NOVEL 728 HARI (18) Siapa Dahlanis yang Dulu Naksir Eva?


Saat remaja, Eva jadi rebutan dua cowok. Salah satunya, jadi suami hingga akhir hayat. Cinta mereka sungguh inspiratif. Cinta abadi. Terbukti, setahun jelang Eva meninggal, ada lelaki berusaha mendekat. Bagaimana reaksi Eva? Berikut kisahnya:
---------------------

Sore, awal Maret 2013 Eva datang ke kantor saya di Blok M, Jakarta. Dia sendirian. Kami akan wawancara pembuatan novel. Kami biasa wawancara sore. Sebab pagi sampai siang sama-sama sibuk.

Eva mengenakan jilbab ungu. Baju gamis kombinasi ungu biru muda. Ada bros kupu warna biru di dada kiri. Jika mengenakan bros kupu, biasanya dia habis pendampingan Odapus (menjenguk penyandang Lupus yang sakit).

Komunikasi dia buka dengan wajah murung.

“Pak Dwo, tolonglah ingatkan Bagus (nama samaran) jangan mengganggu saya.”

“Bentuk gangguannya bagaimana, Eva?”

“Dia mengacak-acak fesbuk saya.”

“Halah... gitu aja kok repot.”

“Tapi, dia keterlaluan pak.”

“Contohnya bagaimana?”

“Intinya, dia gak percaya saya sudah bersuami.”

Arah pembicaraan kini jelas. Bagus naksir Eva. Sebenarnya wajar. Hanya saja, Eva sudah bersuami dan Bagus tetap berusaha melanggar pagar. Tapi penjelasan Eva kurang gamblang.

“Maksud Eva mengacak-acak itu bagaimana, sih?”

“Dia masuk meriksa-meriksa gitu pak. Semua foto dan data saya diliatin.”

“Emang begitu salah?”

“Saya gak suka pak.”

Sebenarnya, itu juga saya lakukan. Setiap ada pengguna fesbuk minta berteman, selalu saya periksa, siapa dia. Jika data dirinya minim, saya tidak konfirm berteman. Saya juga cek foto-fotonya untuk mengetahui, bagaimana orangnya. Tapi, Eva ini terlalu cerewet, pikir saya. (bersambung ke 728 Hari)

Melalui tanya-jawab yang ulet, tahulah saya, Bagus memang keterlaluan. Bukan hanya di dunia maya, tapi juga di darat. Intinya, Bagus naksir berat pada Eva.
Saya lantas menasihatinya:

“Eva juga salah. Maaf, kamu tidak mencantumkan di fesbukmu tanda menikah.”
Dia memandang saya. Seolah dia bertanya, mengapa saya memeriksa data dia. Sebelum dia menegur, saya dahului:

“Aku periksa data semua temanku. Data itu terbuka untuk umum. Seperti halnya kita berteman di darat, kita boleh bertanya, siapa dan bagaimana teman kita.”

“Ya, pak. Nanti akan saya cantumkan. Tapi, di darat dia juga agresif.”

“Tolak secara tegas.”

“Baik pak. Tolong dibantu juga mengingatkan dia.”

“Okay. Nanti saya jewer dia.”

“Hihihi...”

Dari pembukaan itu, kemudian kami masuk wawancara ke sekian kalinya untuk pembuatan novel ini. Topik wawancara, kisah cinta Eva di masa remaja. Sejak awal pacaran, dengan siapa saja, sampai dia menikah.
O, ya... saya juag nulis dikit di Kompasiana, di link ini: http://www.kompasiana.com/…/punggung-dibor-di-novel-728-har… (bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.