Catatan Liputan Tragedi Talangsari (3-Habis)


Di seri terakhir ini, saya ogah-ogahan menulisnya.  Sebab, memalukan. Ujung-ujungnya, pembaca bagai menonton film “The Gods Must be Crazy” dan saya salah satu aktor disitu.  Tapi… ya sudah, silakan lanjut… 
------------------------


Baru 15 menit jalan masuk hutan, mobil berhenti. Sopir Tarno turun. “Sebentar, Bang (panggilan kepada lelaki lebih tua atau yang dihormati),” ujarnya ke saya, sambil lari ke lelaki setengah baya yang mengumpulkan kayu di depan rumahnya. Di tengah hutan ini, kelihatan ada tiga rumah. Salah satunya yang didatangi Tarno.

Jarak antara mobil kami dengan lelaki itu sekitar 10 meter. Sehingga saya masih mendengar pembicaraan mereka. Tarno: “Pak, mana jalan yang tidak dilewati tentara?”

“Mau kemana?” tanyanya ke Tarno. “Talangsari.” Seketika lelaki itu membuang muka. Ia jalan mondar-mandir, kacak pinggang, geleng-geleng. Dia melirik ke arah kami di mobil.

Lalu ia memandang lurus ke Tarno, menuding, “Kau cari penyakit,” ujarnya keras. Segera Tarno mendekatinya, merangkul. Mereka lalu bisik-bisik. Akhirnya lelaki itu menunjuk-nunjuk arah.

Berdasarkan dialog itu saya sadar, tentara tak hanya di jalan raya, tapi juga di hutan ini. Kini kami sedang lewat hutan ini. “Ya Tuhan, anak itu ternyata tidak paham kondisi hutan ini, Dwo (panggilan inisial saya),” ujar Wil.

Saya berusaha tidak membuat suasana tambah tegang. Saya: “Dia bertanya agar kita cepat sampai. Andai kita tertangkap tentara, maksimal disuruh kembali  ke Metro,” Dia membalas, “Soalnya ini hampir pukul 12.00 baru sampai sini. Mana bisa kita kirim foto? Deadline 18.00 juga tak terkejar,” ujarnya. Memang, deadline surat kabar Wil (SI) 18.00, saya (JP) 00.00 bahkan bisa diundur jika kualitas berita sangat tinggi.

Tarno kembali ke mobil sambil senyum. “Maaf,  Bang. Saya pernah lewat sini naik motor, tapi untuk memastikan, saya tanya ke kawan bapak saya itu tadi,” tuturnya. Saya dan Wil diam saja. Mobil jalan lagi. Melewati jalan tanah yang penuh dedaunan kering.


Makan Ayam Bakar, Ingat Talangsari

Pohon di hutan ini tak terlalu lebat. Sinar matahari masih bisa menerobos celah daun-daun pohon jati. Jarak antar pohon cukup renggang. Mobil melaju pelan. Jarum di speedometer mati, tapi laju sekitar 20 – 30 km/jam. Tarno banyak menghindari patahan kayu kering yang berserakan. Andai ban kena sesuatu yang runcing, bisa sobek.

Tarno sudah menceritakan, peperangan selesai kemarin petang. Korban tewas pihak GPK (Gerakan Pengacau Keamanan), katanya, lebih 100 orang. “Saya dengar, tadi pagi mayat-mayat dikubur masal oleh tentara, entah dimana,” katanya.

Mendadak, ia menghentikan mobil, langsung mematikan mesin. Matanya mengamati arah kanan depan. Saya tak melihat apa-apa disana. Wil juga melongok dari jendela, memeriksa arah depan.

 “Seperti ada orang lari diantara pohon,” kata Tarno. Kami diam sambil tetap mengamati arah depan. Saya tanya, “Memangnya tentara juga menutup jalur hutan?” Tarno, “Bukan menutup. Mereka mengejar GPK yang lolos dari serangan senjata kemarin.”

Penasaran, saya tanya, “Berapa orang yang lolos?” Dia, “Kabarnya seratusan gitu.” O... kalau itu benar, berarti di hutan ini ada lebih dari seratus tentara dan seratus GPK.

Saya mengeluarkan kartu pers dan memakainya di leher. Wil juga melakukan itu. Meskipun grogi, saya tak terlalu takut. Sebab, saya melaksanakan tugas dan tidak memusuhi tentara atau GPK. Yang saya takutkan, gagal tugas.

Melalui liku-liku sekitar sejam, tiba juga kami di tempat tujuan. Saya dan Wil turun dari mobil, sedangkan Tarno memarkir mobil di rerimbunan belukar, lalu dia  sembunyi di dalamnya.

Saya dan Wil kini berada di areal bekas kebakaran. Sebuah bangunan yang mungkin terbuat dari kayu, sudah hangus dan roboh. Sisa kayu sudah menjadi arang, bertumpuk setinggi sekitar 1 meter, lebarnya kira-kira setara dengan lima baris rumah tipe 70. Berdasarkan cerita Tarno, itulah sisa markas kelompok pemberontak Warsidi (pemimpin GPK).

Kami berpencar, memotret area seluas sekitar 100 X 100 meter itu. Bau gosong menusuk hidung. Yang menyulitkan saya jalan, bongkahan-bongkahan hitam berserakan dimana-mana.

Ada bekas lemari, bangku, pohon, dan benda lain yang semuanya gosong. Saya terus melangkah menuju tengah ke arah bekas markas. Namun, sepatu saya menginjak sesuatu, yang ternyata..... tangan manusia. Hitam, tertimbun bongkahan yang juga hitam.

Perlahan saya mengambil patahan kayu, saya gunakan untuk membongkar bongkahan yang menutupi mayat. Tampaklah kini: Tubuh manusia gosong. Posisi tidur miring meringkuk. Kedua kakinya tertekuk menempel di perut. Tangan kirinya memegang dada, kanan lurus ke depan (ini yang tadi saya injak).

Saya perkirakan, itu mayat pria remaja, tinggi sekitar 1,40 m. Daging bagian dada rata (tak ada tonjolan) walau semua daging sudah meleleh. Sisa penis tak bisa dilihat, sebab tubuh itu sudah kaku.

Baunya belum terlalu busuk, hanya mirip ayam bakar basi, tapi dalam jumlah banyak. (selama sebulan sejak dari sana, saya menghindari makan ayam, baik bakar atau goreng).

Jika benar kata Tarno pertempuran usai kemarin petang, maka kondisi ini belum 24 jam. Setelah saya potret berbagai sisi, mayat tersebut saya tinggalkan.

Tiba di bagian tengah (onggokan besar) saya bertemu Wil yang tadi masuk dari arah lain. “Aku sudah dapat foto dua mayat, Dwo,” ujarnya. Wah, saya kalah satu, kata saya dalam hati.

Dia mengamati onggokan besar itu dengan hidung mengendus-endus. Saya juga tahu, di dalamnya pasti banyak mayat. Sebab, bau ayam bakar basi sangat tajam disini. Namun, kami dikejutkan seorang lelaki yang berdiri di jarak sekitar 150 meter. “Hoiii.... jangan kesitu,” teriaknya.


Bocah Kehilangan Mainan

Pelan-pelan kami meninggalkan wilayah ini, jalan menuju ke lelaki yang berteriak tadi. Kami jalan sangat pelan, khawatir tergores patahan seng yang berserak dimana-mana.

Setelah kami mendekati lelaki itu, dia ternyata ramah. Usianya sekitar 60. Tapi, saat kami memperkenalkan diri sebagai wartawan, dia langsung menghindar. “Saya tidak mau ngomong apa-apa,” ujarnya sambil pergi.

Lalu saya dan Wil berpencar mendatangi rumah masyarakat, menggali informasi. Heran saya, sejauh ini tak ada tentara di sekitar areal ini. Menurut masyarakat, sejak pagi sampai menjelang siang tadi, banyak tentara. Mereka mengangkut mayat untuk dikuburkan (masyarakat tak tahu dimana kuburnya). Mungkin sore nanti tentara akan kembali.

Berarti kami tiba di lokasi pembantaian ini, pada waktu yang tepat, walaupun kebetulan. Dari masyarakat kami mendapatkan bahan berita. Hanya saja, mereka tak mau disebutkan identitasnya. Lelaki yang memanggil kami dari lokasi pembantaian tadi ternyata kepala Dusun Talangsari III (saya lupa namanya).

Tak gampang mewawancarai masyarakat. Dari belasan orang yang saya datangi, hanya tiga bicara. Itu pun setelah saya rayu. Mereka bicara dengan wajah khawatir.

Untuk narasumber model begini, saya tidak menggunakan catatan, apalagi rekaman. Hanya mengandalkan daya ingat. Jika saya mengeluarkan notes, mereka bisa langsung membisu. Kalau pun bicara, isinya seperti pidato, formal, tidak human. Atribut wartawan seperti notes dan kartu pers, menimbulkan penolakan bicara. Sedangkan foto, ditembakkan setelah wawancara selesai.

Data liputan lengkap, hampir pukul 15.00 saya dan Wil berdiskusi .

Berdasar rencana, seharusnya Wil atau saya meninggalkan lokasi pukul 14.00 untuk cetak foto di Metro, lalu membawa hasil cetak foto ke Bandara Jakarta. Tapi sejak tadi saya dan Wil berpencar, tidak bisa komunikasi (saat itu belum ada handphone). Kini jika dipaksakan salah satu diantara kami ke Jakarta, pasti foto tidak terkirim, sebab pesawat terakhir Jakarta - Surabaya sudah berangkat.

Saya sungguh sedih. Bagai bocah kehilangan mainan kesayangannya. Foto headline Jawa Pos mestinya areal gosong itu. Surat kabar Kompas (terbesar di Indonesia) tidak memiliknya, sebab foto karya kami ini eksklusif.

Tugas tulis kurang satu: Profil Komandan Rayon Militer, Kapten Soetiman yang tewas akibat kena panah pemberontak. Info dari masyarakat: Rumah keluarga Soetiman tak jauh dari kantor kecamatan.

Anehnya (atau untungnya) sejauh ini kami tak jumpa tentara. Mereka konsentrasi di Ring III (titik blokade) yang radiusnya sekitar 30 km dari Ring I. Saya belum tahu, apakah Ring II (seputar hutan dan jalan) ada penjagaan.   

Mobil kami kini tak lagi lewat hutan menuju rumah Soetiman. Tapi, mobil ini melaju sendirian di jalan raya. Tak ada kendaraan lain, kecuali satu-dua sepeda. Semua orang memandang heran ke mobil kami. Perjalanan ke rumah Soetiman lancar.

Lokasinya, hanya sekitar 100 meter dari jalan raya, masuk jalan desa. Rumah tanpa pagar halaman, dinding warna hijau, lebar 10 meter, ke belakang sekitar 12 meter. Megah untuk ukuran di desa itu. Di luar sepi.

Kami masuk, disambut ramah, para penghuni rumah keluar ke ruang tamu, salaman dengan kami. Ada 3 wanita dan 2 pria dewasa, serta 2 anak wanita dan 1 lelaki. Wajah-wajah sedih, berusaha senyum.

Namun, saat saya perkenalkan diri sebagai wartawan, semua kaget. Lalu mereka semua masuk ke ruang dalam lagi, kecuali seorang lelaki (sekitar 33 tahun) adik lelaki Soetiman.

Saya tanya namanya, dia menolak. “Tunggu sebentar,” ujarnya, sambil pergi masuk ke ruang dalam. Saya dengar di dalam terjadi perdebatan. Isi pembicaraan tidak terdengar jelas. Ada suara berisik sinyal HT (Handy Talky).

Pria itu keluar lagi. “Begini, kami dilarang berbicara kepada pers oleh komandannya Pak Soetiman. Maaf, kami tak bisa menerima anda,” katanya. Saya mengangguk: “Kami kesini hanya mengucapkan belasungkawa. Kami sedih, putera bangsa terbaik menjadi korban kekacauan.” Dia berterima kasih.\

Saya dan Wil tetap duduk. Saya, “Boleh saya minta biodata Pak Soetiman?” Dia jawab pendek, “Silakan ke markas militer.” Saya tanya lagi, “Dimakamkan tadi atau kemarin?” Dia, “Kemarin.”

Saya merasakan, jawaban dia seolah berlama-lama, tidak cepat. Saya, “Siapa komandan upacara pemakaman?” Dia mulai tak sabar. “Saya tak bisa jawab. Tolong... tolonglah keluar,” nafasnya terengah.


Interogasi Terkait PKI

Beberapa detik kemudian, dari luar rumah terdengar teriakan: “Keluar.... Angkat tangan.”

Saya lihat dua tentara seragam perang, masing-masing menodongkan pistol mengarah ke pintu. Saya perkirakan, jarak antara mereka dengan pintu sekitar 3 meter. Di belakang mereka ada empat tentara lagi, tanpa pistol. Semua wajah coreng-moreng hitam.

Peringatan diulang, lebih keras lagi. Kami keluar, dua tangan terangkat. Di bawah todongan pistol, saya, Wil dan sopir Tarno digiring menuju truk tentara di jalan raya, sekitar 100 meter dari rumah.

Mulailah interogasi bertubi-tubi di Makodim (markas militer). Saya dan Wil diinterogasi terpisah, tapi di satu ruangan, pengap. Jarak saya dan Wil sekitar 4 meter. Tarno di ruangan lain.

Pertanyaan: Identitas diri lengkap, identitas saudara, orang tua, isteri, juga keluarganya isteri, semua detil. Interogator berganti-ganti ada belasan, tapi daftar pertanyaannya sama. Untuk data orang tua dan keluarga isteri saya, detil di kegiatan sekitar tahun 1965. Mereka menggali kemungkinan saya terkait PKI (Partai Komunis Indonesia yang pada 1965 melakukan pemberontakan berdarah) .

 “Mana surat tugasmu?” tanyanya. Saya, “Tersimpan di tas, Pak.” Tasnya mereka tahan. Pendamping interogator segera mengambil tas kami. Saya buka, saya serahkan dua lembar kertas kuning. Interogator heran, membolak-balik kertas itu.

 “Mana? Ini surat tagihan,” ujarnya. Lalu saya tunjukkan tulisan tangan Nani. Diamati sejenak, lalu dia membentak, “Saudara jangan main-main. Masak surat tugas begini?” Saya jelaskan panjang-lebar. Petugas  heran, menggelengkan kepala. Mungkin petugas tidak percaya, tapi itulah surat tugas saya.

Lucunya, Wil juga menunjuk surat tugas saya itu sebagai surat tugas dia. Kejadian ini berulang kali dengan belasan interogator berbeda, pertanyaan sama. Jadi, kertas bekas tagihan iklan itu dibawa bolak-balik dari tempat saya ke Wil, balik lagi, berkali-kali setiap berganti interogator.

Jelang petang, terjadi perubahan. Saya dipisah (dengan Wil) ke ruangan lain. Saya merasakan ada sesuatu yang serius. Beberapa saat kemudian petugas masuk mendekati saya, “Bapaknya isterimu  desertir Marinir. Pada 1966 dia melindungi kakak lelakinya yang anggota PKI,” katanya.

Waduh... Saya malah tidak pernah tahu hal ini. Saya perkirakan, aparat Kodim (markas militer) saat itu sudah menelepon Mako Marinir (markas Angkatan Laut Indonesia) di Gunungsari, Surabaya. Dan, data bapaknya isteri saya (almarhum) yang sudah terpendam 23 tahun (sampai dengan saat itu), berhasil dibuka.

Sejak itu bentuk pertanyaan ke saya berubah, menyangkut ideologi. Terkait Pancasila, UUD 45, sistem Hankamrata (Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta). Semua saya jawab. Interogator juga ganti-ganti dengan pertanyaan sama. Benar-benar melelahkan.

Setelah itu saya dibiarkan sekitar sejam. Saya pasrah saja, menunggu keputusan mereka. Pukul 21.00 saya diperintahkan keluar.

Di koridor, saya lihat Wil juga dikeluarkan. Kami digiring masuk ruang kerja mewah, ber-AC, di meja ada sekeranjang aneka buah. Tak lama, masuk seorang perwira  tinggi (namanya saya lupa, nama Batak). Dia dengan ramah menyalami kami. “Mohon maaf, jika anggota pasukan saya tadi agak kasar,” ujarnya. “Mau minum apa?”

Saya minta kopi, Wil teh. Dia telepon anak buahnya, pesan minuman. Dia jelaskan peristiwa Talangsari. Jumlah korban GPK 6 orang (sama dengan penjelasan Pangab di TVRI). Tampaknya dia komandan Kodim.

 “Intinya begini, film anda (di dalam kamera) sudah saya buang. Saya ganti dengan rol film baru. Saya minta, Saudara-saudara tidak menulis apa yang sudah diketahui sepanjang hari ini. Kalian berdua langsung kembali ke Jakarta sekarang,” tuturnya. “Jika kalian masih di wilayah Lampung, saya tidak cegah jika anak buah saya bertindak tegas.”

Setelah minum, kami boleh meninggalkan markas itu. Saya dan Wil sama sekali tidak dipukul. Tarno, pipinya lebam. Dia mengaku dihajar. Kami meninggalkan Makodim dengan mobil Tarno lagi.

Di terminal, saat kami membayar jasa Tarno, dia minta tambahan biaya. Kesepakatan tarif yang semula Rp 300 ribu naik jadi Rp 350 ribu. Nilai  itu hampir setara 3 bulan gaji Wil. Dibayar saja.

Kami menuju hotel naik angkutan umum lain, bukan milik Tarno. Di hotel, saya menelepon ke kantor Jawa Pos di Jakarta,  pukul 22.00 lebih, diterima Redaktur Edi Aruman. Dia marah-marah. “Wah... kantor pusat Surabaya telepon ke saya terus, tanya beritamu. Ayo cepat kirim berita,” kata Aruman. Dia kira berita sudah jadi, padahal belum saya ketik.

Saya mengetik terburu-buru. Saat hampir selesai, petugas losmen mengetuk pintu. “Bapak Willy atau Bapak Djono ada telepon di lobby,” katanya. Saya minta tolong Wil menerima telepon, saya kira dari Aruman.

Wil balik ke kamar tergopoh-gopoh dengan wajah tegang. “Ayo kita berangkat, Dwo. Telepon dari komandan Kodim. Dia tahu kita di hotel ini.  Di luar hotel saya lihat beberapa tentara tidak mengenakan seragam,” katanya, mengemasi barang.

Luar biasa. Kami segera keluar kamar menuju lobby. Dari kaca, saya lihat di luar ada lima pemuda rambut cepak membawa handy talky, mondar-mandir.

Sebelum membayar hotel, saya minta naskah di-fax ke Jakarta. Setelah terkirim, baru kami bayar.

 (Pagi harinya naskah saya dimuat di koran Jawa Pos, sesuai rencana, jadi boks seri 1 berjudul  “Laporan Langsung dari Medan Perang Talangsari”. Kolom foto diisi sketsa geografi lokasi Talangsari. Tapi, esoknya lagi serial tak berlanjut, setelah Pemimpin Redaksi Jawa Pos Pak Dahlan dipanggil Panglima Militer Brawijaya, Mayjen TNI Saiful Sulun. Laporan seri 1 yang dimuat itu berupa pembukaan, memaparkan situasi dan kondisi Lampung.)


Gaya Jalan Si Crazy

Tiba di rumah jelang pagi, isteri saya sudah bangun. “Bagaimana hasilnya, sukses?” tanyanya. Saya acungkan dua jempol, dia tersenyum. “Mandi dulu, ambumu lebus (baumu seperti kambing) banget. Setelah itu ceritakan hasilnya, saya ingin tahu,” katanya.

 Setelah mandi, saya bercerita: “……. Semua target tercapai, sampai kami ditangkap di rumah komandan rayon militer….”

Kami mengangkat tangan ditodong pistol dua tentara. Wil: “Saya wartawan, Pak,” ujarnya, akan merogoh kantong celana belakang (mungkin akan mengambil kartu pers).

Seketika tentara berteriak, “Angkat tangan....” Pada saat bersamaan saya dengar: Klik…  tanda kunci pengaman pistol dibuka.

Saya kontan teriak panik, “Angkat tangan, Wil.....” Wil kaget, langsung mengangkat tangan.

Suasana hening. Saya amati dua tentara berpistol (usia mereka sekitar 23-25 tahun) itu tegang, siap menembak. Moncong pistol mengarah ke tengah dada kami.

Tangan kiri mereka yang semula santai, kini pada posisi di belakang pistol, siap menahan hentakan pistol jika meledak. Saya pasrah, bibir saya bergetar mengucap syahadat.

Beberapa saat kemudian, dua tentara yang semula di belakang, maju mendekati kami. Mereka menggeledah dari atas ke bawah. Lantas saya mendengar, diantara mereka ada yang mengatakan: “Aman…. Ndan.”

Kemudian tas kami diambil, seluruh pakaian kami dilucuti. Tinggal celana dalam. Kondisi mental sangat takut. Kami tidak protes.

Benar-benar nyaris celaka akibat salah paham. Tentara mengira, Wil mengambil sesuatu (bisa diduga senjata) di belakangnya, otomatis diterjemahkan: Akan melawan.

Lalu kami diperintahkan jalan, diikuti 6 tentara di belakang. Kami berjalan telanjang sambil tetap angkat tangan sepanjang sekitar 100 meter menuju truk tentara. Tarno juga digiring dan angkat tangan, tapi tak telanjang.

Di kiri-kanan jalan desa, masyarakat menonton. Ibu-ibu tertawa tapi ditahan. Ada yang tak mampu menahan tawa, lari masuk rumahnya, lantas ketawa sekerasnya...

Pemandangannya begini: Wil berjalan tegang. Badannya kurus (tulang iga kelihatan) hitam legam. Rambut pendek keriting kecil-kecil. Celana dalam merah sesak di bagian karetnya. Tapi lebar di bagian tengah, jadi seperti membengkak begitu.

Saat berjalan, pantat Wil goyang ke kiri kanan. Sungguh mirip pemeran Xi, pemuda Afrika di film “The Gods Must Be Crazy” yang saat itu belum lama diputar di bioskop.       

Saya (wah... malu, nih) celana dalam Crocodile lama (sudah saatnya diganti) warna putih kusam. Jika celana Wil karet bagian paha sesak  menjepit, saya kendor. Sehingga angin menerobos, langsung dingin.

Untung, karet bagian perut masih rapat, kalau tidak, bisa merosot dibawa jalan begitu jauh. Jadi, saya berjalan dengan celana dalam berkibar di bagian bawah.

Isteri saya malu saat mendengar ceritanya, tapi terpingkal-pingkal sampai terbatuk-batuk. Saya dicubitnya berulang kali. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.