NOVEL 728 HARI (seri 19) Ini Dia... Dahlanis yg Naksir Eva


“Halo... pak Dwo... apakah lagi sibuk, pak?” suara lelaki masuk ke HP saya, suatu sore di bulan Maret 2013. Layar HP tidak menampilkan nama, melainkan angka. Dia berbahasa Jawa madya, tanda usianya lebih muda dari saya.
----------------------

Meski tak kenal, saya jawab:

“Saya di kantor, tapi gak terlalu sibuk, mas.”

“Apakah telepon saya mengganggu, pak?”

“Nggak... kerjaan saya bicara dan menulis.”

“Apa kabar, sehat pak?”

Saya masih belum kenal suaranya. Logat Jawa Tengah. Sedangkan, tidak banyak teman Jawa Tengah saya. Kebanyakan Jawa Timur.

“Alhamdulillah saya sehat. Sampean masih memimpin perusahaan itu?” tembak saya.

“O... maaf pak. Saya Bagus (samaran). Kita sering komunikasi di fesbuk.”

“Oalaaa... nomermu gonta-ganti, Gus...” saya sok akrab.

“Nggak pak. Waktu saya telepon pak Dwo dulu juga pake nomor ini, kok.”

“Hahaha... waktu itu aku belum sempat nyatat nomormu. Sekarang kucatat.”

Tahu-tahu dia bicara soal Eva Meliana.

Saya baru ingat, ketika dia telepon saya dulu topiknya juga Eva. Waktu itu, dia membaca tulisan saya yang dimuat Irnews.com tentang kehidupan Eva. Dia memuji tulisan saya. Sekarang:

“Kabarnya bapak akan nulis novel kehidupan Eva, ya pak?”

“Kok tau?”

“Eva cerita.”

Hmm... Pantas saja, beberapa hari lalu Eva curhat ke saya, soal Bagus mengacak-acak fesbuk. Kini ganti Bagus mengumumkan ke saya, bahwa dia memang akrab dengan Eva.

Kagak pake cas-cis-cus, saya langsung menusuk:
“Siaaap... saya mulai merekam. Ceritamu ini langsung masuk ke bab empat.”

“Upsss... jangan... jangan... paaaak... maksud saya...”

“Maksudmu ngisi novel...” sergah saya.

“Bukan... bukan pak...,” potongnya. “Saya nggak jadi telepon, deh...”

“Lho... lho... lho... kalo kamu putus telepon, gak sopan.”

Sepi. Dia diam. Saya pun menunggu. Saluran telepon tetap tersambung.

Gertakan saya rupanya membuat dia ragu menghentikan pembicaraan. Tapi, saya juga tahu bahwa dia takut ucapannya dimasukkan dalam cerita novel. Saya cuma ngerjain dia. Cuma bercanda.

“Gini pak...” ujarnya, sambil menyusun kata-kata. “Tapi, ini jangan dimasukin novel, ya... Kalo dimasukin, saya gak mau ngomong lagi.”

“Emang, nulis novel sembarangan, Gus? Novel kisah nyata itu sama seperti berita. Harus dianalisis dulu, tau.”

“O, gitu. Mantap-lah kalo gitu. Gini, pak... apakah Eva sudah punya suami?”

“Bwahahaha... ini baru asli novel....”

Klik... sambungan putus. Tawa saya mendadak tercekik, nyangkut di leher.

Monitor HP kembali ke gambar asalnya, sawah dan gunung. Saya melanjutkan sisa tawa. Kerongkongan rasanya mengkeret, jika ketawa tercekik begitu rupa. Ketawa aja, biar plong.

Lima-sepuluh menit tak ada telepon. Ya sudah. Saya kembali bekerja, mengetik di PC.
Eee... sejam kemudian Bagus masuk lagi. Kali ini lewat SMS. Dia tulis begini:

“Tolonglah pak. Kyknya pak Dwo ngerjain saya, nih. Saya akan serius dengan Eva.”

“Maksudmu, kamu akan menikahi Eva, gitu?”

“Ampuuuun... jangan kenceng-kenceng pak...”

“Eva bersuami, Gus. Jangan diganggu.”

Dia tak segera balas SMS. Mikir? Patah hati? Sedang mengatur napas? Atau komunikasi kami sudah berakhir? Ternyata:

“Pak Dwo kenal suaminya?”

“Gak.”

“Kok yakin.”

“Eva cerita, saya yakin. Kalo suaminya Madura, dan kamu ngotot, darahmu bakal tumpah.”

“Gitu ya pak.”

“Pasti.”

“Ya udah pak. Makasih.”

Komunikasi sekarang benar-benar selesai. Mungkin dia kecewa. Tapi, apa peduliku? Tak ada urusan, saya kembali bekerja.

Tiba-tiba muncul pikiran iseng. Saya SMS dia:

“Telepon kita terekam. SMS dah aku save. Tenang aja...”

Tak sampai semenit. Kontan, dia balas SMS begini:
“Sampean itu aslinya penjahat, pak.”

Dan, aku terpingkal-pingkal....

Akhirnya, cerita Eva-Bagus masuk ke dalam novel. Tidak sembarangan. Sudah melalui analisis, yang kontekstual dengan struktur cerita novel.
Saya tahu, kini hati Bagus ketir-ketir. Dia pasti keder baca novelnya. Maka, sejak kemarin-kemarin saya terus memantau, apakah dia pesan novelnya atau nggak? (bersambung)

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.