Magnet Raksasa Itu Bernama: Dahlan Iskan


Diakui atau tidak, Pak Dahlan itu magnet raksasa. Milik dia berupa: kecerdasan intelektual dan sosial, kerja keras, kepemimpinan bagus, hidup sederhana, tegas, ngamukan, membuat masyarakat tertarik padanya. Gara-gara magnet itu, saya tertolong saat jadi tutor di Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
----------------------


Siang, 12 Nop ‘11 ponsel saya berdering. Dari teman akrab, wartawan televisi (tak perlu sebut nama). Dia berkata, “Mas dwo, mau nggak ngajar menulis. Cuma tiga hari honornya sekian (dia sebut angka luar biasa tinggi untuk ukuran mengajar),” Saya anggap gurauan.

Tapi dijelaskan, dari honor itu hak saya 25 persen. Sisanya dia dan beberapa orang penghubung. Busyet… dia jadi makelar, nih. Kendati begitu, angka 25 persen masih sangat tinggi untuk ukuran mengajar.

Mengapa tidak dia tangani sendiri? “Aku ada tugas liputan luar kota. Job ini tidak saya berikan orang lain. Sebab, saya tahu sampean penulis andalan Pak Dahlan,” jawabnya.

Di satu sisi, saya manusia biasa, tersanjung dikaitkan dengan mantan bos (saat itu belum lama dilantik jadi menteri BUMN). Di sisi lain, pasti ada yang sangat berat, sampai dikaitkan Pak Dahlan segala. Saya lalu bertanya:

“Muridnya siapa, sih?”

“Halaaah… pegawai Kemenkeu yg ingin belajar menulis.”

“Mengapa tidak cari pengajar beneran?”

“Mereka minta praktisi jurnalis. Pokoknya kamu paling pas.”

WAH… AKU KEJEBLOS, DEH…

Ada yang tidak nyambung. Mengajar menulis dari praktisi jurnalis. Kalo mengajar jurnalistik dari praktisi jurnalis, cocok. Juga, saya belum pernah mengajar khusus menulis. Kalo mengajar jurnalistik di kampus-2, beberapa kali.

Tapi, pikiran saya tergoda oleh angka (uang) yg sangat tinggi. Lagian, jurnalis memang penulis juga. Apa lagi yg ditakuti? Saya akhirnya: Ok.

Kawan itu minta nomor rekening saya, lalu dia langsung transfer DP 10 persen. Gile amat… kayak orang top aja gue…

Pelaksanaan tiga hari lagi (15 s/d 17 Nop). Tiga hari workshop (8 jam per hari dipotong istirahat makan siang). Tadi dia bilang “cuma 3 hari”, tapi saya tidak sempat tanya berapa jam per hari. Ternyata full… Sudah telanjur ok.

Grogi tak bisa hilang. Pertama, saya belum pernah mengajar dalam durasi lama (8 X 3 jam) sendirian. Sebelumnya, saya hanya jadi salah satu pembicara di kampus, paling lama 3 jam termasuk sesi diskusi. Kedua, honor terlalu tinggi, membuat saya bertanya: Siapa audience? Setingkat Dirjen juga termasuk karyawan Kemenkeu, lho. Wadoh…

Tidak usah pusing-pusing, saya telepon kawan Muhammad Agus Jauhari. “Mau gak, ngajar menulis bareng aku, honor sekian?” tanya saya. Angka untuk dia 30 persen dari honor saya. Semua materi pelajaran dari saya, tapi beban jam kerja (saya sebutkan 24 jam) dibagi sama rata. Tak banyak tanya, dia langsung: Siaaaap….

Sore, sehari jelang pelaksanaan, saya ditelepon ketua panitia: “Pak Djono, saya minta di-email materinya sekarang. Dalam bentuk power point, ya pak…” Mati aku. Power point? Makanan macam apa pula, ini?

Saya: “Masih dalam bentuk word, Mbak…” Dia seperti menyesal. Lalu, “Ya sudah… bapak ubah ke power point dulu. Malam ini saya terima di email, gak papa. Terpaksa, kami foto kopi sebelum Subuh nanti. Sebab, sebelum jam 07.00 pagi materi harus di tangan peserta,” katanya.

BUSYET… TERLAMBAT DATANG

Mulailah saya belingsatan. Gara-gara cerongohan, sih. (cerongohan = main sambar). Untung, saya bekerja di situs berita on-line. Ada web desainer disitu. Untung lagi, orangnya belum pulang.

Saya serahkan ke dia, “Nih, kerjaan luar kantor. Jadikan power point, minta honor berapa?” Dia kelihatan senang. “Honor terserah bapak aja, deh,” jawabnya. Saya serahkan beberapa lembar uang. “Segini cukup?” Dia senang. “Cukup pak,” katanya.

Nah, malam ini harus jadi. Dia melongo, “Kalo malam ini sulit, pak,” ujarnya. Saya serahkan beberapa lembar lagi. “Begini bagaimana?” Dia kembali cerah, “Nah, ini nggak sulit, pak.” Beginilah cara kami nego.

Ketika digarap, saya baru tahu power point. Ini dulu namanya slide, berbahan plastik. Sekarang tersedia di Mocrosoft Office. Lebih praktis dan cepat. Tapi, sampai lewat tengah malam, materi untuk hari pertama saja belum selesai. Yang lama cari foto di Google. Ya sudah, pk 03.00 saya kirim seadanya ke email panitia.

Tidur di kantor (Blok M) sebentar, pukul 06.00 lewat saya berangkat. Cari tempatnya (Pusdiklat Kemenkeu di Pancoran) tiba di lokasi saya terlambat 5 menit. Ruangan sudah tutup. Di dekat pintu, di luar ruangan, ada seorang cewek penerima tamu.

“Bapak peserta?” tanyanya. “Bukan, saya tutornya.” Dia tersenyum, “Ooo…. Pak Djono. Tadi sudah ditunggu Pak Kapusdik. Gak papa, bapak duduk di deretan belakang dulu. Sebab, Pak Kapusdik sedang bicara membuka acara,” katanya.

Saya masuk. Alamaaaak… ruangannya besar dan mewah. Mirip ballroom hotel. Kapusdik bicara di podium di sisi kiri. Sebelah kanan ada meja panjang, dan seorang lelaki duduk di balik meja pembicara itu. Bagian tengah panggung, kosong. Ada layar lebar untuk proyektor, dan white board, sesuai permintaan saya di telepon kemarin. Audience sekitar 50 orang.

Grogi mulai merayap. Suasana belajar mewah sekali. Belum pernah saya di forum semewah ini. Untung, kehadiran saya tak menarik perhatian, langsung duduk di kursi paling belakang.

Pak Kapusdik, “….. Saya sebenarnya agak beda pendapat dengan panitia. Belajar menulis tidak mungkin hanya tiga hari. Tapi, kalau memang bisa, ya… sangat hebat pengajarnya.”

GROGI, PENYAKIT BERBAHAYA

Seketika saya kebelet kencing, saking groginya. Saya keluar, hendak ke toilet. Saat melewati cewek penerima tamu, saya bertanya, “Pesertanya siapa sih, Mbak?” Dia menunjukkan buku tamu. Wah… wah… wah… para kepala kantor pajak dari berbagai kota, bersama staf.

Saya baca, ini workshop tahunan angkatan ke-3. “Lho, angkatan 1 dan 2 tutornya siapa?” tanya saya. Dia jawab, “Doktor komunikasi dari UI. Ada datanya di atas, apa perlu saya ambil, pak?”

Saya cegah, saya tanya, “Mengapa Pak Doktor itu tak mengajar di angkatan ini?” Katanya, hasil evaluasi penitia, pengajaran tidak efektif. Maka, coba diganti dengan praktisi. Mbok… mbok… mbok…

Di toilet terbersit pikiran: Kabur. Toh, data saya belum diketahui panitia, kecuali nama. Tapi, gila… Tindakan pengecut itu. Bakal kacau luar biasa kalau saya kabur.

Berbagai situasi hunting berita yang sulit sudah saya lakukan, mengapa begini saja kabur? Saya sudah menguasai ilmu menulis ajaran dari Pak Dahlan. Cuma, teorinya saya buat sendiri. Selama ini langsung praktek. Sedangkan peserta, meskipun para pejabat pajak, tak bisa menulis. Mereka butuh ilmu ini sekarang.

Saya keluar toilet, acara pembukaan baru saja bubar. Pak Kapusdik sudah berangkat. Peserta bubar untuk coffee break 10 menit. Saya masuk ruangan menyiapkan presentasi. Laptop yang disiapkan tak berfungsi baik. Saat saya mengutak-atik laptop, peserta masuk ruangan lagi. Konsumsinya belum datang.

“Dimulai saja, pak,” kata panitia. Saya tanya, tak ada moderator? “Tidak ada. Langsung saja, pak.” Pengajaran pun dimulai. Saya memperkenalkan diri: “Saya bukan pengajar… “ Kontan terdengar gerutu peserta.

“Tapi, saya sampaikan materi ini berdasarkan pengalaman 24 tahun jadi wartawan Jawa Pos.” Segera terdengar suara serentak, “Oo….. anak buahnya Pak Dahlan.“ Disini saya langsung menyadari, saya sudah salah start. Kalimat awal tadi menimbulkan ketidak-percayaan forum.

MAGNET DAHLAN BEGITU KUAT

Saya membaca materi. Power point tak berfungsi gara-gara laptop macet. Peserta yang sudah pegang kopi-nya, terpekur di meja masing-masing. Sekitar 10 menit dari saat pembukaan, saya merasa suasana mati.

Segera saya improvisasi. Tidak lagi membaca makalah. Tidak lagi duduk di belakang meja. Saya jalan menuju white board, menuliskan contoh lead (paragraf pertama dalam suatu tulisan) yang tidak ada di makalah.

Saya ceritakan kasus Sumanto, kanibal dari Purbalingga yang ditangkap polisi medio Januari 2004. “Sumanto ditangkap hari Rabu. Semua koran, televisi, media berita on-line memberitakannya habis-habisan,” kata saya. Kontan, audience bangkit, tak lagi terpekur.

Saya tertarik, ingin tahu, apakah Majalah Tempo (terbit 5 hari setelah penangkapan) juga memberitakan berita yang sudah habis itu? Ternyata, Sumanto malah jadi laporan utama Tempo. “Nah, bagaimana lead yang disajikan Tempo?” tanya saya sambil berjalan, supaya tidak mati gaya. Mata semua peserta mengarah ke saya.

Lantas, saya menuliskan lead Tempo di white board. Peserta ada yang protes, “Maaf, pak, tidak kelihatan…” Sebenarnya saya sengaja menulis tidak terlalu besar, untuk mengukur perhatian mereka. Ternyata ada respon. Maka, tulisan saya besarkan.

Sejak itu suasana ‘hidup’. Pelan-pelan saya kembali lagi ke makalah. Kini saya tak lagi duduk, tapi jalan-jalan di panggung kayak baca puisi begitu. Perubahan gaya ini membuat peserta berani bertanya di sela pemaparan.

Pertanyaan mereka bukan ke teori menulis, melainkan ke teknis liputan Sumanto. Peserta, “Kalau Tempo membuat lead begitu, berarti wartawan masuk ke ruang tahanan. Padahal, itu dilarang. Apakah lead tersebut hanya imajinasi, tidak sesuai fakta?” Saya bertahan, semua yang ditulis wartawan: Fakta, bukan imajinasi. Terjadi perdebatan disini.

Saat itulah saya lihat mitra saya Muhammad Agus Jauhari baru datang. Dia duduk di belakang. (nyambung dengan postingan dia di grup ini kemarin).

Celakanya, pertanyaan melebar ke cara Pak Dahlan memimpin Jawa Pos. Saya jelaskan. Pertanyaan soal Pak Dahlan jadi bertubi-tubi. Saya arahkan balik ke materi sudah sulit. Selalu belok ke Pak Dahlan lagi, Pak Dahlan lagi. Terpaksa saya jawab juga.

Selama menjawab soal Pak Dahlan, saya merasa, saya sudah gagal jadi tutor. Materi pelajaran kalah dengan magnet Pak Dahlan. Tapi, ada untungnya, suasana kelas jadi hidup.

Sesi berikutnya dihantam Agus Jauhari dengan pembukaan tentang Pak Dahlan. Kelas jadi tambah gayeng.

Di sesi-sesi berikutnya, perhatian peserta ke pelajaran jadi fokus. Sebab mereka merasa, itu ilmu dari Pak Dahlan. Sungguh, magnet Pak Dahlan luar biasa besar. Saya tertolong magnet itu.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.