NOVEL 728 HARI (1) Beda Novel dengan Berita


Menulis novel butuh teliti. Menulis novel berbasis kisah nyata, butuh ekstra teliti. Salah sedikit bisa membuat orang marah. Bahkan bisa jadi delik hukum. Sebab, semua tokoh cerita, dan action mereka, adalah nyata.
------------------------


Beda dengan pengalaman saya menulis berita selama ini. Ini bedanya:
Jumlah halaman berita paling banyak empat (font huruf 12, spasi 1). Diperiksa banyak orang, berlapis-lapis. Mulai dari self editing Reporter, editing Redaktur, diperiksa Redaktur Pelaksana, terakhir Pemimpin Redaksi.
Novel yang kutulis ini sekitar 315 halaman buku. Penulis aku, editor aku, penyelaras akhir juga aku. Membuat coretan-coretan peta cerita di white board sampai penuh. White board ditambah lagi, sebab tulisan di white board lama tak boleh dihapus. Rumit amat.
Dari segi topik, satu berita hanya satu topik. Sedangkan novel, menuliskan sejarah hidup manusia sejak kecil sampai mati.
Ketika pelaku novel true story diwawancarai, juga tidak semua moment bisa diingat jernih. Menyangkut waktu dan detil kejadian yang dia alami. Sebagian bersifat kira-kira.
Kalau kisah nyata kira-kira, bisa bahaya. Biasa salah dan fatal. Maka, penulis melakukan riset untuk menegakkan kejadian-kejadian yang diceritakan. Dalam penulisan berita, ini disebut konfirmasi. Dalam berita, konfirmasi hanya satu-dua pihak. Di novel banyak pihak.
Sekarang dari segi hasil finansial:
Jadi wartawan penulis berita gajinya fix, tetap, sebulan kini sekitar Rp 4 juta. Penulis novel berdasarkan royalty. Besarnya 10 % dari harga buku. Harga novel sekitar Rp 60.000, penulisnya dapat Rp 6.000 per buku laku.
Kalau novel laku 1.000 eksemplar (sudah bagus, nih) dalam lima bulan, maka royalty Rp 6 juta untuk waktu lima bulan. Itu pun pembayarannya di tiap akhir semester tahun berjalan. Maka, pantas jumlah penulis novel tak sebanyak wartawan.
Pantas juga, novel asing bertebaran di toko buku kita. Sebaliknya, sangat-sangat sedikit novel kita versi English yang mejeng di toko-toko buku mancanegara. Kita selalu kalah. Harus kita lawan.
Aku penasaran. Kalau tidak dicoba, aku tak pernah tahu, bagaimana rasanya jadi penulis novel. Kini aku sudah mencoba. Langsung ke novel berbasis kisah nyata, bukan fiksi.
Kisah hidup penyandang penyakit Lupus, Eva Meliana Santi. Sedari dia kanak-kanak sampai meninggal dunia.
Novelnya sudah jadi. Sudah kuserahkan ke penerbit. Sekarang sedang diproses penerbit.
Mohon doa restu kawan semua. Kudoakan Anda semua, semoga sukses di bidang masing-masing. Aamiin... (bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.