lantas, saya mengambil sangu di bagian keuangan. Dijelaskan Endang, bagian keuangan, karena semua biaya dan uang saku saya ditanggung pengundang, maka sangu tidak sebesar standar penugasan luar negeri JP. Sangu saya USD 5 per hari. Saya, pokoknya siaaap…


GALAU, DIKUNCI PANITIA

Pesawat kami hampir mendarat di Bandara Kansai, Osaka, pukul 02.00 (24.00 WIB). Kota terbesar kedua Jepang ini rupanya tak pernah tidur. Dari udara tampak kendaraan di jalan raya masih mengular. Lampu warna-warni memendar di segala penjuru kota.

Kami turun disambut rombongan staf Garuda. Ada seremonial pengalungan bunga. Wartawan di rombongan kami ada 12, tiga dari Jakarta. Selebihnya, puluhan pengusaha travel biro dari Jakarta dan Surabaya. Semua kelelahan digoyang delapan jam penerbangan.

Rombongan kami langsung dibawa ke Hilton. Heran juga, dini hari gini gadis-gadis cantik Jepang yang menyambut kami di hotel wajahnya ceria semua. Mereka mengenakan kimono, dan selalu membungkuk setiap ada tamu masuk.

Jika cewek petugas hotel berkimono rapat, cewek-cewek tamu berpakaian sangat terbuka. Disitulah mulusnya. Gaya berpakaian mereka bukan lagi berciri Timur. Mereka sudah liberal.

Liberalisme seks kian jelas, di telepon umum hotel. Ada buku telepon tebal di tiap unit telepon. Sekitar 50 halaman bagian akhir, ada foto cewek-2 “call me” lengkap dg spesifikasi. (Ternyata itu ada di semua telepon umum).

Bagaimana jika itu dilihat remaja? Bagaimana jika call me adalah saudara, kerabat, tetangga mereka? Hebatnya, liberalisme tidak keluar Jepang, misalnya, melalui film, buku, media massa. Yang keluar film-2 seperti Oshin, Samurai, dan sejenisnya. Bahkan sampai sekarang.

Jadwal acara rombongan ternyata sangat padat. Dari pagi sampai jelang malam, acara terus berganti-ganti pemaparan potensi wisata Indonesia – Jepang. Praktis tak ada jeda, kecuali makan dan tidur. Panitia ‘mengunci’ para wartawan harus ikut semua acara, kecuali rela kehilangan uang saku dan fasilitas lain. Tiga hari di Osaka, dilanjut di Hotel Sheraton, Nagoya yang juga padat acara.

Tugas dari Pak Dahlan tidak bisa saya laksanakan. Padahal, KA Shinkansen rute Osaka – Tokyo (515 km) mestinya sudah bisa saya coba saat di Osaka. Tapi saya ‘terkunci’ acara.

Hari terakhir, panitia menawari wartawan, boleh tidak ikut pulang bersama rombongan. “Tiket pulang kalian bisa kami cancel berangkat dari kota mana saja, kapan saja. Tapi, kami tidak menyediakan fasilitas apa-apa selain cancel,” kata kepala rombongan.

Ternyata yang berani tidak ikut rombongan hanya 3 wartawan: Kompas, Suara Pembaruan, dan saya. Kami bertiga sama-2 minta keberangkatan diundur 2 hari. Tapi kami berpencar. Kompas dan Pembaruan ke Osaka, saya pilih Tokyo

Ada kawan wartawan menakuti saya, “Biaya hidup di Tokyo termahal di dunia, lho. Uang saku dari panitia lima hari itu bisa habis dalam sehari,” katanya. Saya tetap nekat. Toh masih ada sangu dari kantor. Ingat tugas Pak Dahlan: Tulislah Shinkansen. Wartawan kesasar, justru bagus. Walaupun peringatan kawan itu membuat saya ketir-ketir juga.

MAJU… PANTANG BALIK KUCING

Akhirnya saya bebas dari ‘gembok’ rombongan. Saya tak lagi jadi katak dalam tempurung. Kini saya jadi katak bebas.

Kami berpisah di lobby Sheraton Nagoya. Tujuan saya ke stasiun, naik Shinkansen ke Tokyo. Ketika tiba di stasiun, turun dari taksi, baru saya merasakan: Peringatan kawan tadi mungkin mungkin benar. Ongkos taksinya mahal.

Makan, saya pilih Mc Donald. Mengikuti saran pengusaha travel peserta rombongan yang sudah sering ke Jepang, katanya, lumayan murah dibanding restoran Jepang. Ternyata tidak juga (menurut ukuran saya). Sekali makan – itulah makan pertama bayar sendiri – 100 Yen atau setara USD 5. Berarti, uang saku dari kantor per hari, senilai sekali makan McD. Busyet….

Balik ke rombongan, tidak mungkin saya lakukan. Dalam bahasa Surabaya, itu namanya “balik kucing”. Memalukan. Lebih baik mbambung (menggelandang) daripada balik kucing.

Saya beli tiket Shinkansen 10.000 Yen. Whuiiik… setara Rp 1 juta (zaman itu). Saya menelan ludah, tenggorokan kering. Diantara kawan-2 rombongan yang saya tanya, tidak ada yang tahu pasti harga tiket Shinkansen. Ada yang bilang 1.000 Yen, 2.000 Yen. Info mereka menyesatkan,

Masuk KA disambut cewek Jepang cuantik, memberi saputangan putih dingin. Sambil tersenyum dia membungkuk. “Ohayou gozaimasu…” ujarnya sambil menyodorkan nampan isi tumpukan sapu tangan. Saya tidak lagi konsen pada cantiknya senyuman gadis itu, tapi kira-kira bayar berapa, ini? Jiangkrik…

Namun, semua penumpang mengambilnya begitu saja. Saya ambil juga. Saya membungkuk juga, “Arigato Gozaimasu… “ ujar saya. Cewek itu tersenyum senang.

Baru saja KA berangkat, dua cewek cantik-cantik berjalan menawari kopi atau teh, serta sepotong roti kepada penumpang. Karena saya duduk di bagian depan, maka tidak ada contoh soalnya, apakah ini bayar atau tidak?


Tidak usah repot-repot, saya tolak saja. Setelah gadis itu lewat, dan menawari penumpang di belakang, saya meliriknya. Eeee… ternyata itu gratis. Gak ngomong-2, mbak. Tahu gitu…

Tak lama kemudian cewek-cewek cantik lewat lagi. Kali ini membawa nampan berisi piring-piring makanan khas jepang, ada juga seperti nasi goreng. Semua piring tertutup plastik. Ini asli saya tolak. Dan, kali ini saya benar. Terbukti, jarang penumpang yang mengambilnya.

Saya baru merasakan awalnya kemahalan kota besar dunia. Kini saya percaya pada nasihat kawan wartawan tadi. Belum masuk Tokyo, kayaknya duit saya sudah tinggal separo. Saya benar-benar jadi wong ndeso bersangu mepet. (bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.