Oalahh Dahlan Iskan… Tega Nian Dikau



Pemimpin tegas dan terarah, membuat organisasi solid dan cepat mencapai tujuan. Sekaligus berisiko: Bisa menyakiti anggotanya. Semua orang bebas memilih, dipimpin orang tegas atau tidak. Seperti halnya Pembaca cerita ini bebas berpendapat, Dahlan Iskan seperti apa?
--------------------


Suatu hari di akhir 1984, saya tak punya berita. Pagi sampai jelang petang keliling Surabaya yang panas dengan motor, hasilnya nihil. Sudah 4 bulan saya jadi wartawan Jawa Pos (JP), baru kali ini tak punya berita. Rasanya grogi luar biasa.

Zaman itu, Pemimpin Redaksi JP, Dahlan Iskan (kini bos PLN) sangat rajin dan galak. Sebelumnya, saya sudah jadi wartawan Radar Kota. Pemrednya Zawawi Lematang, tapi tak serajin dan segalak Pak Dahlan (dia biasa pakai kode: Dis).

Contoh: Dis setiap sore berjaga-jaga di pintu masuk kantor JP di Jalan Kembang Jepun, Surabaya. Tujuannya satu: Tanya ke setiap wartawan yang masuk, "Beritamu apa?” Selalu begitu. Setiap hari, seperti tak pernah lelah.

Kalau ada wartawan menjawab: "Konferensi pers Dharma Wanita, persiapan acara…" Dis langsung memotong: "Itu bukan berita. Apa lagi?"

Wartawan cepat menjawab: "Ada press release dari Humas Walikota…" Dis sudah memotong lagi: "Juga bukan berita. Apa lagi?"

Bila wartawan menjawab : "Tak ada lagi, Pak.” Maka, Dis akan angkat tangan tinggi-tinggi: "Sudah, kamu pulang saja. Hari ini kamu bukan wartawan Jawa Pos." Artinya, mungkin besok dia wartawan JP, jika membawa berita layak JP. kalau tidak, ya diusir lagi. Seminggu berturut-turut diusir, dipecat.

Bagaimana bentuk berita layak Jawa Pos? Sudah diberikan di briefing Dis, rutin setiap malam. Rumit, dan cara mendapatkannya berat. Saya tahu, sebab sebelum di JP saya sudah wartawan. Standar “Layak JP” lebih tinggi dibanding “Layak Muat”. Berita “Layak Muat” yang dijadikan standar koran-koran lain (termasuk Surabaya Post, saat itu rajanya di Surabaya), belum tentu “Layak JP”.

Kata Dis saat itu, hanya dengan begitu (standar tinggi) kita (Koran JP) bisa mengalahkan Surabaya Post. “Kalau tidak, mending kita bubar saja. Cari pekerjaan lain,” ujarnya.

Saat itu tiras JP sekitar 12.000. Ketika diambil-alih Majalah Tempo dan menunjuk wartawannya (Pak Dahlan) jadi Pemred, 1982 (2 tahun sebelumnya) tiras 2.000. Sedangkan Surabaya Post stabil 100.000 sejak 1970-an. (Belasan tahun kemudian terbukti, Surabaya Post tersungkur).

DIUSIR? SIAPA TAKUT?
Jelang 16.00 saya ngopi di pinggir jalan dekat Tugu Pahlawan. Mau ke kantor, ragu. Kabur (pulang) berarti menyerah. Ke kantor berarti siap malu, diusir. Jika kabur, ada kemungkinan besok atau lusa akan terjadi seperti ini lagi. Kalau sering terjadi, berarti saya tidak layak jadi wartawan.

Akhirnya saya pilih ke kantor, siap malu.

Pukul 16.00 lewat, saya tiba di kantor. Motor tidak parkir di tempat biasa (halaman kantor yang mepet trotoar), tapi di warung kopi, persis seberang kantor. Saya ngopi lagi, sambil mengawasi pintu masuk kantor.

Tampak Dis berdiri, bersandar di meja front desk. Dia menyapa setiap wartawan yang masuk. Sesekali dia ngumpet di balik pintu, tapi saya tahu dia ada. Buktinya, wartawan yang baru masuk selalu tertahan sejenak di dekat pintu. Pasti itu karena ditanya-tanya Dis.

Satu demi satu kawan-kawan saya masuk. Artinya, mereka punya berita beneran, bukan abal-abal. Istilah kami “Layak JP”, bukan “Layak Muat”.

Sekitar sejam menunggu, pria setengah baya masuk kantor, salaman dengan Dis, lantas mereka tertawa-tawa. Mereka ngobrol disitu sambil berdiri. Inilah kesempatan. Hari hampir gelap, Bung. Kalau tak maju sekarang, kapan lagi? Saya maju.

DUH... TERJEBAK dalam TOILET
Saat menyeberang jalan, dada saya bergetar kencang. Spekulasi habis. Andai gagal, malunya tambah fatal. Sebab, selain malu di depan karyawan front desk dan bagian iklan (cewek cantik semua), ada tambahan penonton: Tamunya Dis.

Seandainya saya tak disapa Dis, semuanya bakal beres. Saya sudah punya strategi. Saya akan cari berita via telepon kantor. Dalam waktu singkat, pasti saya bisa menghubungi beberapa narasumber. Persoalan beres.

Ternyata saya lolos. Perhitungan saya tepat. Dis memang melihat saya, tapi tak menyapa. Dia malah senyum, sambil tetap ngobrol dengan sang tamu. Saya cepat lari naik tangga lantai 2, menuju mesin ketik, mengetik "Surabaya, JP”. Sudah. Tujuannya supaya mesin ketik itu tak dipakai wartawan lain. Maklum, jumlah mesin terbatas. Lanjut ke meja telepon, ngebel sana-sini.

Saat ngebel dan belum dapat berita, saya lihat Dis naik tangga, menuju ruang redaksi. Dari jauh, dia sudah melihat saya. Pasti dia mau menyapa. Raut wajahnya kelihatan geram melirik saya.


Sebagai gambaran, mencari berita via telepon: Dilarang keras, kecuali untuk keperluan konfimasi (sudah dapat berita di lapangan, lalu konfirmasi ke pejabat). Sebab, selain pemborosan pulsa, juga – ini paling penting – berita yang dibuat wartawan pasti jelek, tanpa deskripsi.

Segera telepon saya letakkan, dan bergerak menuju toilet. Dis tak punya kesempatan menyapa, karena jarak kami masih lebih dari 10 meter. Apalagi, puluhan wartawan dan redaktur hiruk-pikuk, sibuk luar biasa.

Di dalam toilet, saya benar-benar terdesak. Panik hebat. Harapan saya satu-satunya, moga-moga Dis larut dengan kesibukan. Sehingga dia lengah. Lalu saya bisa kembali ke telepon, atau… nggak usah, deh. Lebih baik kabur, pulang.

Jika saya sampai dicegat Pak Dahlan, saya bakal dipermalukan di khalayak Redaksi. Puluhan Redaktur dan Wartawan akan memandang saya sebagai orang tolol. Takut sekaligus menyesal. Kalau tahu begini jadinya, mending tadi pulang saja.

Betapa pun lamanya di toilet, toh saya harus keluar juga. Begitu pintu saya buka, Dis sudah siaga sekitar dua meter dari toilet. Jadi, selama beberapa menit terakhir dia hanya mengejar saya. "Beritamu apa, Dwo?" sapanya. Wajahnya mengkerut, jelas kelihatan marah. Saya sudah kencing, rasanya kok mau kencing lagi.

PERMAINAN, BARU DIMULAI...
Reflek saya jawab : "Biografi pembunuh yang tertangkap kemarin, Pak". Dia takjub, tak menyangka. Berita pembunuhan yang dimuat semua koran hari ini, menghebohkan Surabaya. Dengan wajah heran, dia bertanya: "Narasumbernya siapa?" Saya berusaha tegas: "Keluarganya, Pak.”

Seketika wajah Dis berubah berseri-seri. Dia lantas berteriak keras-keras: "Dirman.... Dirman.... Ini boksnya. Berita dwo, profil Pembunuh....." Teriakan itu menarik perhatian puluhan wartawan dan redaktur yang semula sibuk. Ini suasana biasa disana, setiap ada berita kategori menarik.

Orang yang dipanggil Dirman adalah Sudirman, Redaktur Kota, beranjak dari duduknya, lalu basa-basi menghampiri Dis. "Siap, Pak," ujarnya. Kemudian Dirman mendekati saya, "Cepat diketik, Dwo. Deadline kita hari ini maju, lho," ujarnya. Saya: “Siap…”

Saya menuju mesin ketik tadi, mencabut kertas bertuliskan "Surabaya, JP”, menggantinya dengan kertas baru. Sebab, boks (berita bawah yang dibatasi garis kotak itu) tak perlu tanda "Surabaya, JP”.

Baru, saya minta izin Dirman, "Saya keluar makan dulu, Mas." Diizinkan, "Cepat, Dwo. Deadline maju lho, ya," katanya mengulang, sambil menunjuk ke wajah saya. Saya gemetar:”Siaaaap….

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.