NOVEL 728 HARI (3) Eva Bukan Penderita Lupus, Tapi...


“Jangan sebut saya penderita Lupus, Pak. Saya tidak suka itu,” kata Eva Meliana padaku di Februari 2012. Aku kaget campur bingung. Sebab, saat berkenalan beberapa waktu sebelumnya, dia katakan sakit Lupus.
-------------------------
Aku tak berani mendebat. Khawatir menyinggung perasaan dia. Sebagai wartawan, aku bergaul dengan banyak orang, banyak karakter. Dan aku memahami jika Eva sensitif terhadap penyakitnya. Aku empati, ikut merasakan penderitaan dia.
Lalu kami ngobrol topik lain yang bukan penyakit. Suasana kembali cair. Diselingi humor. Tapi, obrolan kami itu sudah disepakati bersama, sebagai wawancara penulisan buku. Nah, bagaimana mungkin wawancara tak bicara penyakit?
Ya, sudah. Karena aku bingung dan tak berani mendebat, maka kuanggap kesepakatan batal. Tapi, tidak juga kukatakan langsung: Batal. Kami ngobrol aja kemana-mana. Bicara tentang Dahlanis, gerombolan pengagum Dahlan Iskan (saat itu Menteri BUMN). Dia baru bergabung ke Dahlanis pada 12 Februari 2012. Atau beberapa hari sebelum wawancara itu dimulai.
Lama-lama dia merasa, bahwa aku tidak intens wawancara, melainkan ngobrol. Lantas dia menegaskan:
“Jadi gimana, Pak? Katanya, Bapak tertarik menulis buku tentang hidup saya?”
“Ya... Saya tertarik. Saya yakin kisah hidupmu bermanfaat bagi orang lain.”
“Trus, mana kok gak wawancara?”
“Lho... gimana, sih? Eva keberatan saya sebut penderita Lupus. Saya jadi tak berkutik.”
Eva terdiam. Dia perlu beberapa detik mencerna kalimatku. Kemudian dia tersenyum, sambil berkata:
“Kita salah paham. Saya memang tidak suka disebut penderita Lupus. Saya ini penyandang Lupus.”
“Apa bedanya?”
“Kata ‘penderita’ membuat jiwa saya jadi merasa menderita. Sedangkan kata ‘penyandang’, beda. Saya penyandang Lupus, tapi saya tidak merasa menderita.”
Giliran aku, perlu beberapa detik menganalisis kalimat dia. Kini kutahu, Eva pandai mengelola stress. Dia pandai mengantisipasi hal-hal yang mungkin bisa membuat dirinya stress.
Kata, memang bisa menyihir jiwa. Kata “penderita” bisa menginfiltrasi jiwa Eva jadi lemah. Orang sehat pun, jika dalam waktu pendek berturut-turut bertemu lima orang dan semuanya mengatakan: “Kayaknya wajahmu pucat... Kamu sakit, ya?” Maka, pertahanan jiwa si sehat bisa goyah. Dia bisa tersihir: Merasa sakit. Akhirnya, dia benar-benar jatuh sakit.
“Saya menghargai pendapatmu, Eva. Saya tidak menyangka, kamu sejeli itu. Mulai sekarang, saya tidak lagi gunakan kata PENDERITA.”
Kami berdua tertawa. Wawancara baru saja akan dimulai, setelah sekitar sejam kami ngobrol tak tentu topik. (bersambung)

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.