NOVEL 728 HARI (seri 17) Beginilah Jalinan Kasih Ibu dan Anak


Eva Meliana usia 12 tahun pada 1988. Melalui tes anti-nuclear antibody (ANA) dan tes anti-double stranded DNA antibody (Anti dsDNA) terdeteksi: Dia kena Lupus. Itulah tonggak cerita novel true story 728 HARI.
------------------------

Orang pertama yang diberitahu dokter tentang penyakit Eva adalah Sugiarti, sang ibunda. Maka bisa dibayangkan, betapa terkejut. Betapa hancur harapan. Betapa getir.

Sugiarti memendam sedih. Berbagi sedih hanya dengan suami, Badarudin. Mereka berdua membungkus rapat-rapat rasa duka. Tak sedikit pun memberitahu Eva tentang dahsyatnya Lupus. Kasihan, Eva masih kecil.

Mereka berjuang mencari jalan kesembuhan. Berbagai cara. Segala daya.
Sedangkan, dokter mengatakan, Lupus tak bisa disembuhkan. Penyakit ini secara betahap akan merusak organ-organ dalam. Dokter hanya bisa mengurangi daya rusaknya. Dan, membuang organ rusak melalui operasi. Satu demi satu.

Perjuangan Sugiarti-Badarudin mencari kesembuhan Eva, terbukti tidak berhasil. Statement dokter benar. Mutlak.

Satu demi satu organ dalam Eva ‘digigiti’ Lupus. Ilmu kedokteran di zaman itu (1988) tak berdaya. Padahal, Eva dirawat di rumah sakit terbesar-terbaik kebanggaan Indonesia: RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

Organ rusak dibuang melalui bedah operasi. Kerusakan satu organ disusul kerusakan organ kedua, ketiga, keempat... Tidak bisa dihentikan. Terus...

Lupus ‘memakan’ organ dalam Eva, lantas membuangnya bagai kulit pisang.
Allah menciptakan organ dalam manusia, dan semuanya berfungsi seimbang. Saling kait-mengkait.

Kehilangan satu organ membahayakan organ lain. Sedikit demi sedikit tubuh Eva rusak. Pelan-pelan tapi pasti.

Penulis mewawancarai Sugiarti, apakah Eva diberitahu apa-bagaimana Lupus?

“Saya tidak memberitahu,” jawab Sugiarti pendek.

“Mungkin ayahnya memberitahu?”

 “Tidak.”

“Lho, ‘kan kasihan Eva, Bu. Tubuhnya terus rusak, sedangkan dia tidak tahu apa-apa?”

Sugiarti diam. Dia menggali memori lama. Duduk terpekur di ruang tamu rumahnya di kawasan Bekasi, Jawa Barat. Bulir airmata timbul dari sudut mata. Diusapnya dengan telapak tangan. Saya pun diam. Menunduk terharu.

Saat itu, Kamis sore, 9 Juli 2015 jadi saat yang paling tidak enak bagi saya. Mau tidak mau, wawancara pembuatan novel ini mengorek luka lama ibunda Eva. Mengorek dan menggali.

Sedangkan, Eva sudah Berpulang ke Rahmatullah pada Selasa dini hari, 1 April 2014. Sudah lebih setahun dari saat wawancara saya dengan Sugiarti.

Saya sudah berniat mengubah topik wawancara. Namun, Sugiarti keburu mengatakan:
“Bapak bayangkan.... Eva saat itu masih kecil. Kalau saya beritahu, apa yang terjadi saat itu, pak?” suara Sugiarti meninggi.

Ampun, Ya Allah... hamba tidak mampu menjawab pertanyaan balik Sugiarti. Suasana sepi. Saya hanya diam menunduk. Saya tertampar pertanyaan.

Saya masuk dalam frame pemikiran Sugiarti. Andai saya jadi Sugiarti. Andai anak kecil saya kena Lupus. Dokter menjelaskan detil ke saya tentang Lupus. Dan, hati saya koyak tersobek-sobek.

Tegakah saya menyampaikan itu kepada si kecil? Bahwa tubuhnya akan rusak? Terus dan terus? Ampun... Tuhanku.

Sungguh saya jadi bimbang. Terbersit pikiran, ingin membatalkan saja pembuatan novel ini.

Tak peduli apa kata Eva, dulu. Tak ambil pusing bahwa dulu saya dan Eva sudah berkali-kali wawancara pembuatan novel ini. Tak mau tahu, Eva dulu mengatakan: “Kalo novel jadi, semoga bermanfaat bagi banyak orang, ya pak...”

Saya bimbang.

Kebimbangan saya sudah mengendap lama. Bimbang, antara “mengorek luka lama” dengan “bermanfaat bagi banyak orang”. Mana lebih kuat? Mana lebih etis? Mana lebih aman buat saya?

Bimbang maju-mundur.

Itu membuat saya tak melanjutkan menulis novel ini. Meskipun Eva sudah meninggal lebih dari setahun lalu.

Tulisan saya pasti mengorek duka lama. Wawancara saya dengan keluarga Eva pasti menyakitkan. Belum lagi kalau novelnya nanti beredar. Apa kata orang?

“Pak... saya beritahu, Eva orangnya kuat dan tabah,” ujar Sugiarti, mengagetkan saya.

“Oh... ya... ya... Ibu...”

“Bapak banyak wawancara dengan Eva sewaktu dia sudah dewasa. Tapi, ketahuilah, sejak kecil dia anak yang kuat dan tabah,” tutur Sugiarti.

“Ya... Ibu. Hasil wawancara saya dan Eva memang begitu.”

“Saya malah yang dulu tidak kuat, pak... Kasihan... dia...”

Wawancara terhenti lagi. Sepi lagi.

Asli, tidak mudah wawancara ini. Saya wartawan. Tapi saya bukan robot yang mati rasa. Perasaan sedih Sugiarti, adalah perasaan saya. Keinginan Eva “bermanfaat bagi banyak orang”, juga keinginan saya.

Sore itu Eva datang ke kantor saya di Blok M, Jakarta. Ini wawancara ke sekian kali. Dia mengenakan baju gamis warna kuning cerah. Selaras dengan jilbabnya.

Wajah Eva ceria. Gerakannya lincah. Dia tidak seperti orang sakit.

“Pak... nanti nulis novelnya yang bagus, lho. Biar bermanfaat bagi banyak orang,” kata Eva, sebelum wawancara dimulai.

“Pasti-lah, Va.”

“Bener, lho pak... Saya ingin novel ini bermanfaat buat banyak orang.”

“Percayalah... saya bukan penulis hebat. Tapi, saya bisa menulis bagus.”

“Hahaha... saya dengar dari para wartawan Jawa Pos, teman-teman Bapak. Kata mereka memang begitu.”

“Nah... kamu percaya nggak?”

“Saya sudah baca tulisan-tulisan Bapak bagus. Tapi belum terbukti di novel ini, ‘kan?”

“Ayo... kita buktikan.”

Kami selalu membuka pertemuan dengan gurauan. Saya berusaha ramah dan melucu. Supaya suasana tidak kaku. Karena, saat wawancara saya menggali habis-habisan.

Terhadap Eva saya berani-beranian bertanya. Tapi, setelah dia meninggal, dan saya wawancara dengan ibundanya, Sugiarti, saya betul-betul mati kutu. Mati kata.

Saya bertanya ke Eva:
“Eva, pertama kali kamu mendengar kata Lupus dari siapa?”

“Mama mengatakannya. Setelah Mama dijelasin dokter.”

“Trus... bagaimana reaksimu saat itu?”

“Hahaha... saya ketawa aja. Dulu, ‘kan ada film Lupus, pak. Filmnya kocak banget.”

Ya... ya... pada 1987 memang ada film berjudul Lupus. Tentang pemuda bernama Lupus yang digambarkan gaul dan lucu.

Saya pertegas pertanyaan:
“Jadi, kamu nggak tahu Lupus bagaimana?”

“Akhirnya tau, pak. Saya pernah divonis dokter, umur saya tinggal dua tahun.”

“Trus...”

“Ya... saya catat di buku harian.”

“Apa saja isi catatannya?”

“Hari-hari saya menjalani sisa kehidupan.”

Eva menceritakan detil, hari-hari di sisa hidupnya. Saya menggali dalam wawancara intensif. Detil demi detil kejadian membuat saya terkaget-kaget.

Semakin dalam wawancara, semakin terkejut-lah saya. Astaghfirullah... Eva melewati hari-hari akhirnya dengan begitu tabah.

Tapi, maaf... itu tidak muat jika saya tuliskan disini. Hal-hal yang terjadi dalam 728 HARI. Hitung saja, tebal buku novelnya 336 halaman. Nggak muat disini.

Cocoknya disini hanya untuk The Story Behind the Novel. Cerita di balik cerita novel.
“Eva... apakah kamu ceritakan detil ini ke Mama?”

“Nggak-lah, pak...”

“Mengapa?”

Eva diam. Matanya berkaca-kaca. Dia mengambil tisu dari tas. Mengelap sudut-sudut matanya.
Saya ini orang yang terombang-ambing kesedihan narasumber. Kesana sedih kesini sedih.

Tapi, saya tidak pernah menangis saat wawancara. Saya adalah Wartawan Republik Indonesia yang pantang menangis. Hanya saja, sewaktu saya menulis novel ini, saya menangis sendirian. Tidak boleh ada yang melihat.

“Baik-lah Eva... saya tidak tanya lagi, mengapa. Saya ikut sedih...”

“Bayangkan-lah, pak... kalo saya cerita ke Mama, pasti hancur hati Mama....”
Suasana garing.

Airmata Eva sudah kering. Kesedihan kadangkala tak bisa dilihat mata. Kesedihan selalu mengendap dalam lapisan kalbu yang paling dalam.

Tapi, Eva menumpahkannya:
“Saya tidak mau menyedihkan Mama. Saya cinta Mama, pak...”

Habis sudah pertahananku. Tapi aku tetap tak bisa menangis.
-----------------
Pembaca sekalian...
Eva memendam rahasia tentang hari-hari akhirnya. Karena itulah tanda cinta almarhumah Eva pada ibunda.
Ibunda menyimpan rapat-rapat rahasia, betapa dahsyat Lupus. Sebab begitulah kasih ibunda pada anaknya. (bersambung)
Resensi 728 Hari dimuat di Koran Jakarta

3 komentar:

  1. pngn beliin ni buku buat istri,tp msh ragu apakah bisa bikin istri kuat atau mlh bikin patah semangat

    BalasHapus
  2. Sangat berat bagi keluarga... Tetap ikhlas....

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.