NOVEL 728 HARI (2) Debat Penulis versus Temannya

“Menulis cerita orang sakit, berarti Anda mengeksploitir kesedihan orang,” kata temanku, suatu hari. Aku tersentak. Kujawab: “Tergantung niat dan sudut pandang penulis. Niatku, ceritanya menginspirasi orang.”
-------------------------
“Apa pun niatnya, Anda sudah memanfaatkan si orang sakit untuk kepentingan karya Anda,” kata temanku.
Waduuuh... aku disodok, nih. Aku pun bertahan:
“Orang sakit yang kutulis ini punya semangat hidup luar biasa, lho. Kecintaannya pada ibunda menyadarkan kita semua. Dan, itu menginspirasi.”
Tak kuduga, dia tetap menyerangku dengan sengit:
“Aku ngerti maksudmu, Bro... Karena dia sakit-lah, maka Anda jadikan dia obyek karya Anda.”
Aku terdiam. Susah juga debat di topik ini. Aku tetap harus bertahan:
“Coba-lah Bos... Banyak orang sehat tidak bersyukur. Dia tidak mau menyadari bahwa kesehatannya karunia Allah yang maha-dahsyat. Dia menganggap kesehatannya memang semestinya begitu. Maka, tidak ada perjuangan. Tidak menginspirasi untuk ditulis.”
Ternyata dia tampil lebih galak lagi:
“Hahaha... Persoalannya, Anda menulis orang sakit untuk tujuan komersial. Kalo Anda berniat baik, bukunya di-gratis-kan. Disebarkan ke masjid-masjid, gereja, pura, kelenteng. Ini Anda menjual kesedihan orang, Man...”
Alamaaak... sodokan sudah berubah jadi tusukan gini. Lemas-lah aku. Tapi, aku tak mau menyerah. Pantang mundur:
“Gini, Bos... Kalo penerbitnya disumbang pemerintah mesin cetak, disubsidi tinta untuk cetak buku, Anda sumbang dia mobil untuk distribusi buku, itulah hebat. Trus, anak-anakku sekolah-kuliah gratis, karena semua ilmu milik Tuhan. Warteg-warteg menyilakan aku makan gratis, sebab padi dan ikan milik Tuhan. Aku bebas menghuni rumah mana pun, sebab bumi ini milik Tuhan, maka aku dan -mungkin- penerbit akan menggratiskan bukunya.”
Kini dia diam. Sejenak kemudian dia komentar:
“Ternyata Anda agresif juga, ya... Saya serang Anda dengan tuduhan komersil, Anda balik menyerang, minta saya nyumbang mobil. Hahaha...”
“Bukan gitu, Bos... Ketika kita berkarya, kita fokus pada kualitas karya dan manfaatnya bagi orang lain. Kita tidak perlu memikirkan uangnya. Sebab, karya otomatis menghasilkan uang. Seperti petani mengurus sawahnya, seperti pemilik warteg memasak nasinya.”
Begitulah sekilas perdebatanku dengan teman, di awal menulis novel ini. Memang, almarhumah Eva menderita sakit Lupus. Penderitaannya menggumpal jadi spirit perjuangan hidup.
Spirit-nya itulah yang mengalir di novel ini. Tentu saja, lengkap dengan deskripsi jalan hidupnya. Spirit-nya bermanfaat bagi Pembaca. Gitu sih, pikirku. Gimana pikirmu, pren? (bersambung)

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.