Solusi Macet Jakarta, Tiru Burung Belibis

 Saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, Bang Yos (Letjen TNI Purn Sutiyoso) pernah mengungkapkan kekhawatirannya begini: Saya khawatir pada 2014 nanti lalu lintas Jakarta stagnan. “Begitu mobil kita keluar dari pintu pagar rumah, langsung berhenti karena macet,” katanya.


Kekhawatiran itu bukan mengada-ada. Kemacetan di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) kini sudah sangat parah. Siapa pun gubernurnya pasti pusing jika diminta mengurai kemacetan. Bang Yos sudah menggulirkan Busway untuk mengurangi penggunaan kendataan pribadi. Busway dan beroperasi sampai sekarang. Tapi, tetap saja Jakarta macet.

Ilmuwan Biokimia dari Australia, Prof Dr Michael Denton, beberapa waktu lalu mengungkapkan hasil penelitian sangat menarik tentang kebiasaan burung Plover Emas (sejenis Belibis). Burung jenis ini punya rutinitas setahun sekali berpindah dari Alaska ke Hawaii. Mereka berpindah untuk menghindari musim dingin yang membeku di Alaska.

Jarak Alaska-Hawaii (dari pantai ke pantai) sekitar 2.500 mil (sekitar 4.000 kilometer) melintasi Samodera Atlantik. Tak ada pulau diantaranya. Berarti burung-burung itu tidak mungkin istirahat. Berdasar penelitian, dengan kecepatan terbang rata-rata 45,45 km/jam perjalanan ditempuh sekitar 88 jam.

Sekali kepakan sayap menghasilkan jarak 16 meter, maka burung harus mengepakkan sayap sekitar 250.000 kali tanpa henti. Bobot burung saat berangkat rata-rata 200 gram, termasuk sekitar 70 gram lemak yang menjadi energi terbang.
Hasil analisis sangat mengejutkan. Pada jarak tempuh tersebut dibutuhkan 82 gram lemak sebagai energi.

Artinya, burung-burung itu kekurangan energi (minus) sekitar 12 gram lemak. Logikanya, semua burung akan kecebur laut kehabisan energi, pada ratusan kilometer sebelum mencapai pantai Hawaii. Kenyataannya, tak seekor pun jatuh.
Hebatnya, setelah burung tiba di Hawaii, diteliti, mereka masih memiliki 6 sampai 7 gram lemak di tubuhnya. Adakah hitungan yang salah?

KUNCI: TEAMWORK, BUKAN UANG

Misteri ini terpecahkan setelah tim peneliti mengikuti burung itu terbang. Dalam perjalanan, burung tidak terbang sendiri-sendiri, tapi berkelompok. Hebatnya, di udara mereka selalu mempertahankan formasi terbang berbentuk huruf V (tampak bawah).

Setelah diteliti, formasi itu mengurangi hambatan udara yang signifikan. Sehingga burung bisa menghemat energi sekitar 23 persen dibanding jika terbang sendiri. Kuncinya di kerjasama tim.

Lalu lintas jalan raya menyangkut unsur jumlah kendaraan, panjang jalan, tata kota, mentalitas polisi lalu lintas, mentalitas pengusaha angkutan, mentalitas pengguna jalan. Kalau meniru Burung Belibis, semua unsur itu harus membentuk huruf V (kerjasama tim yg solid), bukan huruf U: Ujung-ujungnya Uang. (Didedikasikan untuk kicaumania BnR)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.