Terbenam di Hiruk-pikuk Tokyo (1)


Orang paling saya benci: Dahlan Iskan, saat peristiwa ini terjadi. Karena dia saya sengsara, terlunta-lunta di negeri orang. Tapi, ada hikmah di balik itu. Apakah pembaca bisa mengambil hikmahnya? Semoga saja.
-------------------------


Suatu hari di Mei 1989 kantor Jawa Pos Surabaya mendapat undangan dari asosiasi pengusaha travel. Undangan untuk 1 wartawan liputan 5 hari ke Osaka, Jepang. Biasanya, wartawan ke luar negeri ditentukan redaktur masing-2 rubrik. Kali ini agak lain, Pemimpin Redaksi Dahlan Iskan yang menentukan.

 “Biar dwo (saya) yang meliput ini,” ujar Pak Dahlan kepada Redaktur Pelaksana (Redpel). “Sebab, dia belum pernah keluar negeri. Juga, liputan Talangsari (karya saya itu, lho… jangan lupa) bagus,” ujarnya. Mungkin semacam hadiah.

Redpel lalu menghubungi Kabiro Jakarta, menyampaikan pesan tersebut. Sebab, posisi saya saat itu wartawan JP Biro Jakarta.

Kabiro Jkt Edhi Aruman, pagi-pagi menelepon rumah saya. “Dwo, kamu besok sore berangkat ke Jepang. Kamu punya paspor?” tanyanya. Saya gak punya-lah. Buat apa pegang paspor? Edhi menggerutu: “Mangkanya, semua wartawan sudah saya perintahkan ngurus paspor. Kalau ada tugas dadakan begini ini repot.” Dia mengomel.

Meski saya belum pernah ke luar negeri, tapi saya tahu, mengurus paspor butuh waktu. Belum lagi minta izin visa. Kayaknya tidak mungkin saya berangkat. Kabar mendadak yang sangat menggembirakan, berubah seketika jadi mengecewakan. Sedih.

Saya terpaksa, pasrah, “Ya sudah, Mas. Tugaskan wartawan lain yang punya paspor,” kata saya. Ternyata, Edhi ngotot, “Persoalannya, ini perintah Pak Dahlan: Harus dwo. Undangan ini saja mestinya untuk wartawan JP Surabaya, malah kamu yang ditunjuk.”

Busyet… Gila bener ini. Perasaan gembira langsung muncul lagi. Tapi, kini dibarengi rasa tertekan. Bingung. “Trus… bagaimana caranya?” tanya saya. Edhi tak segera menjawab. Mungkin dia bingung juga.

Lalu, “Sudah, begini saja. Hari ini kamu tidak usah liputan. Sekarang berangkat ke kantor. Saya buatkan surat untuk ngurus paspor. Cepat berangkat…” katanya setengah berteriak.


Wahai, Jepang… Tunggulah Aku…
Waktu pukul 07.00. Saya mengkalkulasi: Rumah saya di Depok, masuk wilayah Kantor Imigrasi Bogor, di arah selatan dari rumah. Sedangkan dari rumah ke kantor di Jalan Prapanca, Jkt, di arah utara, jaraknya 33 km. Waktu tempuh dengan motor paling cepat 1,5 jam. Jalanan setiap pagi padat merayap.

Dari kantor meluncur ke Bogor (balik lagi melewati pagar depan rumah) jarak sekitar 60 km. Waktu tempuh sekitar 3 jam. Itu pun saya masih harus mencari letak Kantor Imigrasi Bogor. Jadi, tiba di lokasi persis saat karyawan istirahat makan siang, yang biasanya sampai 1,5 jam.

Wadoh… ancooor pese’na telor (remuklah telor saya, dibuat mondar-mandir naik motor). Pak Dahlan ini kalau tidak menyiksa saya, mungkin badannya gatal semua. Dasar…

Tapi, betapa pun tugas harus dilaksanakan. Situasi begini ‘kan sudah biasa. Masak wartawan Republik Indonesia pakai mengeluh? Andai gagal, ya sudah. Ukurannya, saya sudah berusaha maksimal. Mentok.

Motor Suzuki A 100 saya pacu, naik-turun trotoar, menghindari macet. Shock breaker belakang sampai menjerit-jerit, seperti minta ampun. Pejalan kaki sumpah-serapah, jalan mereka saya potong. Tiba di kantor 08.25. Lumayan, lebih cepat 5 menit dari prediksi.

Saya tergopoh-gopoh, ketemu Bu Ning (Office Girl). “Ada apa, Mas?” sapanya. “Mana Mas Edhi?” jawab saya. Ternyata Edhi sedang mandi (Kabiro sering menginap di kantor). Saya gedor pintu kamar mandi. “Mas, mana suratnya?” teriak saya.

Mungkin dia kaget, jadi misuh-misuh (mengumpat), “Jiancuk… aku lagi be’ol, kamu ngageti. Kurang ajar…” teriaknya pula. Saya: “Lho… waktunya mepet ini. Suratnya sampean letakkan dimana? Biar saya ambil sendiri.”

Surat sudah dia buat, dia simpan di tas. Sialnya, dia melarang saya mengambil sendiri, sebab katanya, tas itu banyak duitnya. Diampuuut… saya terpaksa menunggu.

Saya baru meninggalkan kantor hampir 09.00.

Di jalan bertarung lagi dengan keruwetan lalu lintas. Selain patuh pada tugas, bayangan gadis-gadis Jepang yang cantik, kulit putih mulus kayak di film-film, berkelebat di mata saya, setiap menyalip deretan mobil yang macet. Deru knalpot bus kota menyembur hitam, di telinga saya terdengar seperti: Geisha… geisha… geisha…

“Jalur Cepat Cuma 400 Ribu”
Kantor Imigrasi Bogor baru saja rehat, saat saya tiba hampir 12.00. Cocok dengan perkiraan saya.

Dalam kondisi galau, saya malah dikerubuti calo-calo. “Mau ngurus paspor, mas? Sini, saya uruskan,” kata mereka sambil berusaha merebut tas saya. Tak kuhiraukan. Terus saja jalan masuk halaman kantor.

Petugas loket menyatakan, “Sudah istirahat, mas. Nanti saja jam 13.00,” katanya. Saya katakan, “Saya wartawan Jawa Pos, mau wawancara Pak Kepala.” Maka, wajah pemuda loket itu berubah, memandang saya dengan teliti. Dia bilang, “Tapi, Pak Kanim (Kepala Kantor Imigrasi) sedang makan, tak bisa diganggu.”

Saya menyodorkan surat, “Kalau begitu sampaikan ini saja ke beliau sekarang. Sangat penting soalnya.” Dia seperti ragu-ragu menerimanya, membolak-balik amplop tertutup itu. Saya mendesaknya, “Kalau bisa segera, Mas. Soalnya urgent. Saya tunggu.”

Dia masuk ke ruang dalam, saya menunggu. Mondar-mandir melihat jam. Hampir satu setengah jam, pemuda itu tak kelihatan di loket. Padahal, kantor ini akan tutup dua setengah jam lagi. Perut saya mual, menahan stress.

Saya gelisah, sambil terus menolaki para calo yang secara bergantian mendekati saya. Calo-calo ini gigih merayu, “Kalau jalur biasa selesainya tiga bulan, Mas. Lewat saya sebulan juga jadi. Cuma 400,” ujar salah satunya. Ampun….

Hampir 13.30 loket dibuka, panggilan dimulai. Saya mendekati pemuda itu, “Bagaimana?” tanya saya. Dia langsung paham. “Ntar, mas akan diurus pak Yayat. Tunggu saja,” jawabnya, sambil melanjutkan panggilan.

Saya lantas mencari tahu dari calo, siapa nama Pak Kepala. Diberitahu (saya lupa namanya, bukan Yayat). Mungkin Yayat orang kepercayaan Pak Kepala. Tapi, hati saya plooong…. Ada yang mengurus, nih. Mantap-surantap.

Benar saja. Tak lama nama saya dipanggil, tapi bukan dari arah loket, melainkan dari pintu ruang yang baru dibuka. Saya maju, mendekati lelaki setengah baya yang memanggil, saya salami, sambil melirik tag name di dadanya, “Pak Yayat, saya Djono. Kelihatan anda sibuk sekali, nih,” sapa saya, sok akrab.

Dia menyambut sambil menggerutu, “Wah… anda ini merepotkan saya. Wartawan mintanya selalu mendesak begini. Tidak bisa selesai hari ini. Paling cepat besok siang. Itu sudah mati-matian kami bekerja,” katanya. Saya lemas… Putuslah harapanku…


Ini, Saatnya Main Drama
Improvisasi, saya main drama, memelas, “Kalau besok, saya bisa langsung dipecat, Pak… Anak saya baru saja lahir, bisa telantar, Pak…” ujar saya stel kendor. Dia memandang heran, “Masak sampai segitunya, sih?” ujarnya. Saya cepat menyahut, “Sumpah, bos saya Pak Dahlan raja tega, Pak.”

Dia diam membisu. Barangkali dia berhitung waktu, atau menunggu inisiatif sogokan dari saya. Rasanya sogokan tidak mungkin, sebab dia tahu saya wartawan. Masak sih dia berani? Lagi pula, saya cuma dibekali kantor Rp 25 ribu. Katanya, itu tarif resmi. Uang saya pribadi Rp 12 ribu, belum isi bensin dan makan. Ruwet sekali.

Saya terpekur dalam kegalauan, dia beranjak berdiri. “Sebentar, ya. Mudah-mudahan tukang foto belum pulang,” ujarnya.

Wajah saya serasa dihembus angin segar, ketika dia menepuk pundak saya sambil berjalan. Saya provokasi, “Tolonglah, Pak. Saya bisa dipecat kalau….” Dia langsung memotong, “Ya… ya… ya… “ ujarnya, bergegas pergi. Saya lekas sadar diri, anjriiiit… main drama jadi over-acting.

Urusan selanjutnya sungguh tergopoh-gopoh. Saya isi berkas, lari foto kopi dokumen. Saat masih menunggu antrean foto kopi, saya dipanggil-panggil. “Cepat… cepat… foto dulu. Petugasnya mau pulang,” kata seorang petugas, bukan Pak Yayat. Saat menuju ruang foto, saya lihat Pak Yayat membawa berkas saya, sibuk keluar-masuk ruangan, rupanya minta berbagai stempel.

Selesai foto, sidik 10 jari. Saat masih berlangsung, petugas lain teriak-teriak, “Djono ini mana kopi dokumennya?” teriaknya pada Pak Yayat. Dia tidak tahu, orang yang dia maksud ada di sebelahnya. Saya menyahut, “Sebentar, Pak. Selesai sidik jari ini, saya ambil di foto kopi di depan.” Kayaknya tahapan berlangsung acakadul.

Jelang 16.00 semua proses selesai. Saya diminta menunggu. Satu demi satu pegawai pulang, termasuk Pak Yayat. Dia tersenyum renyah ke saya, “Bukunya hampir jadi. Tunggu sebentar, terakhir nanti tanda tangan Pak Kanim,” katanya, sambil berjalan menuju parkir mobil.

Hati saya tergetar. Getir rasanya. Segera dia saya kejar. Uang di saku ada 11.000 dan recehan kembalian foto kopi. Sedangkan yang 25.000 sudah saya bayarkan ke kasir. Terburu-buru saya rogoh kantong, dan memindahkan semua isinya ke kantong celana Pak Yayat. “Mohon maaf, Pak. Saya berterima kasih,” ujar saya sambil memasukkan uang.

Pak Yayat sebenarnya tidak mau, tapi tangan saya lebih cepat masuk ke kantong dia. Lantas dia saya salami. Dia, lagi, menepuk pundak saya, “Hebat, kamu main sandiwara tadi,” ujarnya. Alamaaaak…. Aku ketahuan…

Tak lama Pak Yayat menghilang dengan mobilnya, saya dipanggil petugas. Saya terima buku paspor dari Pak Kanim. Dia tersenyum saat saya salami. “Wah… wah… wah… saya dikerjain wartawan, nih,” ujarnya. “Jangan tulis berita jelek Imigrasi, lho,” pesannya. Saya mengangguk, pada posisi terdikte pejabat.

Pulang, sebelum starter motor, saya merogoh kantong. Benar-benar kosong blong. Saya belum makan, motor belum minum bensin. Sulitnya hidup ini. (bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.