Catatan Liputan Tragedi Talangsari (2)


Profesi wartawan keren? Salah besar. Tidak cocok dengan episode ini. Saya sudah dibombardir rincian tugas rumit oleh Pak Dahlan. Di lapangan kepentok jalan buntu. Saya tak sudi meratap. Sudah terlanjur jadi wartawan.
-----------------------


Di atas fery, saya teliti lagi rincian tugas Nani, instruksi dari Pak Dahlan. Ada lima angle. (1) Deskripsi lengkap situasi-kondisi TKP (Tempat kejadian Perkara) sebelum dan sesudah kejadian. Untuk sebelum, wawancara warga. Agar tulisan hidup, narasumber minimal 3. Untuk sesudah, profil tiap jengkal lokasi.

(2) Sejarah berdirinya kelompok pemberontak pimpinan Warsidi. Detil (a) Siapa Warsidi? Bagaimana prosesnya orang Jawa itu berada disana (Lampung)? Bagaimana perilaku sehari-hari dia? (b) Kisah proses Warsidi membangun kelompoknya (pesantren yang dinilai pemerintah Orde Baru sebagai kelompok eksklusif). (3) Gambaran kehidupan sehari-hari anggota kelompok di pesantren dan hubungan mereka dengan masyarakat luar kelompok.

(4) Deskripsi drama peperangan GPK lawan tentara. (5) Profil Danramil Kapten Soetiman yang tewas di medan perang, Bentuknya: Semi biografi, dari Soetiman pamit keluarga saat berangkat perang, proses pertempuran, tewas, pemakaman. Jangan lupa: Angle foto jurnalistik.

Foto dan beberapa tulisan (termasuk boks seri 1) harus sudah bisa diterbitkan di surat kabar kita besok. Good luck.

Jiwa penugasan menggebu. Saya menyimpulkan: Berita yang akan diterbitkan besok model blow up. Dampaknya: Pembaca bakal terbelalak, kekenyangan berita magnitude tinggi. Kompetitor pasti habis. Klepek… klepek…

Tak kalah sulit soal foto. Harus  sudah tercetak (bukan negatif film) dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta paling lambat 19.00 (penerbangan terakhir ke Surabaya saat itu).

Dilanjut, kami harus menitipkan (minta tolong) ke penumpang pesawat tujuan Surabaya (pilihlah orang yang bersedia menjadi relawan, sebab tanpa honor). Selanjutnya, saya menelepon staf  JP di Surabaya, memberitahu ciri-ciri penumpang yang dititipi foto.

Terakhir, staf JP di Surabaya akan menjemput relawan (penumpang dengan ciri-ciri yang sudah diberitahukan sebelumnya) di Bandara Juanda Surabaya.

Repot memang. Saat itu teknologi pengiriman foto belum secanggih sekarang. Tentu saja cara itu kadang gagal. Misalnya, jika relawan berganti warna pakaian, karena mengenakan atau melepas jaket. Atau, relawan yang semula ikhlas, kemudian ingkar, tidak mengaku dititipi saat dijemput di Juanda.

Cara itu juga memaksa wartawan berhitung waktu. Pukul 14.00 salah satu (saya atau Wil) harus sudah meninggalkan Talangsari. Lalu mencetak foto di Metro, pusat kota Lampung, lanjut ke Jakarta, kembali lagi ke Talangsari menuntaskan peliputan. Semua ini sulit, lho. Bahkan untuk ukuran senior.

Saya grogi. Tentu, jauh lebih enak wartawan dengan posisi tugas pos instansi. Mereka tinggal menerima release dari instansi, atau wawancara pejabat, lalu mengubahnya menjadi berita. Beres.

Sejak berangkat, saya terus membaca penugasan, karena takut gagal. Saya berusaha menjiwai isi naskah, sampai hafal kata demi kata. Tentu, saya berdoa memohon pertolongan Allah SWT. Saya hanya cecunguk yang lemah.

Surat tugas itu ditulis tangan oleh Nani di dua lembar kertas warna kuning, bekas kuitansi tagihan iklan. Di balik tulisan tersebut ada ketikan tagihan iklan. Malam itu tidak ditemukan kertas folio kosong. Jadi, digunakan kertas seadanya.

Kertas itu saya simpan sampai lebih dari 10 tahun, sebagai kenang-kenangan. Maksudnya bukan untuk mengenang tulisan Nani, tapi kertas ini menjadi alat interogasi tentara terhadap saya, di Markas Komando Distrik Militer (Kodim). Tapi sayang, kertas hilang saat saya pindah rumah tahun 2000.

                                                                   *****

Di atas ferry, saya memandang ke arah dermaga. Angin laut terasa lebih segar dibanding angin jalanan, saat di motor tadi. Riak ombak, hitam berkilau disiram cahaya bulan sabit. Deburnya mencolek dinding kapal secara konstan.

Hampir 02.00, Pelabuhan Merak kian menjauh. Lampu pelabuhan berderet horisontal, menari lembut dipermainkan gelombang. Langit di ufuk Jakarta memancarkan sinar putih tipis, membentuk kipas. Subhannallah.. dengan segala indah ciptaan-Nya.

Sebenarnya saya mengantuk, seharian sudah hunting berita. Tapi, indahnya perjalanan ini membuat saya benar-benar merasa segar. Apalagi, perjalanan ferry ini hanya membutuhkan waktu sejam saja.

Wil datang mendekati saya di pinggir anjungan. Rambutnya pendek, keriting kecil-kecil, tak goyah diterpa angin. Pemuda Timor Timur berkulit gelap ini tampak tenang saja menghadapi tugas.


Tulis Features, Gampang

“Dwo, kalau benar kondisi medan liputan bakal sulit seperti dugaanmu, kita berpencar saja,” dia mulai bicara strategi. “Keuntungannya, kalau diantara kita ada yang tak bisa masuk lokasi, hasil berita bisa dibagi dua. Andai kita bisa sama-sama masuk, tentu lebih baik.”

Idenya efisien. Tapi, saya menyela: “Kita harus berusaha masuk berdua. Setelah di TKP, lalu berpencar mencari narasumber berbeda,” kata saya. “Sebab, kalau ada yang tidak bisa masuk, dia tidak berfungsi. Jika hasil satu dibagi dua, maka jiwa tulisan akan sama. Pasti Nani tahu,” tutur saya.

Wil: "Kata-kata bisa dimainkan agar beda. Nani tak akan tahu itu." Saya mendebat: "Tentu, tulisan adalah rangkaian kata. Tapi alur berpikir dan perasaan tiap manusia terhadap suatu hal, pasti beda. Perbedaan ini jika dituangkan di tulisan, menghasilkan struktur tulisan berbeda. Bisa menjadi dua tulisan sama-sama indah, tapi indah beda versi. Kalau satu versi dibelah dua, ketahuan sebagai duplikasi."

Willy mengangguk-angguk, menarik napas, kedip-kedip. Saya merasa tidak enak menggurui. Saya kira dia acuh, ternyata, “Jadi, kau ingin berita kita indah?” tanyanya.

Saya: “Dari penugasan kelihatan, yang diinginkan Nani berita model features. Keindahan berita features bukan hasil dari permainan kata, tapi alur pikir dan rasa penulis dalam menggambarkan obyek liputan. Gampang, kan?”

Dia tersenyum, “Rupanya ini, membuat Nani menyuruh aku belajar padamu,” katanya sambil menunjuk. Saya tiru logat dia yang mirip logat Ambon: “Kita dua buruh, tak perlu bertengkar,” kata saya, mengacungkan telunjuk. Kami terbahak-bahak. Tapi tawa kami ditelan ombak.

*****

Pelabuhan Bakauheni lebih sepi dibanding Merak. Ferry merapat lambat. Lelaki di atas ferry melempar tambang besar ke bawah. Diterima lelaki kekar, lalu tambang dikaitkan ke tiang besi. Lamat-lamat terdengar lagu ndang dut dari radio di kedai kopi di daratan.

Dari atas anjungan pukul 02.30 saya lihat ratusan orang berbondong hendak naik ferry yang akan balik lagi ke Merak. Jumlah tentara disini lebih banyak dibanding di Merak. Berseragam dan bersenjata, ada juga yang pakaian preman berjaket.

Tentara pakaian preman cirinya: Postur tinggi ramping berambut pendek. Gaya mereka tenang, tidak bergegas, pandangannya menyapu wajah-wajah orang. Mereka membaur dengan calon penumpang kapal.

Kian nyata bahwa medan liputan bakal sulit. Mungkin peperangan masih berlangsung. Pada zaman itu, stabilitas keamanan nasional menjadi panglima pembangunan. Berita resmi Mabes ABRI selalu: “Aman terkendali”. Pernyataan Jenderal Try bahwa kondisi Talangsari sudah aman, mungkin tak sepenuhnya benar. Itu sekedar menentramkan masyarakat.

Saya mengubah strategi liputan. Rancangan tugas dari Pak Dahlan bisa tidak sesuai di lapangan. Harus disiapkan rancangan baru, menyesuaikan kondisi. Liputan tentu bakal lebih seru jika perang masih berlangsung.

Mendadak Wil menarik lengan saya. “Ayo cepat lari, dwo,” Membuyarkan rancangan liputan. Orang bergegas turun tangga kapal, ingin cepat naik angkot. Di darat, sopir berteriak: “Ayo... Metro.... Metro.... Kurang satu, mobil berangkat.” Orang berebut naik mobil L 300. Saya dan Wil masih menuruni tangga.

Observasi Medan, Keder

Di perjalanan kurang menarik. Kiri-kanan jalan hanya semak-belukar. Mobilnya pun penuh penumpang. Malah ada penumpang membawa puluhan ayam hidup yang terikat kakinya.

Saya tidak banyak bergerak, khawatir menginjak kepala ayam di kolong jok. Bau ayam dan peluh manusia menggumpal, tak tersalurkan oleh satu jendela kaca yang hanya dibuka sekitar 10 Cm. Toh, saya tertidur juga.

Saya terbangun oleh dorongan penumpang yang buru-buru turun di terminal Metro, hampir 05.00. Tidak ada tentara di sekitar terminal. Kayaknya suasana normal. Namun, info dari para sopir, di tiga arah jalan menuju Way Jepara sudah diblokade sejak pertempuran kemarin.

Way Jepara adalah kecamatan. Sedangkan Talangsari masih masuk lagi ke pedalaman. Dari para sopir angkot, saya tahu, lokasi kejadian  di Dusun Talangsari III, Desa Rajabasa Lama, Kecamatan Way Jepara.

Repotnya, setiap saya bertanya Talangsari, pasti menarik perhatian orang. “Mengapa anda kesana, Bang?” tanya seorang sopir ke saya. “Saya akan ke rumah saudara di Rajabasa Lama. Harus lewat jalan mana?” jawab saya, balik tanya. “Tidak ada yang bisa melewati blokade,” jawabnya.

Wil juga menghimpun info. Hasilnya idem, tak ada kendaraan yang bisa ke Talangsari. “Orang di Metro (kota) tak bisa kesana, begitu juga sebaliknya,” kata Willy.

Saya terus mencari info, coba mengukur, dari tiga titik blokade, mana yang terdekat dengan Rajabasa Lama. Tiap bertanya, saya tak lagi menyinggung Talangsari, sebab membuat orang curiga. Kalau sudah curiga, mereka jadi balik bertanya-tanya. Merepotkan. Lebih baik tanya Rajabasa Lama.

Ternyata, jarak terdekat sekitar 25 km. Itu pun dari titik blokade menuju kantor Desa Rejabasa Lama, belum ke TKP di dusun. Tidak mungkin jalan kaki dengan deadline mepet begini. Sedangkan ojek motor belum ada.

Jelas sudah, liputan berita sulit. Kami lantas mencari hotel. Saya kira orientasi lapangan cukup. Saya juga masih mengantuk. Dua hotel yang kami datangi, tak memenuhi syarat (tidak ada pinjaman mesin ketik dan faximile). Di hotel ketiga, kami boleh pinjam sebuah mesin ketik dan boleh dibawa ke kamar. Di lobby, ada fax pula. Check ini, tidur.

Pukul 07.00, baru satu setengah jam tidur, pintu hotel digedor petugas room service, sesuai pesanan kami. Mata ngantuk, saya cuci muka. Dalam 10 menit saya sudah siap berangkat. Saya kira hanya saya yang cepat, ternyata Willy juga sama cepat, gak mandi. Pantas badannya hitam. Dia mitra yang cocok.

Kini kami siap berangkat. “Ayo, kita berjuang… ” ujar Wil, seusai dia berdoa menurut agama Kristen.

Dia mengulurkan tangan, kami salaman untuk memantapkan hati. Saya grogi, tapi saya tutup rapat agar tak menular ke dia. Kartu pers kami gantungkan ke leher. Langkah harus mantap, apa pun yang terjadi. Kami naik angkot menuju titik blokade terdekat.

Tapi, alamaaaak… ternyata lokasi blokade memang sangar.

Tentara sangat jago menentukan titik blokade. Posisinya dekat pertigaan, tapi berjarak sekitar 100 meter dari pertigaan. Semua kendaraan tidak mungkin berbelok ke arah blokade, sebab dari pertigaan terlihat jelas: Dijaga gerombolan tentara bersenjata laras panjang.

Gulungan kawat berduri berkilau-kilau ditimpa matahari pagi. Sehingga jalan sepanjang sekitar 100 meter dari pertigaan ke blokade, benar-benar lengang. Pejalan kaki pun tak ada. Suasana tegang terbangun  nyata.

Dipopor Senjata, Balik Kanan

Saya dan Willy nekat masuk jalan lengang itu, menuju blokade. Masak wartawan takut? Saya sedang bertugas, lho. Sejatinya hati ini ciut, melihat tentara disana fokus ke arah kami. Mereka seperti heran melihat kami mendekati blockade. Mereka mengawasi langkah kami yang terus mendekat.

Pada jarak tinggal 5 meter, salah seorang dari mereka: “Mau kemana?” Hampir bersamaan kami menjawab: “Kami wartawan, Pak. Mohon izin ke Talangsari,” saya menunjukkan kartu pers.

Tentara itu tinggi ramping, maju mendekat. Usianya sekitar 30. Wajahnya serius memeriksa kartu pers kami dengan teliti, mencocokkan foto dengan wajah.

“Talangsari tertutup bagi siapa pun. Silakan kamu kesana, atau pulang saja,” katanya menunjuk halaman sebuah rumah.

Di arah yang ditunjuk ternyata berkumpul lebih 20 pemuda, sebagian membawa kamera. Mereka semua wartawan. Kami pilih ikut ngumpul disitu. Tentara mengingatkan: “Harus merapat… jangan keluar pagar,” tegasnya. Tak ada keramah-tamahan. Saya maklum, dia juga bertugas.

Cerdik para tentara itu. Mereka menyatukan wartawan di halaman rumah orang. Sehingga, jika dilihat dari arah pertigaan, tidak tampak warga sipil di sekitar blokade. Ini yang mempertegas suasana tegang. Penghuni rumah di jalan tersebut juga tak ada yang keluar dari pagar. Blokade sungguh efektif.

Sekitar sejam disana, saya rasa tak ada gunanya. Kami hanya ngobrol. Buang waktu.

Tapi ada pemandangan menarik. Dua pemuda bule kini melewati jalan lengang itu. Salah satunya memanggul kamera TV. Langkah mereka penuh percaya diri.

Seorang prajurit bersenjata laras panjang, maju mendekat, sebelum dua pemuda itu dekat. Dari jarak jauh, lamat-lamat saya dengar: “We were both reporters, to ask permission to Talangsari.”

Prajurit menolak. Bule mendesak. Prajurit sampai berkali-kali katakan: “No… no…” sebab wartawan tetap mendesak. Maka, popor senjata dipukulkan ke pipi wartawan yang tidak bawa kamera. Plak...

Cukup keras. Tampak dari guncangan wajah wartawan. Hebatnya, si wartawan tidak mengalah. Mereka kini saling berpandangan. Wartawan itu berani juga. Mungkin ia (berbudaya Barat) tak menyangka bakal diperlakukan tidak manusiawi. Tentara tambah emosi.

Untung, wartawan berkamera menarik temannya. Mereka balik kanan, pergi sambil mengomel. Setelah kejadian itu, satu per satu wartawan lokal pergi meninggalkan lokasi, termasuk saya dan Wil. Tak ada gunanya lagi disitu.

Kami naik mobil angkutan umum, mendatangi blokade di dua titik yang lain. Situasinya sama, sangar, tak satu pun prajurit tersenyum. Malah di blokade timur, wajah prajurit coreng-moreng, tanda sedang berperang. Disini mungkin agak beda, sebab paling dekat dengan TKP, walau jaraknya masih sekitar 30 km.

Sampai 10.00 kami masih luntang-lantung. Wil usul, wawancara dengan Danrem (Komandan Resor Militer). Saya pesimis, sebab jika Panglima TNI sudah bicara di TVRI, tidak mungkin pejabat di bawahnya berani bicara. Zaman itu hierarki kompetensi sangat rapi. Beda dengan sekarang, semua pejabat ngomong seenaknya ke pers.

Tapi, siapa tahu. Daripada diam. Akhirnya kami datangi Makorem (Markas Komando Resor Militer) Garuda Hitam. Komandan saat itu Kolonel TNI Hendropriyono.

Hasilnya, wuuuuz… jangankan menemui komandan. Di pintu gerbang Makorem saja kami sudah ditolak. “Komandan tidak bicara pada pers,” ujar personil provost. Saya merasakan, kartu pers tidak berguna di situasi ini.

Pukul 10.30 sudah putus asa. Baru sadar, bahwa kami belum sarapan, juga kurang tidur. Lalu, kami makan di kedai dekat terminal. Wil menggerutu, “Andai tadi kita membawa sepeda motor, bisa masuk jalan hutan…. ”

Cerdik dia. Masuk jalan hutan. Tapi, mengapa harus motor kita? Saya timpali: “Ayo, kita cari sewa motor.” Willy bersemangat lagi. Bergegas kami menyelesaikan makan. Lalu mencari sewa motor di sekitar terminal.

Tak ada khusus persewaan motor. Kami berpencar, masing-masing mendekati siapa pun yang punya motor. Minta izin menyewanya. Namun tak satu pun yang mau melepas motornya. Minta tolong diantar ke Talangsari lewat hutan? Apalagi, siapa pun takut.

Namun, upaya itu ada hikmahnya. Inilah hikmah upaya. Seorang pemuda mendekati saya. “Ayo, abang saya antar ke Talangsari,” ujarnya. Mungkin dia sudah mengamati kami mondar-mandir mencari sewa motor. Saya kaget sekaligus gembira. “Naik apa?” Dia menunjuk angkot warna biru. “Itu,” ujarnya.

Saya: “Mana bisa? Semua jalan diblokade.” Dia tegas, “Lewat hutan. Saya tahu rute.”

Sopir itu minta honor 400 ribu. Saya-Wil berunding, menawar 300. Tak banyak cing-cong dia oke. “Ayo, naik bang,” ujarnya. Saya di depan, Wil di belakang.

Saat mobil melaju, saya bertanya ke sopir: “Kamu kok berani?” Dia tersenyum, “Saya akan menikah nggak punya duit, Bang.” Namanya Tarno, orang tuanya transmigran dari Tegal, Jawa Tengah. (bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.