NOVEL 728 HARI (13) Jangan Menangis, Eva...


Cobaan hidup Eva Meliana sangat berat. Sejak usia 12 hingga akhir hayat dia menderita. Sakit teramat sakit. Berlangsung terus-menerus tiada henti. Sangat sedikit orang yang tahan begitu. Berikut, sekelumit kisahnya.
--------------------------

Waktu kecil dia dihajar aneka penyakit. Flu, radang tenggorokan, tipus, demam berdarah dengue (DBD), nyeri sendi. Kejadian dimulai tahun 1984, di usia 12 tahun. Ibunya sampai lelah membawa ke dokter, dan ke dokter lagi.
Ilmu kedokteran zaman itu belum semaju sekarang. Semua dokter yang merawat tidak tahu Eva kena Lupus.
Baru, beberapa belas tahun kemudian Lupus dijuluki sebagai “Penyakit Seribu Wajah”. Bisa ‘menyamar’ seolah-olah flu, tipus, DBD, radang tenggorokan, lumpuh, bahkan buta.
Detil bisa anda baca di novel 728 Hari. Kalau ditulis disini kagak muat. Saya bisa dimarahi mas Mark Zuckerberg. Karena dinilai terlalu cerewet (nulis terlalu panjang). Disini cocok The Story Behind the Novel.
Puncaknya, Eva menjalani Bone Marrow Procedure (BMP) saat usianya 14 tahun. Cairan sumsum tulang belakang diambil untuk menegakkan diagnosis. Caranya itulah yang ngeri.
Tulang belakang dibor dengan bor khusus, mirip bor untuk tembok. Menusuk tembus tulang punggung. Whaduuuh... pokoknya ngeri... Saya tak mau mengingat dan menulis itu lagi. Terlalu ngeri... Silakan baca di novel.
Itulah awal diketahui Lupus beraksi dalam tubuh Eva. Lupus kemudian menghajar eritrosit (bagian utama sel darah merah). Ini barang sangat-sangat kecil.
Di dalam tubuh semua manusia punya sekitar 25 triliun molekul eritrosit. Di dalam sebutir eritrosit tersimpan 250 juta hemoglobin. Subhanallah... Maha besar Allah dengan segala ciptaannya.
Dari situlah drama sakit Eva dimulai. Sakit. Sakit. Sakit. Rata-rata dua tahun sekali dia opname. Ada saja sakitnya gara-gara Lupus.
Kantung empedu rusak, dioperasi, dibuang (disebut Kolesistectomi). Limpa rusak, dibedah, dibuang (Splenectomi). Nyaris gagal ginjal. Mata mulai rabun.
Dalam proses wawancara, Eva selalu menjawab dengan jawaban klise. Abstrak. Tidak konkrit. Sebaliknya, saya selalu berusaha membongkar, agar dia bercerita. Detil kejadian. Proses demi proses.
Tidak semua topik gampang dibongkar. Ada topik-topik yang sulit. Terutama yang menyangkut Tuhan. Kecuali, dengan teknik wawancara ekstrem. Teknik ini biasa digunakan pewawancara saat terpaksa.
Definisi terpaksa: Topik sangat menarik. Tapi jika narasumber mau bercerita detil, mengalir, dari peristiwa ke peristiwa, hubungan kausalitas (sebab-akibat) terjaga. Sedangkan, jika narasumber sulit bercerita, ya... terpaksa harus ekstrem.
Suatu sore bulan Mei 2013 kami wawancara di kantor saya di Blok M. Saya ingin mengungkap kunci utama cerita. Pada wawancara yang lalu-lalu gagal ungkap terus. Karena saya belum ekstrem.
“Apa kunci Eva bersemangat hidup?” tanya saya.
“Saya pasrah pada Allah.”
“Apakah Eva tidak pernah frustrasi?”
“Pastinya pernah.”
“Bagaimana proses dari frustrasi bisa bangkit lagi?”
“Karena Allah mencintai saya.”
“Mengapa tidak minta disuntik mati?”
“Astaghfirullah...”
Eva menunduk. Matanya berkaca-kaca. Saya diam menunggu. Beginilah hasil ekstrem. Saya terpaksa harus tega.
Lima-sepuluh menit tak ada hasil. Ruang tamu tetap sunyi. Lalu Eva minum air putih yang tersedia. Saya kira, inilah saat dia segera pamitan. Ternyata:
“Karena saya cinta Mama,” katanya.
Saya diam menunggu. Eva masih mengatur napas satu demi satu. Dia mengeluarkan tisu dari tas. Mengelap mata.
“Mama begitu mencintai saya. Berkorban apa saja demi saya,” tuturnya.
Sepi lagi. Saya dilarang memotong. Inilah hasil pertanyaan ekstrem.
“Mama mendorong saya agar kuat. Terus... mendorong. Saya kasihan Mama...”
Airmata mulai jatuh, turun ke pipi. Dia usap dengan tisu. Saya sebenarnya terharu. Tapi, bagaimana lagi? saya sedang bekerja.
“Mama cinta saya, pak... Dan, saya cinta dia....”
Kini meledaklah tangisnya. Bahu terguncang-guncang oleh napas yang tersengal-sengal. Suasana haru-biru.
Ini tidak boleh dibiarkan. Ada batas limit narasumber terguncang. Kalau dibiarkan dia bisa ambruk. Saya harus membatasi.
“Maaf, saya keluar merokok. Saya malu nangis disini.”
Saya beranjak, keluar, menutup pintu. Eva sendirian, pasti tangisnya akan reda. Habis sebatang rokok saya masuk ruangan lagi. Betul. Eva sudah normal. Saya berusaha mencairkan suasana:
“Sudah. Saya sudah merokok, dan nangis di luar,” kata saya.
Dia bisa ketawa. Tapi, kemudian dia bercerita dengan lancar. Dia ceritakan proses-proses detil yang semula tidak keluar.
Inti cerita sebenarnya sama dengan jawaban dia semula. Bahwa dia bersemangat hidup karena Allah sangat mencintai dia. Bukankah ibunda yang mencintainya adalah wakil Allah di bumi?
Cuma, struktur cerita yg dihasilkannya sangat berbeda. (bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.