NOVEL 728 HARI (seri 6) Ketua YLI Tiara Savitri, Memori Terpendam


“Kejutan”. Itulah kata tepat untuk pertemuan saya dengan Ketua Yayasan Lupus Indonesia (YLI) Tiara Savitri, di kantornya, kemarin, 8 Oktober 2015. Tanpa janjian, nyaris gagal, padahal dia ada di Novel 728 Hari, dan saya akan menyumbang ke YLI via novel ini.
----------------------


Jika saya menyebut “Kejutan”, Tiara merasa “Kebingungan”. Bingung, karena dia awalnya merasa tidak kenal saya. Tidak kenal wajah dan tubuh saya. Mengamati saya teliti:
“Anda siapa, ya?” tanyanya.
“Saya Djono W. Oesman, wartawan Jawa Pos yang mewawancarai Eva disini, tiga tahun lalu, dan anda mendampingi Eva.”
“Ooo...” ujarnya melongo.
Mimik Tiara menggambarkan karakter khas ‘Orang Timur’. Sebagai ‘Orang Timur’ dia punya akrobat basa-basi berkualitas tinggi. Kornea matanya bergerak lamban kiri-kanan, tanda dia bingung. Tapi kata yang keluar dari bibir tipisnya, seolah-olah dia kenal.
Saya sebut kata “Jawa Pos” sekadar membongkar memori Tiara. Pada tiga tahun silam, 15 Februari 2012 sekitar pukul 18.30 saya mewawancarai Eva untuk pembuatan Novel 728 Hari di Kantor YLI selama dua jam. Sepanjang itu Tiara mendampingi Eva.
Kata Jawa Pos saya kira, kunci pembuka memori. Sebab, saat itu Tiara bertanya ke saya: “Siapa anda?” Saya jawab, saya eks Wartawan Jawa Pos. Dia diam, saya lanjut menjelaskan:
Saya berkarir jurnalistik di Jawa Pos mulai 1 Agustus 1984 saat masih kuliah FISIP jurusan Sosiologi, Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya. Intens berkutat disitu selama 24 tahun. Jabatan terakhir saya Redaktur Pelaksana Indo Pos (anak Jawa Pos) di Jakarta, sampai 30 September 2008.
Saya sebut Jawa Pos ke Tiara, sebab Eva (pada 15 Februari 2012) menceritakan ke Tiara bahwa saya eks Jawa Pos. Sedangkan, Eva pengagum Dahlan Iskan, mantan Pemimpin Redaksi Jawa Pos, karena Dahlan ganti hati di Tiongkok pada Agustus 2007. Eva merasa, dia dan Dahlan sama-sama survivor. Sama-sama dapat bonus umur dari Allah.

Nah, dulu... pada 15 Februari 2012 Tiara bertanya ke saya:
“Sekarang, Bapak dimana?”
“Saya Redaktur Pelaksana media massa online Indonesiarayanews.com.
“O, anak buahnya Pak George?”
“Tepat sekali.”
Yang dimaksud George adalah mantan KSAD Jenderal TNI (Purn) George Toisutta, Pemimpin Redaksi Indonesiarayanews.com.Sedangkan, Tiara lahir di Beograd (kini ibukota Serbia) 5 Agustus 1968, sebab ayahnya, Poernomo Kismosoedirdjo, saat itu atase militer KBRI disana.
Tapi, kemarin sore, semua memori itu percuma. Tak membangkitkan nostalgia Tiara. Dia tetap bingung. Dia mengamati saya, sambil memegang dummy (contoh) novel 728 Hari yang baru saja saya berikan padanya.
Sebab, Eva sudah meninggal 1 April 2012. Dan, saya katakan padanya bahwa novel itu berisi kisah hidup Eva.
Tiara memang sahabat Eva. Tapi, Tiara tetap bingung, apa hubungan antara novel 728 Hari dengan dirinya?
Saya jelaskan:
“Saya berinisiatif, menyumbangkan Rp 5.000 dari setiap novel 728 Hari yang laku, kepada Odapus via YLI. Dan, penerbitnya setuju. Maka, mbak Tiara harus berikan nomor rekening YLI kepada Bapak-bapak penerbit ini. Biar transfer sumbangan bisa cepat.”
Saya menunjuk kepada tiga orang owner PT Melvana, penerbit 728 Hari, yang bersama-sama saya menemui Tiara. Mereka adalah Mujahidin Noor, Syafawi Ahmad, dan Budi Prianto.
“Ooo... gitu. Baiklah. Terima kasih,” ujar Tiara enteng.
“Tapi, mbak Tiara saya minta jadi pembicara bersama Dahlan Iskan dalam talk show peluncuran novel ini pada 4 November 2015.”
“Okay... dimana?”
“Di Universitas Pancasila. Kebetulan, saya mengajak alumnus Universitas Pancasila. Itu orangnya,” saya menunjuk pemuda bernama Danang Wikanto.
Tiara lantas melihat pemuda yang saya tunjuk.
“Wah, mantap juga. Baiklah, saya siap mas,” ujarnya kepada Danang.
Maka, misi rombongan kami menemui Tiara selesai sudah.
Sewaktu basa-basi jelang pembicaraan berakhir, saya tanyakan kabar anak tunggal Tiara bernama Kemal:
“Kemal sekarang sudah kelas berapa?”
“Kelas tiga SMA.”
“Waktu saya kesini tiga tahun lalu ada Kemal, dia masih SMP.”
“Ya... ampun... Sekarang saya ingat anda. Ya... waktu itu anda juga becanda dengan Kemal,” kata Tiara tersenyum, mencolek saya.
Kornea mata Tiara berbinar saat mengatakannya, tanda dia benar-benar ingat sekarang. Dia baru ingat, justru menjelang kami berpisah.
Saya simpulkan, wanita tidak akan ingat peristiwa kecil di kurun tiga tahun silam. Kecuali, jika peristiwa itu terkait dengan anak kandungnya. Masya Allah... (bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.