NOVEL 728 HARI (5) Dahlan Iskan Siap Luncurkan Novel 728 Hari


“Pak Dahlan, kesediaan Bapak launching novel kisah nyata Eva Meliana saya umumkan ke Dahlanis, bolehkah?” tanya saya. Dahlan: “Ya, silakan. Saya siap. Tapi, apakah Dahlanis di Jakarta masih ada?” tanyanya balik.
----------------------------

Saya gelagapan. Tidak punya jawaban pasti. Sedangkan, puluhan tahun saya wartawan Jawa Pos di bawah Pemimpin Redaksi Dahlan Iskan, selalu bicara akurasi. Tidak akurat, jangan ngomong. Apalagi nulis.
Nekad, saya jawab: “Relatif banyak, Pak. Paling tidak, satu nama konfirm hadir: Ni Loeh Dipa.”
Dahlan tersenyum. Saya lega, sambil mikir, andai Ni Loeh Dipa tidak hadir, asal ada satu wanita Dahlanis, sudah cukup. Di acara nanti saya akan lapor: “Pak Dahlan, ini dia orangnya.”
Dialog itu di Lapangan Monas, pukul 05.00 tadi. Setiap pagi Dahlan memimpin senam disana pukul 05.00 sampai 06.30. Saya pun ikut. Senam unik, semacam Taichi.
Saya merasa, sejak Dahlan tak lagi Menteri BUMN, gaung Dahlanis melemah. Manusiawi. Hampir semua orang ingin dekat ‘orang besar’. Mungkin biar ketularan jadi besar.
Tapi, saya juga merasa, Dahlan tetap magnet besar. Terutama di Universitas Pancasila Jakarta. Ketika Tim Novel mengatakan ke mahasiswa, bahwa Dahlan melaunching novel Eva, mereka bersorak riang.
Mahasiswa melapor ke Dekan Fakultas Ekonomi tentang rencana kedatangan Dahlan. Langsung, Pak Dekan siap menyambut Dahlan. Padahal, ini acara mahasiswa. Peluncuran novel Eva gabung peluncuran (ulang) pers kampus Suara Ekonomi milik mahasiswa Ekonomi.

Antusiasme mahasiswa itu saya sampaikan ke Dahlan. “Ratusan mahasiswa Pancasila menunggu Bapak, lho. Rencananya, Bapak disambut Pak Dekan Fakultas Ekonomi,” kataku.
Dahlan tersenyum. Saya tahu, disambut Dekan bukan hal heboh. Sedangkan, dia mestinya maju Pilpres 2014 digembosi partainya, Demokrat. Tapi, Dahlan orang besar. Dia suka mahasiswa, supaya generasi muda terinspirasi maju.
Repotnya, waktu saya ikut senam disitu.
Senam Taichi diiringi lagu tape recorder itu gerakannya unik. Peserta puluhan dan gerakan mereka seragam, dengan kostum seragam pula.
Dari rumah, saya pakai kaos merah training hitam. Mereka biasanya kaos orange training hitam. Beda tipis-lah. Ternyata Dahlan dan semua pesenam pakai kaos hijau training hitam.
Dahlan mengatakan: “Sekarang Rabu, seragamnya hijau-hitam. Kalo Senin memang orange.” Wadhooow... saya salah kostum, jauuuh...
Sebelum dimulai, Dahlan memperkenalkan saya sebagai mantan Wartawan Jawa Pos kepada pesenam. Mereka menyalami: “Bapak akan ikut senam tiap hari?” Saya jawab: “Saya hanya menemui Pak Dahlan, sekalian ikut senam.”
Lalu Dahlan minta saya masuk barisan. “Dwo... ayo, masuk,” ujarnya menunjuk titik di belakangnya. Saya membandel, pilih paling belakang. Supaya kalo salah gerak gak ketahuan.
Bener. Gerakannya unik. Saya meniru pesenam depan. Gerakan berubah cepat, seirama lagu. Mereka menari, saya ikut. Maju serong kiri, ikut. Maju serong kanan langsung putar kanan, saya telat. Semua loncat kiri, saya nemplok ke kanan.
Tiba-tiba barisan berbalik arah. Saya tadinya paling belakang, jadi paling depan. Maka, saya nolah-noleh kiri-kanan untuk meniru. Tapi, malah jadi bahan tertawaan karena saya salah gerak melulu. Nasib... (bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.