Meliput Berita, Tak Selalu Wawancara

Behind the News
Diposting di FB M Jawa Pos, 1 Juni 2011

Bayangan masyarakat bahwa tugas wartawan selalu keren, tak sepenuhnya benar. Untuk mempertegas kalimat tersebut, berikut pengalaman Wartawan M-JP Facebook, Djono W. Oesman, saat ia bertugas di masa lalu.
-----------------------


Saya paling suka drama kemanusiaan yang sesungguhnya. Bukan fiksi, bukan imajinasi. Sumber liputan drama seperti itu ada di beberapa instansi. Antara lain, Pengadilan Agama (PA), tempat suami-isteri menceritakan alasan bercerai. Juga, rumah sakit. Persisnya di UGD dan Kamar Jenazah, tempat drama asli kehidupan.

Di PA kurang menarik, sebab sarat kepalsuan. Hampir semua pasangan bercerai alasannya klise: Tidak cocok lagi, meskipun di awal pernikahan mereka merasa sangat cocok. Paling banter, soal perselingkuhan. Bosan, kayak sinetron kita yang kurang atraktif.

RSUD Dr Soetomo Surabaya menjadi ladang liputan saya di akhir 1986 selama sekitar 6 bulan. Ratusan berita, saya tulis dari sana untuk Jawa Pos (JP). Ratusan cerita behind the news, terpendam dalam ingatan. Karena, tidak ada rubrik (tempat) yang menampungnya di JP. Disinilah saya cemplungkan seenaknya.

“Mas, mau bantu kami memandulkan kucing?” tanya seorang lelaki, staf Humas RSUD Dr Soetomo (saya lupa namanya) kepada saya.

“Bagaimana caranya?”

“Disuntik. Tapi… saya kira nggak usahlah… ” ujarnya seperti meralat ucapan pertama.

Saya dan dia sudah akrab. Hampir setiap hari kami ketemu, terkait tugas saya. Ucapan dia yang ragu itu malah membuat saya penasaran. Saya tanyakan lebih detil. Ternyata begini: Direksi RS merasa terusik dengan banyaknya keluhan pasien, bahwa RS terbesar se Indonesia Timur itu banyak kucingnya.

Saya tahu, disana saat itu ada ratusan, mungkin ribuan kucing liar. Di semua ruangan pasien pasti ada kucing. Asal pintu terbuka sejenak, pasti ada kucing masuk. Mulai dari kelas bangsal sampai VIP, dimasuki kucing. Belum lagi yang berkeliaran di koridor, taman, terutama bak sampah. Perintah direksi: Habisi kucing.

Ini berita unik. “Saya mau bantu. Besok jam berapa?” Dia jadi semakin ragu. “Nggak usahlah…” ujarnya. Saya paham, dia sedang menganalisis dampak, jika kegiatan itu diberitakan. Lalu saya jelaskan, dampak berita itu tidak buruk bagi RS. Kecuali jika ribuan kucing itu dibunuh. “Kalau dimandulkan, bagus. Penyayang binatang tidak akan marah,” rayu saya.

Rupanya dia terpengaruh. Dia memandang mata saya yang penuh keyakinan. Akhirnya, “Besok pagi jam 5,” katanya. Saya timpali: “Jangan katakan ini kepada wartawan lain.” Dia heran, “Mengapa?”

Saya paparkan, peristiwa begini bisa diplintir wartawan jadi berita yang menyudutkan RS. Mata dia kelihatan kaget. Tapi saya tambahi: “Sedangkan kita, kan friend.” Dia manggut-manggut. Mantap. Atau mungkin, setengah mantap setengah takut.

Cakrawala di timur masih kemerahan. Puluhan (lebih dari 20) staf RS berbaris di lapangan bagian belakang, dekat Kamar Jenazah. Saya tiba, barisan baru dibentuk. Para Satpam yang ikut baris, tahu saya wartawan JP, segera menghampiri, rupanya hendak melarang. Setelah saya sebut bahwa saya direkomendasi Humas sebagai relawan, dia membolehkan saya masuk barisan.

Seorang wanita berjubah dokter, berdiri menghadap ke arah barisan. Dia dokter hewan dari Kebon Binatang Surabaya. Dialah pemimpin tim ini. Dia jelaskan ringkas cara injeksi ke pantat kucing. Injeksi berisi zat kimia Irginine (saya ingat, bagian belakangnya mirip nama pacar saya Nina).

Jika zat itu masuk ke tubuh kucing jantan, kucing tetap sehat. Sepekan kemudian mandul. Si jantan tetap bisa ereksi. Juga bisa penetrasi. Namun tidak ejakulasi. Tak dijelaskan, apakah pejantan bisa menikmati orgasme. Tidak ada yang tanya soal ini. Saya juga enggan. Sebab, penjelasan itu saja sudah menimbulkan heboh cekikikan, terutama para cewek.

Di lapangan tentu sulit membedakan kucing jantan dan betina. Perintahnya, hajar saja semua kucing. Sebab, bagi betina tak menimbulkan efek apa-apa. “Ada pertanyaan?” tanya pemimpin. Tetap tak ada yang berani tanya soal orgasme. “Jika tak ada pertanyaan, ayo kita laksanakan….” perintahnya. Barisan pun bubar.

SI GARONG COLONG PLAYU
Pasukan Pemburu Kucing segera mengambil senjata di pojok lapangan. Senjata berupa injeksi, kain penutup hidung, dan aneka gorengan ikan. Ada ikan asin, teri, pindang, juga tulang ayam goreng.

Saat mengambil injeksi, saya lakukan hati-hati. Ngeri… Ternyata semua lelaki juga bertindak sama. Melihat pasukan terlalu hati-hati, cewek dokter hewan pemimpin tim itu ketawa. “Bapak-2, Mas-2, jangan takut tergores suntikannya. Irginine dalam dosis sangat kecil tidak berefek apa-apa bagi manusia,” katanya.

Sial, pagi itu sepi kucing. Tampak dua ekor ndeprok (nglempoh… ee… bahasa Indonesianya mungkin setengah duduk setengah tidur) di dekat tiang koridor. Satpam maju. Diberi pindang, dua kucing makan dengan lahap. Mereka langsung sarapan, padahal saya belum blas.

Ketika disergap, satu tertangkap, satunya kabur. Lalu, cresss… kucing disuntik. Kucing kaget dan menjerit. Setelah selesai, ia menggeliat, mengibas-kibaskan badannya. Puluhan orang bersorak bertepuk tangan, menyambut sukses pertama. Satpamnya berdiri, membuka penutup hidung, lalu bicara: “Gampang, kok…’’ Tepuk tangan bertalu-talu.

Kami lalu pencar memburu kucing. Saya mengincar seekor di dekat bak sampah. Badannya kurus warna kuning pucat. Saya lempar pindang, langsung diterkam. Ternyata pindang digondol, dibawa lari. Saya kejar, dia tunggang-langgang. Jiangkrik… si Garong colong playu. Siapa bilang gampang?

Ada lagi yang baru keluar dari ruang pasien. Badannya gembul, abu-abu blirik-blirik putih. Matanya galak, gerakannya trengginas. Kali ini harus dengan taktik. Saya jongkok, dia mendelik (melotot) menghentikan langkah. Ikan teri saya tebar pelan-pelan. Pusss…. Pusss…. Dia datang, juga pelan-pelan.

Dengan mata waspada dia makan teri. Saya elus kepalanya dia mengelak. Tak menunggu lama, dia saya ringkus. Kena. Menggeletak di lantai. Berontak, tapi saya cengkeram sekuatnya. Empat kakinya saya satukan dengan dua tangan saya. Kepalanya ngranggeh berusaha menggapai tangan saya, langsung lehernya saya injak.

Saat jarum masuk, dia berontak. Obat saya tekan habis, salah satu kakinya terlepas dari cengkeraman. Lalu: Cresss…kali ini tangan kiri saya kena cakar. Reflek, kucing terlepas. Untung injeksi sudah saya cabut. Jika tidak, kasihan dia. Tapi tangan saya beset, berdarah.

Sekitar dua jam tim bergerak, lalu berumpul lagi di lapangan. Ternyata lebih dari separo pasukan, tangannya berdarah dicakar kucing. Kini giliran para perawat maju, mengobati anggota pasukan yang terluka.

Jelang acara ditutup, semua diberi amplop. “Mohon ini diterima. Sekedarnya dari kami,” kata cewek yang memberi saya amplop. Saya terima. Saya wartawan kucing sekaligus wartawan amplop. (Di features yang dimuat JP, tak saya sebutkan saya terima amplop. Sebab, ini bukan amplop sogokan).

Siangnya dievaluasi. Tak sampai 50 ekor kucing disuntik. Gerakan itu dinilai tidak efisien. Selain jumlah kucing yang disuntik terlalu sedikit dibanding ratusan yang ada, juga korbannya berdarah-darah. Sepekan kemudian dilakukan gerakan yang benar-benar ekstrem. Gerakan itu kemudian menghebohkan masyarakat Surabaya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.