NOVEL 728 HARI (4) Agnes Davonar sampai Dahlan Iskan


Novel kisah Eva Meliana diputuskan, launching di Aula Universitas Pancasila Jakarta, 4 November 2015 pukul 11.00. Ini hasil rapat berbagai pihak. Bak ayam bertelor, kata mereka, perlu berkoar: Petok... petok... petok...
----------------------
“Jika ayam bertelor bisa dimana pun, kalau manusia berkarya perlu tempat acara peluncuran, Pak,” kata seorang anggota tim riset. Ya... ya... ya... mungkin maksudnya, itulah pembeda saya dengan ayam.
Sejak awal, saya berniat menulis novel ini bersama tim. Gambaran saya, novel kisah nyata perlu riset. Ada wawancara berbagai pihak, observasi lapangan, studi pustaka, foto, disain. Saya melibatkan empat mahasiswa sebagai tim riset.
Novel kisah nyata mirip berita jenis features di surat kabar. Isinya peristiwa faktual, ditulis gaya novel. Bedanya, durasi berita features sekitar 800 – 1.000 kata, novel 50.000 sampai 80.000 kata. Saya sebut, ini novel jurnalistik.
Setelah penulisan novel jadi, penulis dan tim riset bertemu penerbit. Jumlah orang jadi semakin banyak. Keinginan juga banyak. Semua harus bersatu dalam pemikiran. Tujuan akhirnya, agar novel ini dibaca orang dan bermanfaat bagi pembacanya.
Tapi proses untuk bisa dibaca orang ternyata berliku-liku. Kata tim, harus ada acara peluncuran. Kalau bisa di tempat keren. Kalau bisa dihadiri tokoh. Acara harus dikemas event organizer. Harus dimeriahkan dengan talk show. Ada doorprize. Harus diliput media massa.
Pihak event organizer melaporkan, mereka sudah dapat komitmen sponsor reataurant yang siap menyumbang makan siang. Ada juga doorprize.
Belum lagi bukunya harus ada endorsement, atau kalimat dukungan dari tokoh yang dimuat di novel. “Saya carikan tokoh, tapi Bapak bersama tim juga harus ikut cari,” kata anggota tim penerbit.
Penerbitnya ini hebat. Dia bisa mendapatkan endorsement dari Novelis Surat Kecil untuk Tuhan, Agnes Davonar. "Saya komunikasikan novel 728 Hari ini dengan dia di Amerika. Dia lalu menyatakan, siap memberikan endorsement,” katanya.
Harus berhubungan dengan Yayasan Lupus Indonesia, sebab Tim Penulis dan Tim Penerbit sepakat ada donasi kepada Odapus (Orang dengan Lupus) melalui YLI. Nah, ini belum kami lakukan.
“Kalau bisa novel ini diluncurkan Pak Dahlan Iskan, dong Pak. ‘Kan Bapak bekas wartawannya Pak Dahlan,” kata anggota tim.
Saya SMS Pak Dahlan: “Mohon Pak DIS speak-speak di peluncuran novel kami”. Jawaban Pak Dahlan: “Mauuuuuuuu... tolong saya diingatkan jadwalnya, dwo”. Saya balas: “Alhamdulillah... terima kasih pak.”
Begitulah, persoalan yang sebenarnya sepele jadi rumit. Bola kecil sudah menggelembung. Seluruh anggota tim jadi saling tagih-menagih hasil penugasan. Sebab, semua komitmen dibahas dalam rapat. Dipertanyakan perkembangannya. Semua jadi khawatir meleset.
Bagai ayam hendak bertelor, kami semua jadi gelisah sendiri. Karya seni sastra yang semula saya anggap gampang, ternyata rumit. Semoga semuanya lancar.
Andai tidak, saya teriak aja sendiri: Petok... petok... petok... (bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.