Wartawan Tak Selalu Meliput Berita Keren

Jelang perayaan Hari Kemerdekaan seperti kini, ingat waktu aku masih liputan berita dulu. Kira-kira awal Agustus 1986. Aku wartawan Jawa Pos (JP) Surabaya, ngepos di RSUD Dr Soetomo.
-----------------------


RS terbesar di Indonesia timur itu akan menggelar upacara peringatan Hari Kemerdekaan. Gedungnya dicat putih, semua sudut dibersihkan, rumput lapangan dipangkas rapi. Pokoknya berbenah bersih-bersih.
Tapi, ada satu yang menggelisahkan pihak RS: Banyak kucing. Ribuan kucing liar, kucing garong, berkeliaran disana. Masuk ke ruang-ruang rawat inap, ruang pemeriksaan, ruang administrasi. Bahkan di koridor depan ruang operasi pun ada kucing.
Sedangkan, banyak keluarga pasien yang biasa menunggu dan menginap disana. Mereka tidur sembarangan. Ada yang di bangku, di lantai beralas koran di dalam ruang rawat inap, juga di koridor antar gedung.
Repotnya, keluarga pasien ini suka membuang sampah sembarangan. Sisa makanan dibuangnya begitu saja di rerumputan. Inilah yang membuat kucing-kucing senang. Malah banyak orang sengaja memberi makan kucing dengan menyisakan sedikit makanan. Kasihan, pikir mereka.
Jadinya, kucing liar berkembang biak dengan pesat disana. Mengusir kucing, tidak mungkin. Membunuhnya, apalagi. Bisa diprotes orang se-Surabaya. Jadinya, pengelola RS pusing memikirkan kucing.
Suatu siang, saya disapa:
“Mas, mau bantu kami memandulkan kucing?” tanya seorang lelaki, staf Humas RSUD Dr Soetomo (saya lupa namanya) kepadaku. Aku kenal dia, sebab sehari-hari aku, terkait tugas-tugasku, sering nongkrong di Humas.
“Bagaimana caranya?”
“Disuntik. Tapi… saya kira nggak usahlah… ” ujarnya seperti meralat ucapan pertama.
Ucapan dia yang ragu itu malah membuat saya penasaran. Saya tanyakan lebih detil. Dia menjelaskan.
Ternyata begini: Direksi RS merasa terusik dengan banyaknya keluhan pasien, bahwa RS itu banyak kucingnya. Pasien merasa risih.
Memang, asal ada pintu terbuka sejenak, pasti kucing masuk. Ruang rawat inap mulai dari kelas bangsal sampai VIP, dimasuki kucing. Perintah direksi: Habisi kucing.
Ini berita unik, pikirku. Aku yang semula mengabaikan, jadi semangat memburu beritanya:
“Saya mau bantu. Besok jam berapa, mas?” tanya saya ke petugas Humas.
Dia jadi semakin ragu. “Nggak usahlah…” ujarnya.
Saya paham, dia sedang menganalisis dampak, jika kegiatan itu diberitakan. Maklum, dia orang Humas. Lalu saya jelaskan, dampak berita itu tidak buruk bagi pihak RS. Kecuali jika ribuan kucing itu dibunuh.
“Kalau dimandulkan, bagus. Penyayang binatang pun tidak akan marah,” rayu saya. "Kalau ini diberitakan, justru citra RS ini bagus."
Rupanya dia terpengaruh. Dia memandang mata saya yang penuh keyakinan. Akhirnya:
“Besok pagi jam 5,” katanya.
“Siap... Tapi, jangan katakan ini kepada wartawan lain.”
Dia heran, “Mengapa?”
Saya jelaskan, harus diliput wartawan terpercaya. Peristiwa begini bisa diplintir wartawan menjadi berita yang menyudutkan pihak RS, jika wartawannya tak terpercaya.
Mata dia kelihatan kaget. Tapi saya tambahi: “Sedangkan kita, kan friend.” Dia manggut-manggut. Mantap. Atau mungkin, setengah mantap setengah takut.
Langit di timur masih kelabu. Hari belum genap pukul 05.00. Puluhan staf RS berbaris di lapangan bagian belakang, dekat Kamar Jenazah.
Aku tiba ketika barisan baru saja dibentuk. Aku langsung masuk ke barisan paling belakang. Gak enak, sebab aku sendiri yang tidak seragam.
Para Satpam yang berbaris, tahu aku wartawan JP. Mereka kenal aku. Lantas, salah seorang dari mereka menghampiri, meminta aku tidak ikut baris.
Setelah kusebut bahwa aku direkomendasi Humas sebagai relawan kegiatan ini, dia diam. Lalu membolehkan aku tetap di barisan.
Acara dimulai. Barisan disiapkan.
Seorang wanita berjubah dokter, berdiri menghadap ke arah barisan. Dia dokter hewan dari Kebon Binatang Surabaya. Dialah pemimpin tim ini.
Dia jelaskan ringkas cara injeksi ke pantat kucing. Injeksi berisi zat kimia Irginine. Zat ini gunanya memandulkan kucing.
Dia jelaskan, jika zat itu masuk ke tubuh kucing jantan, kucing tetap sehat. Tapi, sepekan kemudian mandul. Si jantan tetap bisa ereksi. Juga bisa penetrasi. Namun tidak ejakulasi.
Tak dijelaskan, apakah si jantan bisa menikmati orgasme atau tidak. Juga, tidak ada yang tanya soal ini. Saya juga enggan. Sebab, penjelasan dokter itu saja sudah menimbulkan heboh cekikikan, terutama para cewek.
Di lapangan tentu sulit membedakan kucing jantan dan betina. Perintahnya, hajar saja semua kucing. Andai kena betina, tak menimbulkan efek apa-apa bagi kucing.
“Ada pertanyaan?” tanya pemimpin. Tetap tak ada yang berani tanya soal orgasme.
“Jika tak ada pertanyaan, ayo kita laksanakan….” perintahnya.
Barisan pun bubar.
SI GARONG COLONG PLAYU
Pasukan Pemburu Kucing segera mengambil senjata di pojok lapangan. Senjata berupa injeksi, kain penutup hidung, dan aneka gorengan ikan. Ada ikan asin, teri, pindang, juga tulang ayam goreng.
Nah... saat mengambil injeksi, aku lakukan hati-hati. Ngeri…
Ternyata semua lelaki juga bertindak sama. Kulirik, mereka hati-hati sekali memegang suntikan yang sudah berisi zat Irginine.
Melihat pasukan terlalu hati-hati, cewek dokter hewan pemimpin tim itu ketawa.
“Bapak-2, Mas-2, jangan takut tergores suntikannya. Irginine dalam dosis sangat kecil tidak berefek apa-apa bagi manusia,” katanya. Semua ketawa.
Sial, pagi itu sepi kucing. Tampak dua ekor ndeprok (setengah duduk setengah tidur) di dekat tiang koridor.
Satpam maju. Diberi pindang, dua kucing makan dengan lahap. Rupanya mereka langsung sarapan, padahal aku belum blas.
Ketika disergap Satpam, satu tertangkap, satunya kabur. Lalu, cresss… kucing disuntik. Kucing kaget dan menjerit.
Setelah selesai, kucing menggeliat, mengibas-kibaskan badannya. Lalu lari menjauhi Satpam.
Puluhan orang bersorak bertepuk tangan, menyambut sukses pertama. Satpamnya berdiri, membuka penutup hidung, lalu bicara: “Gampang, kok…’’ Tepuk tangan bertalu-talu.
Kami lalu berpencar memburu kucing. Aku mengincar seekor di dekat bak sampah. Badannya kurus warna kuning pucat. Kulempar pindang, langsung diterkam.
Ternyata pindang digondol, dibawa lari. Kukejar, dia tunggang-langgang. Jiangkrik… si Garong colong playu. Siapa bilang gampang?
Ada lagi yang baru keluar dari ruang pasien. Badannya gembul, abu-abu blirik-blirik putih. Matanya galak, gerakannya trengginas. Kali ini harus dengan taktik.
Aku jongkok, dia mendelik (melotot) menghentikan langkah. Ikan teri kutebar pelan-pelan. Pusss…. Pusss…. Dia datang, juga pelan-pelan.
Dengan mata waspada dia makan teri. Kuelus kepalanya dia mengelak. Kayak jual-mahal gitu.
Tak menunggu lama, dia kuringkus. Kena. Menggeletak di lantai. Berontak, tapi kucengkeram sekuatnya. Empat kakinya aku satukan dengan dua tangan. Tapi, kepalanya ngranggeh, berusaha menggapai tanganku. Langsung lehernya kuinjak untuk menahan.
Saat jarum masuk, dia berontak. Injeksi kutekan pol, sampai obat habis. Eee... salah satu kakinya terlepas dari cengkeraman. Lalu: Cresss…kali ini tangan kiriku kena cakar.
Reflek, kucing terlepas. Untung injeksi sudah kucabut. Jika tidak, kasihan dia. Tapi tanganku beset, berdarah.
Sekitar dua jam tim bergerak, lalu berumpul lagi di lapangan. Ternyata lebih dari separo pasukan, tangannya berdarah dicakar kucing. Kini giliran para perawat maju, mengobati anggota pasukan yang terluka. hahaha... ada unit Palang Merah.
Jelang acara ditutup, semua anggota pasukan diberi amplop. “Mohon ini diterima. Sekedarnya dari kami,” kata cewek yang memberi saya amplop. Saya terima. Saya jadi wartawan kucing sekaligus wartawan amplop.
Siangnya dievaluasi. Tak sampai 50 ekor kucing disuntik. Gerakan itu dinilai tidak efisien. Selain jumlah kucing yang disuntik terlalu sedikit, juga korbannya berdarah-darah.
Sepekan kemudian dilakukan gerakan yang benar-benar ekstrem. Gerakan itu kemudian menghebohkan masyarakat Surabaya. (bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.