NOVEL 728 HARI : Ibu Jembatanmu Menuju Surga (Seri 20)


Ketika kita bayi, ibunda sering terjaga. Pukul 02.00 dini hari terbangun dari lelap. Kaget, kita menangis. Bisa karena ngompol, be’ol, demam, digigit semut, atau sekadar cari teman. Lalu, sambil menahan kantuk, ibu melayani kita. Apakah dia happy waktu itu?
--------------

Jawabnya:
“Tidak,” kata Dr. William Pollack, asisten professor Harvard Medical School, AS, yang pernah meneliti hal itu di kampusnya pada 1970-an.

Terus, kalo bunda tidak happy, mengapa selalu dilakukan?

“Karena cinta,” kata Pujangga asal Lebanon, Kahlil Gibran. Sebab, menurutnya, sebagian besar komponen cinta adalah pengorbanan (ada di bukunya, Sajak Cinta).

Itu pula yang dilakukan Sugiarti, kepada puterinya, Eva Meliana.
Tak terhitung pengorbanan Sugiarti merawat Eva. Mulai dari syok berat saat dia pertama kali mengetahui
Eva Lupus. Ikut merasakan sakit di sekujur tubuhnya, setiap Eva merasakan sakit di dalam butir-butir darahnya.

Lihatnya, selama 24 tahun Eva memendam Lupus. Sudah belasan kali dia masuk rumah sakit. Dan, setiap opname di RS, Sugiarti tak pernah sekalipun tidak menunggui. Tak sedetik pun menjauhinya di saat-saat kritis.

Jika dihitung, rata-rata setiap 1,5 tahun sekali Eva opname. Durasi lama menginap di RS rata-rata sebulan. Itu tidak termasuk berobat jalan yang sudah puluhan kali. Juga, rawat di rumah selama berbulan-bulan.
Maka, jika dikumpulkan akan ketemu durasi Eva menginap di RS, total-jenderal 16 bulan berturut-turut.

Sungguh bukan waktu yang singkat. Benar-benar tidak banyak orang mampu. Bertahan dalam semangat yang tetap stabil pada durasi siksaan selama itu. Baik bagi Eva, maupun ibundanya.

Saya, di masa kanak-kanak terkenal tahan sakit. Masa remaja saya bertato jarum yg dibakar dg lilin (lebih bengkak drpda tato zaman kini). Bertugas jadi wartawan Jawa Pos dengan tekanan tugas maksimal selama 24 tahun. Saya ngeri... selama menulis novel ini, membayangkan penderitaan Eva dan bundanya.

Tahukah anda, bagaimana yang dilakukan Sugiarti sepanjang total 16 bulan menjaga Eva di rumah sakit? Bagaimana hari-harinya di berbagai rumah sakit?

Jawabnya satu kata: Sengsara.

Malam demi malam, dilewati Sugiarti dengan hati diliputi khawatir. Dia selalu tidur di kursi kecil di sebelah bed RS, tempat Eva berbaring. Jika mengantuk, badannya ditekuk, menelungkup rebah ke bed.

Berarti tulang belakangnya melengkung-bongkok selama berjam-jam.
Pada saat itu, tangan Sugiarti menggenggam tangan Eva. Ibu-anak ini terlelap bergandengan tangan.

Disitu-lah energi spirit ibunda tersalurkan secara alamiah. Mengalir lembut ke tubuh Eva. Spirit pantang menyerah, menghadapi hidup yang teramat sulit.

Belum lagi, darah Eva tergolong jenis yang langka. Sedangkan dia butuh berliter-liter darah ditransfusikan ke tubuhnya. Persediaan di RS selalu kosong. Adanya hanya di PMI. Jika di PMI kosong juga, harus dicarii melalui calo-calo darah. Keliling kemana-mana.

Badarudin, ayahanda Eva, bertugas mencari darah. Menumpuknya berkantong-kantong sebagai persediaan. Jika darah telat, Eva langsung tamat. Tapi, Badarudin PNS. Tidak gampang meninggalkan kantor. Bisa dipecat. Sementara, kebutuhan darah tak kenal waktu. Harus segera. Harus cepat.

Terpaksa, Sugiarti meninggalkan ‘sarangnya’ di RS. Jalan mencari darah kemana-mana. Siang-malam dia berjalan. Dengan hati gundah. Sumpah... ini tidak gampang.

------------------Saat menulis novel di bagian itu, saya putar lagu Iwan Fals:
Ribuan kilo.... jalan yang... kau tempuh...
Lewati rintang... untuk aku, anakmu...
Ibuku sayang....
--------------------
Alunan lagu itu menyuntik “kafein” ke urat nadi saya untuk terus menulis.... Memindahkan energi semangat Eva dan Sugiarti ke dalam novel. Dan, saya sudah mengambil hikmah cerita ini, lebih dulu dibanding orang lain.

Namun...

Apakah Eva berniat ingin segera mati? Pasti. Tidak mungkin tidak. Ada di suatu masa, dia merasa tak mampu lagi menahan sakit. Teramat sakit. Menusuk tulang. Menikam jiwa. Dia ingin cepat mati.

Tapi, siapa yang menepis keinginan itu? Siapa yang membayar dengan linangan airmata hanya untuk mencegah niatan itu? Dialah Sugiarti. Pertanyaannya, apakah Sugiarti menerima cobaan hidup ini dengan happy?

Jawabnya, pasti tidak.

Lalu, mengapa dia lakukan?

Jawabnya, karena cinta.

Bukankah cinta itu seharusnya menciptakan kebahagiaan?

Jawabnya, tidak selalu.

Mengapa orang mau mencintai orang lain, jika tidak selalu menghasilkan kebahagiaan?

Jawabnya, pasti ada pengalaman individual yang melatar-belakangi.

Truuus... Apa latar belakang yang dialami Sugiarti?

Jawabnya, ada di 728 Hari.

Apakah kalimat di atas berbau promosi?

Jawabnya, tidak selalu begitu. Buktinya, tulisan ini (dan yang lalu-lalu disini) gratis.

Mengapa DWO selalu menulis disini?

Jawabnya, ayo... kita dengarkan lanjutan lagunya:
-----------------
Seperti... udara...
Kasih yang, engkau berikan...
Tak mampu... ku membalas...
Ibu...... ibu......
-----------------

Pembaca sekalian, dengar terdengarnya lagu ini, simak-lah catatan berikut:
Jika sedikit saja anda membalas kasih ibumu. Maka, menurutku, engkau sudah membangun tiang jembatanmu... menuju surga. (bersambung terusss...)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.