Catatan Liputan Tragedi Talangsari (1)


Perang antara GPK (kelompok separatis) melawan prajurit TNI di Talangsari, Lampung, pada 1989 mengejutkan bangsa kita. Saya dalam kapasitas sebagai wartawan Jawa Pos (JP), ditugaskan Pak Dahlan (Pemred JP) meliput beritanya. Inilah catatan behind the news tragedi berdarah itu.
----------------------------



Kamis, 7 Feb 1989, pukul 21.00 Kantor Redaksi JP Jakarta, Jl. Prapanca, dalam puncak kesibukan. Deadline sebentar lagi ditutup. Semua wartawan berpacu, mengetik berita. Mendadak kesibukan dibelah suara TV yang volumenya diputar kencang. Acaranya: Dunia Dalam Berita TVRI. Panglima ABRI Jenderal TNI Try Soetrisno berseragam lengkap, tampil bicara.

Redaktur Pelaksana Nani Wijaya: “Rakyat.... Hentikan pekerjaan sejenak, perhatikan ini.” Maka, semua wartawan menghentikan kegiatannya, maju mendekati televisi besar di tengah ruangan. Pada era  itu, semua berita terkait Presiden Soeharto dan ABRI adalah berita sangat penting. Tampilnya Jenderal Try, pasti ada yang penting.

Jenderal Try: “Saudara-saudara sebangsa, hari ini telah terjadi kerusuhan kecil di Talangsari, Lampung. Sekelompok GPK melakukan perlawanan terhadap prajurit TNI yang sedang melaksanakan tugas,” Jenderal Try menghela napas.

“Dalam kontak senjata, putera terbaik bangsa, Komandan Rayon Militer Way Jepara, Kapten TNI Soetiman, gugur di medan tugas. Ia terkena panah beracun pihak GPK. Dua prajurit TNI lainnya terluka parah. Dari pihak GPK dilaporkan, enam tewas. Situasi di lokasi kejadian kini aman di bawah kendali prajurit TNI,” tutur Try.


Gambling Tanpa Hadiah
Usai menyimak berita, para wartawan kembali ke mejanya. Tenggelam melanjutkan ketikan yang belum selesai. Volume TV dikecilkan lagi, suasana hening. Saya tahu, mereka cepat kembali ke meja masing-masing, bukan semata-mata deadline. Mereka khawatir ditugaskan ke Talangsari.

Sebagai wartawan, mestinya kami merasa tertantang dengan tugas meliput apa pun, apalagi perang. Namun, logika mayoritas kawan saya saat itu terbalik. Tugas katagori sulit cenderung dihindari.

Penyebab: Jika wartawan gagal, pelan-pelan karirnya habis. Sebaliknya bila sukses, tak ada imbalan. Hanya kebanggaan pribadi, dan tetap bertahan menjadi wartawan JP. Nani sering mengatakan, memang begitulah yang harus dilakukan wartawan. Namun, orang normal manakah yang mau gambling tanpa imbalan? Lebih baik menulis berita yang tak berisiko gagal.

Nani sedang bicara serius di telepon. Pasti dia sedang koordinasi dengan Pemimpin Redaksi, Pak Dahlan, di kantor pusat Surabaya. Sebab, gaya bicaranya diselingi kata: “Baik, pak…” atau, “Siap, pak…” sambil sesekali mencatat.

Saya hampir menyelesaikan ketikan berita kedua, melakukan trik. Berita yang sudah hampir jadi, saya hapus lagi separonya. Lalu saya ketik lagi. Tujuannya mengulur waktu. Seolah-olah masih sibuk.

Nani berjalan keliling, mengamati layar monitor masing-masing wartawan. Semua mengkeret. Semua tampak serius, terbenam di balik monitor PC masing-masing. Tiba di dekat saya, Nani berhenti. “Dwo (inisial nama saya) wartawan yang tepat  ke Talangsari. Gaya penulisan human interes dia paling bagus,” katanya.

Saya menoleh ke Nani. “Setelah ini saya masih punya satu berita bagus lagi, Bu,” kata saya. Nani lantas mendekati monitor saya, membaca tulisan. Hanya beberapa detik, “Ah.... ini berita nggak penting. Tadi kamu sudah setor satu berita, sudah cukup. Sekarang, tinggalkan semua pekerjaanmu. Berangkat cepat ke Talangsari....”

Sekilas, saya lihat teman-teman tersenyum, tapi tetap serius mengetik. Wajah-wajah mereka sudah tidak tegang seperti tadi. Sedangkan saya, tidak mungkin lagi menghindar. Menolak tugas, bisa langsung tamat. Berarti sekarang saya dipaksa ikut gambling palsu. Gambling tanpa hadiah.

Ratusan kali sudah saya alami situasi ini, dengan skala tingkat kesulitan yang variatif. Sebab, posisi tugas saya floating (tanpa pos instansi). Setiap saya dimasukkan dalam “Gambling Tanpa Hadiah” selalu saja saya gemetar, walaupun saya sudah berpengalaman. Kondisi medan liputan floating selalu berbeda, baik situasi dan kondisi maupun tingkat kesulitannya.

Kadang, timbul keinginan untuk keluar dari posisi ini. Caranya, harus menjadi redaktur. Namun, itu tergantung atasan saya. Juga, perasaan ini yang membuat saya bertahan: Setiap kali saya masuk ke "Gambling Tanpa Hadiah", selalu gemetar, tapi asyik. Takut tapi selalu ketagihan. Untung, saya tak pernah gagal. Kalau gagal, saya sudah dipindah ke divisi iklan atau pemasaran. Malah ada beberapa kawan saya yang dipaksa resign. Itu peraturan tak tertulis. tidak fair.

Nani lantas keluar ruangan. Ia masuk ke ruang redaksi surat kabar Suara Indonesia (SI) koran anak perusahaan JP. Kantornya di bagian belakang. Tak lama, ia keluar diikuti Willy Aplasi (wartawan SI), pemuda tinggi kurus.

“Willy, kamu tanya dwo, apa yang terjadi di Talangsari,” kata Nani sambil menunjuk saya. Willy yang kebetulan tadi tidak menonton TV, bertanya macam-macam, saya jelaskan macam-macam.

Saat saya-Wil diskusi, Nani mengacungkan segepok uang. “Uang saya Rp 300 ribu (kurs saat itu USD 1/Rp 1.800, jadi sekitar USD 166,6). Siapa punya 500 ribu lagi? saya pinjam dulu,” ujarnya sambil berkeliling. Tak ada yang menyahut, tak ada yang menoleh. Itu bukan jumlah sedikit. Gaji saya saat itu Rp 260 ribu sebulan. Tak ada wartawan yang mengantongi sejumlah itu kemana-mana.

“Tolong.... kalau ada uang di rumah, cepat ambil. Besok saya kembalikan,” katanya, mulai berteriak.

Ternyata ada yang menyahut. “Saya ada,” ujar Kar, memecah bisu. “Hebat..... Kar malam ini pahlawan kita,” ujar Nani tepuk tangan, menghampiri Kar, menyalaminya. Kar wartawan JP berkumis tebal.

Lalu Nani mendekati saya dan Wil. “Kalian saya beri masing-masing  400 ribu ke Talangsari. Jangan lupa, semua kuitansi pembayaran harus ada. Sementara, ini  300 ribu untuk dwo. Sisanya, juga bagian untuk Wil, ikut ke rumah Kar,” katanya sambil menyerahkan uang ke saya.   

Lalu wanita itu mencatat serentetan tugas di selembar kertas. “Ini untuk dwo. Wil, ikuti saja dwo. Kau belajar menulis dari dia,” perintahnya sambil menyerahkan kertas ke saya.

Wil dan saya sebaya, baik usia maupun karir jurnalistik. Tapi karena saya wartawan JP (holding company)  dan Wil SI, sehingga perlakuan tugasnya dibedakan.


Pejuang, Selimut Kemiskinan
Pukul 21.30 saya, Wil, dan Kar, menghidupkan motor masing-masing, meninggalkan kantor. Agar cepat, kami berpencar pulang. Saya saat itu kontrak rumah di sebuah gang sempit di belakang Taman Majam Pahlawan Kalibata. Willy di lokasi kumuh dekat kantor. Kar tidak pulang ke Depok, tapi ke rumah orang tuanya di Menteng Pulo.

Rencananya, Kar akan mendatangi rumah saya untuk menyerahkan uang, lalu saya mendatangi Wil menyerahkan uang sekaligus kami berangkat.

Tak sampai setengah jam saya di rumah, Kar sudah muncul. Begitu dia masuk ruang tamu, dia geleng-geleng. “Masya Allah... salut aku ke kamu dwo,” ujarnya sambil duduk di lantai beralas plastik, bergambar keramik warna hijau. Tak ada meja-kursi.

Saya tak tahu, apa maksud dia salut. Mungkin salut pada kemiskinan saya. Dia lalu – ini brengseknya – menyingkap plastik lantai. Tampaklah tanah merah. Kering, retak-retak. Dia cepat menutupnya lagi.

Isteri saya (alm) keluar membawa nampan berisi segelas teh untuk Kar dan segelas  kopi untuk saya. Isteri saya dan Kar berkenalan, lalu isteri masuk kamar. Kepada saya, Kar menyerahkan uang. “Ini uang 500 ribu pesanan Ibu Nani tadi. Aku nggak lama-lama, dwo. Biar kamu cepat berangkat,” ujarnya setelah minum teh.

Kar pamit, menyalami isteri saya, “Yang sabar jadi isteri wartawan, Mbak. Saya dan dwo sudah lima tahun berjuang di JP, tapi kami masih begini,” katanya. Lalu motornya menghilang di tikungan gang sempit, dekat kandang kambing.

Gara-gara ucapan Kar tadi, isteri saya kelihatan murung. Dua tahun kami menikah (akan segera punya anak), cukup bagi saya menganalisis isi hatinya dari raut wajahnya. Saya tahu dia sedih. Tapi bagaimana menghiburnya? “Kamu ingin saya belikan apa, sayang?” tanya saya.

Dia diam. Saya hibur. “Jangan sedih. Yang penting kita saling mencintai.”

Dia menjawab: “Aku sama sekali gak sedih, Mas. Aku sedang membayangkan, bagaimana Mas pagi nanti masuk ke sisa-sisa kelompok Warsidi,” katanya. Dia nonton Dunia Dalam Berita, jadi tahu persoalan.

Saya: “Ya... sudah. Tenang saja, aku sudah punya cara.”

Di luar dugaan, dia usul: “Mas harus cari masjid kelompok mereka. Lalu shalat Jumat bersama mereka.”

Wuiih... hebat juga dia, sekaligus mengingatkan saya shalat Jumat. “Ide yang bagus, sayang. Kamu anaknya prajurit Marinir yang hebat. Bapakmu pasti bangga ke kamu, begitu juga aku,” kata saya sambil mencium keningnya. Saya berangkat dengan hati mantap.

Rumah Wil ternyata sama parahnya dengan tempat saya. Sama-sama ruang tamu tanpa meja kursi, tanah merah, ditutup plastik. Bedanya, pembatas ruang tamu dengan kamar tidur di rumah saya adalah dinding batako, di rumah Wil adalah gorden kumal warna kuning.

Jadi, rumah Wil berupa ruangan memanjang ke samping. Saya tak tega bertanya, dimana dapur dan kamar mandi. Saya serahkan 400 ribu sambil bertanya, “Berapa gajimu, Wil?” Dia jawab, hampir 140 ribu.

“Kita ini pejuang, dwo. Jangan pikirkan gaji,” katanya. Saya mengangguk, menghormati pendapatnya. Tapi ucapan dia kontradiktif dengan gayanya ketika mencabut Rp 400 ribu dari tangan saya. Cara dia menerima uang dari saya, begitu cepat. Lalu dengan pandangan nanar, dia menghitung lembar demi lembar. Bau uang baru membuat hidungnya mekar-kempis. Bagai kucing ketemu ikan asin.

Saya menyela, “Tapi, kalau pejuang digaji terlalu kecil bisa mati melet, sebelum maju bertempur,” sanggah saya. Dia tertawa terbahak karena istilah “mati melet” itu. Lalu dia mengakhiri, “Ya, sudah... yang penting sekarang kita pegang duit banyak. Kita makan yang enak,” ujarnya.

Kian jelas, dia menghibur kemiskinan dengan selimut perjuangan. Agar tidak terlalu nelangsa, dia pompakan semangat bahwa dirinya pejuang. Lalu morfin pejuang itu dia coba tularkan ke saya. Tentu, perspektif saya beda: “Gambling Tanpa Hadiah”.

Namun, tak perlu menjelaskan ini ke dia. Biarlah, toh dia terhibur dengan candu perjuangan.
                                                            ****

Malam hitam pekat. Sama persis dengan jaket kulit kami berdua. Motor Wil Honda CB merah, motor saya Suzuki A 100 tanki hijau, meluncur meninggalkan rumah Wil.

Selepas Jalan Daan Mogot, Grogol, lalu-lintas sepi. Kendaraan dari arah Jakarta hanya motor kami. Dari arah sebaliknya, kebanyakan truk. Wil melaju kencang di depan. Speedometer saya posisi 80, Wil sudah jauh di depan. Saya kurangi jadi 60 – 70 sebab jalanan gelap dan berlubang.

Kemudian Wil mengikuti irama saya, 60 – 70 km/jam. Tak sampai sejam setengah, kami tiba di Pelabuhan Merak. Tapi, sekitar 3 km menjelang tiba tadi, ban belakang Wil bocor. Motor dipaksa juga melaju sekitar 30 km/jam. Tiba di kawasan pelabuhan, lewat 01.00, kami singgah di kedai kopi, sekaligus menitipkan dua motor disitu.

Situasi pelabuhan berbeda dari biasanya. Tentara berseragam, lengkap dengan senjata laras panjang, ada dimana-mana. Setelah beli tiket, hendak masuk kapal, tas kami diperiksa tentara. Dengan senter, isi tas saya diaduk. Kamera besar dalam tas, dikeluarkan petugas

“Buat apa ini?” tanyanya. Saya jawab sambil menunjukkan kartu pers, “Saya wartawan ditugaskan ke Lampung, Pak.”

Setelah meneliti kartu pers, dia berubah lunak. “Lampung sudah aman, Mas. Tidak ada berita bagus disana,” ujarnya sambil tersenyum. Wil juga diperiksa. Setelah petugas tahu bahwa kami wartawan, mereka ramah. (bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.