SSST… ADA ORANG GILA DISINI

Behind the News
Diposting di FB M Jawa Pos, 31 Juli 2011

Orang gila selalu dihindari orang waras. Jika si gila mendekati si waras, yang waras mengalah, menghindar. Bahkan, undangan RSJ (Rumah Sakit Jiwa) Menur, Surabaya, kepada JP di awal 1986, dihindari kawan-2. Akhirnya, saya ditugasi meliput itu. Nasib….
-----------------------------


Jelang petang di Kantor Redaksi JP, Jl Kembang Jepun, Sby, suasana sibuk. Belasan redaktur dan wartawan, masing-2 memainkan mesin ketik kuno Olivetti. Wajah mereka mengkerut. Bunyi hammer huruf mesin menghantam bantalan karet hitam penahan kertas, meriah bersemangat.

Semua memencet keyboard dengan tekanan yang cukup. Sebab, jika tekanan kurang, hammer besi tidak mampu memukul bantalan kertas. Tekanan harus bertenaga. Jadinya, pukulan hammer menghentak bertalu-talu. Tak… tok…. tak… tok…

Saya baru tiba dari liputan. Ada satu meja kosong, segera saya isi. Saat itu wartawan tak punya meja khusus, kecuali redaktur. Sebab, jumlah mesin ketik kurang dibanding jumlah wartawan yg ada. Sehingga, mesin digunakan bergantian.

Redaktur Nani Wijaya berdiri di dekat meja Sekretaris Redaksi, Mbak Oemi. Ia mengamati kertas-2 yang terserak di meja besar kuno itu. “Lho, ini ada undangan untuk besok. Kok belum dibagi ke wartawan?” kata Nani, entah kepada siapa.

Karena yg paling dekat adalah Mbak Oemi, maka ia menjawab: “Nggak tahu, Mbak. Sudah saya serahkan ke Mas Cholili (Koordinator Liputan) seminggu lalu, tapi dititipkan disini dulu.” Cholili kebetulan tdk kelihatan.

Nani mendekati saya. “Dwo, ini buat kamu cocok. Kamu kan setengah gila,” ujarnya. Undangan saya baca. Acara: Syukuran Pembangunan Ruangan Baru RSJ Menur.

Oalaaa… undangan ini sudah ‘dilepeh’ (dimuntahkan) teman-2 sejak beberapa hari lalu. Dua teman (nama dirahasiakan) sudah menolak dg cara pura-2 sibuk, pura-2 kebanyakan acara. Mereka ‘melepeh’ bukan karena tdk ada amplopnya (tentu, yang sy maksud amplop berisi uang). Bukan karena itu, tapi karena ini sulit dijadikan berita layak muat. Itu pula sebabnya diabaikan Cholili.

“Jadikan boks (tulisan features). Saya tahu, kamu ahlinya,” ujar Nani.

“Siap… Saya akan berusaha maksimal,”

Siang, Surabaya panas kerontang. Kota kelahiran saya ini macet di sekitar Pasar Wonokromo. Kendaraan bermotor, becak, sepeda, gerobak pedagang, kereta sapi, tumplek-blek saling potong-memotong. Kata-2: “Jiancuk…” atau “Matamu gak ndelok..” beberapa kali terlontar. Tapi, selepas dam Jagir, motor saya melaju lancar ke timur.

Tiba di RSJ Menur, saya belum terlambat. Parkir motor, jalan menuju pintu yang dijaga beberapa cewek cantik berkebaya. Wajah manis-2, postur langsing-2 membuat hati ini adem. Menghapus bau busuk Pasar Wonokromo dan ‘banger’nya kali Jagir yg telanjur melekat di baju.

“Oh… dari Jawa Pos… Silakan, Mas, mengisi buku tamu,” sambutnya. “Mohon ini dipakai, ya Mas….” ujarnya. Sungguh, ayu-2. Ternyata dia memberi keplek dari karton bertulisan: TAMU. Saya jepitkan ke saku, jepitannya sudah koyak. Tapi bisa juga menempel.

Lokasi acara jauh di belakang, di gedung yg baru dibangun. Saya masuk melewati koridor panjang, ruang berderet-2. Itulah tempat pasien. Mereka bergerombol belasan orang di tiap ruang. Pasien lama berseragam hijau-2 di deretan depan, yg tdk seragam deretan belakang. Gedung baru tak jauh dari situ.

KUDA DIGIGIT MANUSIA

Di salah satu ruang, ada dua pasien pria main catur. Mereka kelihatan serius sekali memandangi papan catur. Tapi, di belakang mereka ada tujuh penonton pria bersorak-sorak, tepuk tangan, jingkrak-2, kayak nonton pertandingan bola. “Ayo… emplok… emplok… cepet diemplok, Mas…” teriak salah satu penonton yg paling dominan.

Uniknya, sang pecatur sama sekali tak merasa terganggu suara berisik. Mereka tetap tekun memandangi papan catur. Saya tersenyum. Tapi kemudian tertegun, saat ada penonton menyambar satu bidak catur, lalu menjejalkan ke mulut salah satu pemain. “Emplok, Mas… emplok..” teriaknya.

Ternyata pecatur membuka mulut. Maka, blus… masuklah bidak ke mulutnya. Tapi digigit, ditahan di gigi depan. Dari jarak sekitar 5 meter saya lihat, yg diemplok kuda. Sebab, kepala kuda muncul di moncong pecatur. Gendhengnya, pecatur pemakan kuda ini tenang, manggut-2, tetap serius ke arah papan.

Penasaran, saya masuk ruangan itu. Ingin tahu papan caturnya. Sebab, dari jauh tidak jelas kelihatan, tertutup oleh para penonton yg jingkrak-2. Setelah dekat, bentuknya begini: Papan catur memang ada, tapi bidak-2nya tidur semua. Diatur berderet, seperti bed pasien RSJ yg juga berderet. Dasar… wong owah.

Acara dimulai, kepala RSJ pidato. Saya lihat ada belasan wartawan yg hadir. Ada para pejabat Kanwil Depkes, juga karyawan RSJ. Saat saya mencabut pena di saku kemeja, keplek tersobek, lepas dari jepitannya. Sekalian, saya lepas jepitannya, saya masukkan semua ke kardus snack yg isinya sudah saya habiskan. Sebab, tak ada bak sampah disitu.

Usai acara formal, makan siang bersama. Saat itulah terjadi keriuhan. Tidak ricuh, tapi riuh. Para pasien RSJ menyerbu deretan makanan yg disiapkan utk prasmanan di taman. Mereka membaur dengan tamu, mengambil makanan. Belasan bodyguard RSJ berbadan gempal-2 seragam putih-2, sibuk menghalau puluhan pasien.

Sebagian tamu takut mengambil makanan, berbaur dengan pasien. Para bodyguard dibantu Satpam bekerja keras. Repotnya, saat ada petugas bertindak keras dengan menghantam perut pasien, ditegur karyawan RSJ. Maksudnya mungkin: Jangan bertindak keras, karena banyak tamu, apalagi ada wartawan.

Tapi, teguran ini malah membuat petugas serba salah. Sebab, orang gila sulit dikendalikan dengan cara halus. Hasilnya: semakin banyak pasien menyebar, ikut makan bersama tamu. Terutama, pasien yg tidak berseragam.

Petugas jadi bertindak terlalu hati-2, khawatir salah tangkap. Suasana serba tidak enak. Petugas mengamati semua wajah orang yang makan. Sebaliknya, yg diamati merasa terganggu. Maka, acara segera diakhiri. Tuan rumah minta maaf.

Saya yg semula kurang semangat, kini bergairah. Dapat berita bagus. Saat semua tamu termasuk wartawan pulang, saya wawancara dengan karyawan dan pembina pasien. Sayang, kepala RSJ sudah menghilang sejak awal keriuhan. Tapi, saya sudah mendapatkan data yg cukup dari pembina pasien, melengkapi deskripsi keriuhan tadi.

SULITNYA JADI ORANG NORMAL

Saat berjalan keluar melewati koridor yg sepi, saya menjumpai keanehan. Seorang bodyguard seragam putih-2 yang jalan hendak berpapasan dengan saya, gayanya aneh. Pada jarak sekitar 10 meter menjelang kami berpapasan, dia memperlambat langkah. Kemudian badannya agak membungkuk seperti pegulat yg siap tarung.

Saya menghentikan langkah, menoleh ke belakang. Kalau-2 ada orang lain di belakang saya. Ternyata sepi. Hanya ada saya dan dia. Berarti dia bersikap begitu ditujukan ke saya. Tak perduli, saya tetap mengayunkan langkah. Jarak kami kian dekat. Saya jalan di sisi kiri dia ke kiri, saya ke kanan dia cepat beralih ke kanan. Padahal, koridor ini lebarnya sekitar 3 meter.

Saat jarak kami tinggal sekitar 3 meter, saya terkejut dengan tegurannya: “Hayoo… mau kemana kau…” Seketika saya berhenti. Saya tatap matanya, dia jadi semakin galak. Badannya yg gempal, bagai singa siap menerkam. Saya tanya: “Ada apa, Mas?” Dia tak menjawab.

Dalam hitungan detik, dia sudah meringkus kedua tangan saya ke belakang. “Lho… lho… Saya bukan orang gila,” bentak saya. Jawaban dia mengagetkan: “Semua penghuni sini bilang begitu.”

“Saya tamu,” bentak saya lebih keras lagi. Dia terpengaruh. Mengamati saku kemeja saya, tapi cengkeramannya tetap kokoh. Saat matanya mengamati saku, sadarlah saya persoalannya: Keplek TAMU sudah saya buang. “Saya wartawan, Mas,” kata saya tak lagi membentak.

Dia kembali mengamati saya. “Gayamu boleh, Dul. Kayak orang normal, he… he… he…” katanya. Wadoh… wadoh… Mbok De…. Saya terjebak kekonyolan ini. Lalu saya membentak lagi: “Hei Mas… ambilkan dompet saya di saku belakang. Ada kartu pers disitu.”

Untung dia mau. Tangan kanannya tetap meringkus saya, kiri mencabut dompet. Saya menunggu. Beberapa detik kemudian dia melepaskan cengkeramannya. Dia minta maaf berkali-kali sambil menunduk. Saya tidak marah, justru ketawa terpingkal-2. Dia kelihatan kaget dg reaksi saya. Lalu dia menyalami sambil merangkul akrab, “Jangan laporkan saya, ya Mas,” ujarnya. Saya menepuk-2 bahunya.

Kami pisah dg keakraban. Saya jalan sambil mengibas-kibaskan lengan yg kayaknya kesleo. Di dekat gerbang, cewek-2 cantik mulai berkemas-2. Salah seorang mereka bertanya, “Mas yg dari Jawa Pos, ya?” Saya mengangguk. “Waduh, saya tunggu-2, saya kira sudah pulang,” ujarnya sambil memberi saya tas plastik dan cenderamata berupa payung.

“Kepleknya mana?” tanya si cewek. Ketika saya jawab hilang saat ada keriuhan makan siang, dia tertegun. Lalu berkata, “Wah… untung sampeyan gak ditangkap bodyguard, Mas. Disini ketat. Sebab, ada pasien lolos nyamar pakai keplek,”

Saya menahan tawa. Bukan saja karena penjelasan cewek cantik ini, tapi juga teringat gurauan Nani saat memberi tugas: “Ini buat kamu cocok. Kamu kan setengah gila.” (Depok, 31 Juli 2011. Selamat berpuasa bagi yg menjalankannya)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.