NOVEL 728 HARI (seri 8) Eva Meliana, Nostalgia Hangtuah


Eva Meliana memarahi saya, Jumat siang, 6 April 2012. “Bapak ini gimana, sih? Saya sudah sampai Indo Pos ini,” katanya lewat HP. Saya jawab: “Lho, pembatalan saya SMS kemarin ‘kan?” Dia tetap: “Pokoknya Bapak harus datang.”
--------------------
Saya tak terpengaruh kemarahan dia. Saya bertahan tak mau kalah:
“Saya tidak mungkin berangkat, Va.”
“Anda penggagas acara ini. Sekarang anda tidak datang. Gimana?” dia mulai formal dengan panggilan ‘anda’. Tanda, tensi kemarahan naik.
“Eva... disitu kamu banyak teman. Bersama mobil Pak Jto rame-rame ke Bandung. Aku tidak menelantarkan kamu, lho...”
“Ya... betul. Tapi Bapak ‘kan penggagas acara. Ayo gabung kesini. Sekarang posisi Bapak dimana?”
“Kantor Blok M.”
“Ya udah. Naik taksi aja. Rombongan akan menunggu.”
“Rombongan silakan berangkat. Sampaikan salam selamat jalan kepada kawan semua.”
“Mengapa?”
“Anakku diwisuda besok. Aku harus hadir.”
“Ah...”
Sepi. Dia tak bicara, saya juga diam. Sambungan belum terputus. Saya menasihati:
“Eva... kalo kamu punya anak kelak, kamu akan tau pentingnya anak.”
Tiba-tiba, klik... sambungan terputus. Saya cek batre, masih separo.
Saya pikir, mengapa batre dia habis, persis di saat dia marah? Sesuai etika ‘Orang Timur’, dia akan mencari pinjaman HP kawan-kawan rombongan, telepon saya, membuktikan bahwa dia tidak mengakhiri pembicaraan dengan kemarahan. Bukan sebaliknya.
Lima-sepuluh menit, Eva tidak telepon. Saya kembali bekerja. Tenggelam dalam tumpukan berita para wartawan di lapangan, yang dikirim lewat situs internet. Saya harus cek, edit, follow up, menugasi wartawan via redaktur.
***
Dua bulan sebelumnya, Minggu malam 12 Februari 2012, belasan orang gerombolan Dahlanis datang ke kantor saya. Kantor RedaksiIndonesiarayanews.com di Jalan Iskandarsyah 1 nomor 15, Blok M, Jakarta. Sebagian kawan lama saya, sesama wartawan Jawa Pos. Sebagian teman baru dari Facebook.
Mereka sering datang, karena saya eks Jawa Pos. Kami menyatukan visi, mendukung Bos Jawa Pos yang saat itu Menteri BUMN Dahlan Iskan, jadi Capres Partai Demokrat dalam Pilpres 2014.
Tapi, kedatangan mereka Minggu malam itu bersama orang baru, Eva Meliana, dibawa Agung Pamujo, kawan saya eks Jawa Pos. “Mbak Eva penderita Lupus, pengagum Pak Dahlan. Dia ingin gabung kesini,” kata Agung pada saya. Bagus... jawabku.
Kami rapat, merencanakan kopi darat (Kopdar) ribuan Dahlanis se-Indonesia yang selama ini menyatu lewat Facebook. Disepakati, peserta Kopdar menginap di Wisma Diklat Bina Marga, Bandung. Acara digelar Sabtu pagi, 7 April 2012 dilanjut senam esok harinya.
Usai acara, saya kenalan dengan Eva. Dia cerita, sudah setahun hidup tanpa limpa gara-gara Lupus. Saya tawari, kisahnya dimuat diIndonesiarayanew.com, dia setuju. Kami wawancara, berita termuat.
Respon pembaca bagus. Eva saya tawari menulis novelnya, dia okay.
“Semoga bermanfaat bagi orang lain,” katanya.
“Tapi, harap jangan bosan. Kita akan wawancara berbulan-bulan.”
“Lama ya Pak?”
“Novel ‘kan seluruh hidupmu, sepanjang puluhan tahun.”
“Saya gak bayar ‘kan?”
“Kita sama-sama gak bayar. Nanti aku cari penerbit yang mau membiayai.”
“Siap... semangat...” katanya mengangkat tangan. Kami tos, tanda deal.
Karena itulah dia marah, ketika saya tidak ikut Kopdar Bandung. Kami sudah wawancara novel, tiga kali pertemuan selama dua bulan. Masih sangat kurang. Dia sibuk, saya sibuk. Nah, di Bandung bakal banyak waktu luang. Tapi... ya sudahlah.
Hubungan novelis-narasumber pun putus. Beberapa bulan kami tidak komunikasi. Sama-sama kepala batu.
Dahlanis yang semula saya sebut ‘gerombolan’, di Kopdar Bandung dideklarasikan sebagai Komunitas. Mungkin kalau saya sebut gerombolan, kesannya kayak perampok, atau gerombolan PKI.
Eva jadi sekretaris, ketuanya Agung Pamujo. Dahlanis tak lagi ngumpul di kantor saya, sebab punya kantor di Jalan Hang Tuah, Blok M. Hanya selemparan batu dari kantor saya.
Suatu sore, saya muncul disitu. Ketemu Agung Pamujo dan Bahar Maksum di teras. Ketemu Eva tekun mencatat aneka kegiatan di dalam kantor. Komunikasi kami nyambung lagi.
Dari obrolan itulah saya tahu, Eva keguguran calon anak pertama pada 2008. Berdarah-darah akibat Lupus. “UGD RSCM banjir darah, Pak...” katanya, dengan mata berkaca-kaca.
“Sejak itu,” lanjutnya, sambil mengatur napas, “Dokter mengancam: Saya dilarang keras hamil lagi, jika tidak ingin mati.”
Saya diam. Kantor Dahlanis Hang Tuah sepi. Agung Pamujo dan Bahar Maksum ngobrol, duduk di lantai teras luar, sambil ngopi. Hanya saya dan Eva di dalam.
Eva melanjutkan:
“Saya tidak akan punya anak seperti Bapak...” ujarnya menunduk. Jelas dia menangis.
Ucapan itu memaksa memori saya terbang ke Jumat siang, 6 April 2012. Ketika Eva marah dan mematikan telepon. Saya jadi larut sedih.
Sementara, Agung dan Bahar di luar tertawa terbahak-bahak. Tawa mereka menerobos masuk ke dalam. Menembus lubang angin di atas pintu.
Buru-buru saya menyalami Eva, meminta maaf. Dia memaafkan. Kami salaman, Lantas, segera saya menakut-nakutinya:
“Cepat... hapus airmatamu.”
“Kenapa?”
“Kalo Pak Agung tiba-tiba masuk, bisa menduga macam-macam.”
“Oh... ya... ya...” ujarnya, cepat-cepat mengelap mata dengan ujung jilbab. Dia tak sadar, bedaknya luntur. (bersambung)

1 komentar:

  1. Selamat jalan semoga bahagia di alam sana...sya.pernah nginap di rumahmu bersama pakdemu budi ...engkau wanita yg lemah.
    Lembut n sederhana....

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.